BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tata cara yang baik merupakan moral yang
minor. Apabila kita gagal mengajarkan kebiasaan menghormati dan
mempertimbangkan setiap hari ini kepada anak-anak kita, maka kita tidak akan
mempersiapkan mereka untuk menjadi orang yang disukai dan kompeten secara
sosial. Ketika masyarakat pada umumnya gagal mengajarkan tata cara yang baik
bagi anak-anak muda, hal tersebut memperparah hubungan manusia dan memberikan
jalan bagi pelanggaran berat terhadap peradaban yang bahkan jauh lebih umum.
Salah satu contohnya mengenai kenakalan yang terjadi antar teman sebaya, hal
ini menjadi masalah yang serius sampai saat ini. Maka dari itu diperlukan
pendidikan karakter untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan tata
cara yang baik tersebut.
Karakter adalah kepemilikan akan “hal-hal
yang baik”. Sebagai orang tua dan pendidik, tugas kita adalah mengajar
anak-anak dan karakter adalah apa yang termuat di dalam pengajaran kita. Pendidikan
karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga
sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan
tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan
kamil.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan tata
cara yang baik?
2.
Apa saja hal yang dapat
dilakukan di kelas dan sekolah guna mengembalikan tata cara yang baik?
3.
Bagaimana cara mencegah
kenakalan teman sebaya dan mengedepankan kebaikan?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian
tata cara yang baik.
2.
Untuk mengetahui apa saja hal
yang dapat dilakukan di kelas dan sekolah guna mengembalikan tata cara yang
baik.
3.
Untuk mengetahui cara mencegah
kenakalan teman sebaya dan mengedepankan kebaikan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Mengajarkan Tata Cara yang Baik
1.
Pengertian Tata Cara yang Baik
Tata cara yang baik merupakan moral yang
minor. Tata cara yang baik ini adalah cara kita menghormati orang lain dan
memfasilitasi hubungan sosial setiap harinya. Semuanya ini membentuk jaringan
moral dalam kehidupan bersama kita.
Mengatakan tolong ketika meminta sesuatu,
mengucapkan terima kasih kepada orang lain (pelayan dan juru tulis, misalnya)
ketika mereka melayani kita, menahan pintu tetap terbuka untuk orang yang ada
di belakang kita, tidak berbicara di gedung bioskop, mematikan telepon selular
kita ketika berada dalam kelompok, menutup mulut kita ketika menguap atau
batuk, menggunakan bahasa yang tidak menghina, kesemuanya ini merupakan cara
yang sepele namun bermakna untuk mencoba membuat kehidupan kita menjadi sedikit
menyenangkan bagi orang lain di sekitar kita.
Apabila kita gagal mengajarkan kebiasaan
menghormati dan mempertimbangkan setiap hari ini kepada anak-anak kita, maka
kita tidak akan mempersiapkan mereka untuk menjadi orang yang disukai dan
kompeten secara sosial. Ketika masyarakat pada umumnya gagal mengajarkan tata
cara yang baik bagi anak-anak muda, hal tersebut memperparah hubungan manusia
dan memberikan jalan bagi pelanggaran berat terhadap peradaban yang bahkan jauh
lebih umum. Salah satu contoh mengenai hal yang kedua bahwa para direktur
pemakaman dan polisi, khususnya di daerah metropolitan, semakin sering melaporkan
keributan yang tidak menghargai prosesi pemakaman. Salah seorang direktur
pemakaman di Virginia mengatakan bahwa para pengendara secara teratur memotong
jalan kereta jenazahnya dan seringkali memberikan bahasa tubuh yang tidak
senonoh ketika mereka berlalu.
2.
Hal yang dapat Dilakukan di Kelas dan Sekolah Guna Mengembalikan
Tata Cara yang Baik
Beberapa hal yang dapat kita lakukan di
kelas dan sekolah guna mengembalikan kebiasaan tindakan beradab yang dikenal
sebagai tata cara yang baik :
1)
Buatlah Anak-Anak Berpikir
Mengapa Tata Cara yang Baik Itu Penting
Menurut pengalaman Hal Urban, Beliau
mengemukakan dua poin berikut ini: “Dalam pengalaman saya, sebagian besar orang
mampu menunjukkan rasa hormat ketika mereka tahu jelas apa yang diharapkan dari
mereka. Lebih jauh lagi, ruang kelas merupakan suatu tempat yang lebih positif
ketika setiap orang memperlakukan orang lainnya dengan rasa hormat dan
pertimbangan.”
Beliau kemudian membagaikan sebuah
handout yang berjudul, “apa sajakah yang terjadi dengan tata cara yang baik?”
Diatasnya terdapat kutipan dari George Benard Shaw : “tanpa tata cara yang
baik, masayarakat manusi akan menjadi tidak memiliki toleransi.” Dibawahnya,
dibawah tajuk “Bagaimana Banyak Hal Sebelumnya itu Berbeda dalam Beberapa Tahun
yang Lalu,” terdapat sepuluh perubahan yang telah beliau lihat dalam tatcara
para siswanya selama lebih dari dua puluh tahun mengajar. Beliau berjalan
kedalam kelasnya melakukan pengamatan atas hal ini, yang mengikutsertakan:
·
Para siswa jarang datang
terlambat ke kelas. Ketika mereka terlambat, mereka akan meinta maat atas
keterlambatannya. Hari ini banyak yang datang terlambat.hanya saja, jarang ada
yang meminta maaf atas keterlambatannya.
·
Para siswa tidak bangun,
berjalan ketempat sampah, dan berjalan kembali ketempat duduknya ketika guru
yang bersangkutan sedang berbicara. Sekarang hal ini sudah sering dilakukan,
dan tidak ada yang merasa bersalah.
·
Para siswa terbiasa
mendengarkan ketika guru yang bersangkutan sedang berbicara. Sekarang banyak
siswa merasa kalau mereka berhak mengabaikan gurunya dan berbicara sendiri
dengan teman-temannya.
·
Para siswa tidak mengucapkan
sumpah serapah dikelas atau dilorong sekolah. Sekarang beberapa orang siswa
siswa tidak dapat berbicara tanpa mengucapkan sumpah serapah.
·
Para siswa terbiasa mengatakan
“tolong’ dan “terimah kasih” sekarang hanya sedikit siswa mengatakan kedua hal
tersebut.
Dibawah daftar
observasi ini terdapat enam buah pertanyaan :
·
Mengapa hal ini terjadi?
·
Apakah menjadi lebih baik
ketika orang-orang saling memperlakukan satusama lain dengan rasa hormat?
apabila demikian, mengapa?
·
Apakah suatu kelas menjadi
lebih baik ketika baik siswa maupun guru saling menunnjukan rasa hormat satu
sama lain?
·
Mengapa Hendry Rogers
mengatakan, “Tata cara yang baik merupakan salah satu kunci utama bagi
keberhasila dalam hidup ini?”
·
Apakah yang dimaksud dengan
“aturan emas”? jika aturan ini sangat sederhana, mengapa banyak sekali orang
yang kesulitan mempratikkannya sekarang ini?
·
Mana lebih yang mengesankan
banyak orang-menjadi “cool’ atau menjadi orang yang penuh rasa hormat?
Beliau mengawalinya secara positif dengan menyatakan keyakinan bahwa
sebagian besar orang mampu menunjukkan rasa hormat jika mereka tahu dengan
jelas apa yang diharapkan.
Beliau melibatkan para siswa secara aktif, beliau merekrut dan
menghargai mereka sebagian pemikir dengan mencari input dari mereka.
Beliau berhasil dalam membawa semua siswanya untuk berpikir tentang
permasalahan ini. Sampai ini dengan mengemukakan pertanyaan yang baik dan
meminta mereka menuliskan jawabannya tanpa disertai nama. Keadaan tanpa ini
memberikan kebebasan untuk menjadi tidak diketahui tentang pentingnya tulisan
ini. Urban berkata demikian, “Apabila saya menginginkan pemikiran dan
pembahasan yang berkualitas saya hampir selalu meminta para siswa menulis
terlebih dahulu. Menulis membuat setiap orang terlibat. Saya memperoleh jawaban
yang jauh lebih banyak dari pada jika hanya saya mengemukakan pertanyaan
tersebut kepada seluruh kelompok, dimana hanya sedikit kasus saja yang dibawah
para siswa didepan kelas.”
Pendidikan karakter tidak mengeliminasi sifat dasar manusia.
Kemudian pada saat-saat pengajaran-saat-saat yang tidak dapat dihindari ketika
para siswa kehilangan harapan-lebih bermanfaat, karena terdapat standar tata
cara yang dibentuk untuk dijadikan acuan dan terdapat komitmen bersama untuk
menghormati standar tersebut.
2)
Mengajarkan Aturan Halo-Sampai
Jumpa
Di seluruh Negara, para guru mengatakan
bahwa banyak siswa sekarang ini tidak membalas ucapan orang dewasa. “Anda
mengatakan halo pada seseorang anak di lorong”, ujar salah seorang guru sekolah
dasar, “dan mereka tidak membalasnya”.
Ketika kalian masuk ke dalam ruangan
seseorang, wajar untuk menghormati orang tersebut dengan menyapanya. Kalian
harus melakukan hal yang sama dengan orang tua kalian setiap kali kalian masuk
ke rumah. Dan ketika kalian meninggalkan ruangan seseorang, kalian harus selalu
mengucapkan selamat tinggal. Itu semua hanya perbuatan sopan yang harus kalian
lakukan. Di samping itu, ketika ada 24 orang dari kalian yang berjalan melalui
pintu itu dan berkata, “Halo Pak Robinson”, itu membuatku lebih senang.
3)
Mengajarkan Tata Cara yang Baik
dengan Menggunakan Alfabet
Susan Skinner mengajar pada taman
kanak-kanak di Heathwood Episcopal School di Columbia, Carolina Selatan. Beliau
memiliki papan bulletin yang menunjukkan tata cara berbeda untuk masing-masing
huruf dalam setiap alfabet. Ketika beliau mengajarkan satu huruf dalam alfabet
tersebut selama satu minggu, beliau mengajarkan tata cara yang berhubungan pada
saat yang sama.
A.
Accept a compliment graciously, yang
artinya “Terimalah pujian dengan senang hati.”
B.
Be on time, yang artinya “Datanglah
tepat waktu.”
C.
Clean your hands, yang artinya
“Bersihkanlah tanganmu.”
D.
Do chew with your mouth closed, yang
artinya “Mengunyahlah dengan mulut tertutup.”
E.
Elbow off the table, yang artinya “Tidak
ada siku di atas meja.”
F.
Friendliness to other, yang artinya
“Bersahabatlah dengan anak-anak lainnya”.
G.
Good grooming shows sel-respect,yang artinya
“Kerapian menunjukkan rasa hormat terhadap diri sendiri”.
H.
Hang Up your clothes,yang artinya
“Gantunglah Pakaianmu”.
I.
Interrupt only for a very important reason,artinya “Hanya boleh menyela dengan alasan yang sangat penting”.
J.
Join in and include everybody,yang
artinya “Bergabunglah dan ajaklah semua orang”.
K.
Kindness to all living things,yang
artinya “Tunjukkanlah kebaikan kepada semua makhluk hidup”.
L.
Lend a Helping hand,yang artinya
“Berikanlah bantuan kepada orang lain”.
M.
Magic words: “Please” and “thank
you”, yang artinya “Kata ajaib: “tolong” dan
“terima kasih”.
N.
Never point or laugh at others,yang
artinya “Jangan pernah menuding atau menertawakan orang lain”.
O.
Obey the rules,yang artinya “patuhilah
aturan”
P.
Pleasant tone of voice is a plus,yang
artinya “Nada suara yang menyenangkan adalah nilai tambah”.
Q.
Quiet when others are working or sleeping,yang artinya “Tenanglah saat anak-anak lain sedang bekerja atau
beristirahat”.
R.
Remember others on special occasion yang
artinya “Ingatlah orang lain saaat ada acara khusus.”
S.
Sit up straight, yang artinya “Duduklah
dengan tegak.”
T.
Thank the host or hostess, yang artinya
“Berterimakasihlah kepada tuan rumah.”
U.
Use your beautiful smile, yang artinya
“Gunakanlah senyuman manismu.”
V.
Visit a friend who is lonely or sick, yang
artinya “Mengunjungi teman yang sedang kesepian atau sakit.”
W.
Watch out for little ones, yang artinya
“Perhatikanlah yang lebih kecil.”
X.
“X” out
bad habits, yang artinya “Hilangkanlah kebiasaan burukmu.”
Y.
Yawn if you must but cover your mouth,
yang artinya “Menguaplah jika kau harus menguap, tapi tutuplah mulutmu”.
Z.
Zip your zipper, yang artinya
“Kancingkanlah risletingmu.”
4)
Implementasikan Kurikulum Tata
Cara
Mengimplementasikan suatu kurikulum
formal tentang tata cara merupakan suatu cara untuk menjamin bahwa semua siswa
di suatu sekolah, bukan hanya siswa-siswa yang berada dalam kelas guru
tertentu, memperoleh instruksi dalam rasa hormat yang mendasar.
Jill Rigby ialah seorang ibu pendidik
yang tertarik untuk menciptakan suatu kurikulum semacam itu. Beliau
mengembangkan pelajarannya yang menjadi panduan kurikulum K-5 yang berjudul Manners of the Heart. Kurikulum sekolah
ini memiliki tiga bagian: (1) rasa hormat setiap hari (seperti tersenyum,
mengucapkan tolong dan terima kasih, bermain menurut aturan, dan mengatakan Aku
minta maaf), (2) keahlian berkomunikasi (seperti memperkenalkan seseorang, tata
cara bertelepon, dan menuliskan ucapan terima kasih); dan (3) tata cara jamuan
(seperti meminta sesuatu untuk diberikan, sikap tubuh, pembicaraan ketika sedang
mengikuti jamuan, dan tata cara untuk menyantap jamuan).
Ketika anak-anak kita berperilaku dengan
tata cara yang baik,mereka akan menimbulkan suatu respon positif dari orang
lain. Mereka akan merasa lebih bahagia dengan diri mereka sendiri lebih aman, percaya
diri, dan tenang, ketika mereka tahu bagaimana harus berperilaku. Mereka akan
lebih mungkin mengajarkan tata cara kepada anak-anak mereka sendiri suatu hari
nanti apabila mereka menjadi orang tua. Dengan perilaku hormat, mereka dapat
membantu menciptakan masyarakat yang lebih tenggang rasa, lebih ramah, dan
lebih beradab. Semuanya ini merupakan alasan yang baik untuk membuat pengajaran
tata cara sebagai bagian dari setiap program pendidikan karakter.
B.
Mencegah Kenakalan Teman Sebaya dan Mengedepankan Kebaikan
“Pengaruh moral sekolah yang paling
kuat,” menurut seorang psikolog dan pendidik karakter Marvin Berkowitz, “adalah
cara orang saling memperlakukan satu sama lain.” Di kebanyakan sekolah,
sebagian besar orang dewasa sedang berusaha dengan teliti untuk memperlakukan
para siswanya dengan kasih dan rasa hormat. Namun dalam sekolah yang sama itu,
bahkan sekolah-sekolah yang pura-pura berkomitmen terhadap pendidikan karakter,
anak-anaknya seringkali berlaku sangat jahat satu sama lain.
Ketika kenakalan anak sebaya tidak
diketahui, hal ini menjadi masalah yang sangat serius dengan banyak alasan.
Sekolah tersebut sedang mengirimkan pesan bahwa hukum rimba berlaku di sana.
Atmosfer yang mengancam ini bercampur dengan pembelajaran; para siswa tidak
akan fokus pada pekerjaan sekolah, jika mereka khawatir akan ditusuk di kelas,
dilecehkan di lorong sekolah, dilempari batu waktu istirahat, dsb. Bagi
anak-anak yang selalu menjadi korban pelecehan oleh teman-teman sebaya mereka,
pergi ke sekolah merupakan pengalaman yang menyedihkan.
Beberapa siswa yang mengalami penyiksaan
ini benar-benar ingin melaksanakan hasrat balas dendam mereka. Pada tahun 2000
sebuah penelitian tentang penembakan di sekolah yang dilakukan oleh U.S Secret
Service mendapati bahwa dua-pertiga pelaku penembakan tersebut telah merasa
dianiaya, dijahili, diancam, diserang, atau dilukai oleh orang lain.
Kenakalan teman sebaya tentu saja selalu
ada bersama kita, namun riset menunjukkan bahwa hal ini mengalami peningkatan.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, masalah tersebut telah tercermin di dalam
perkembangan program anti-intimidasi. Jauh lebih luas dari intimidasi klasik
(anak yang lebih kuat menakali korban yang lebih lemah) adalah kenakalan
emosional setiap hari.
Sekolah tidak memiliki kewajiban moral
yang lebih tinggi bagi para siswa dan orang tuanya selain melakukan segala
sesuatu yang mereka mampu untuk mencegah kenakalan teman sebaya dan menciptakan
kebudayaan berbuat baik dan saling menghormati. Tidak ada ukuran efektif yang
lebih penting bagi program pendidikan karakter selain perkembangannya terhadap
sasaran ini.
1.
Awali dengan Disiplin Berbasis Karakter
Strategi pertama dalam mencegah kenakalan
teman sebaya adalah disiplin berbasis karakter. Seluruh strategi disiplin yang
membantu anak-anak mengembangkan rasa hormat terhadap aturan dan hak-hak orang
lain akan membantu menahan tindakan intimidasi.
Suatu bagian penting atau esensial dari
disiplin berbasis karakter adalah penegakan yan mempertahankan akuntabilitas
para siswa terhadap aturan melalui konsekuensi yang adil dan tegas. Misalnya
sebuah kontrak dapat menyatakan, “Saya tidak akan memukul atau menyakiti orang
lain. Jika saya melakukannya, saya akan memanggil orang tua saya dan melaporkan
apa yang saya lakukan.”
2.
Ciptakan Komunitas Sekolah yang Peduli
Strategi yang kedua sudah pasti adalah
penciptaan komunitas sekolah yang peduli di mana semua siswa memiliki pemahaman
terhadap rasa aman dan menjadi bagian dari komunitas tersebut.
Semakin kuat komunitas suatu sekolah,
semakin mungkin para siswa menunjukkan hasil sikap dan karakter positif berikut
ini.
1)
Semakin menyukai sekolah.
2)
Tidak lagi begitu merasa
kesepian di sekolah.
3)
Memiliki empati yang lebih
besar terhadap perasaan orang lain.
4)
Memiliki motivasi yang lebih
kuat untuk menjadi orang yang baik dan membantu.
5)
Lebih cerdas di dalam keahlian
memecahkan masalah.
6)
Memiliki lebih banyak perilaku
rendah hati.
7)
Memiliki harga diri akademik
yang lebih tinggi.
8)
Memiliki perasaan yang lebih
kuat terhadap kompetensi sosial.
9)
Memiliki perilaku pelanggaran
yang lebih sedikit.
10)
Lebih sedikit tembakau,
alkohol, dan mariyuana.
Sekolah-sekolah
yang mencari cara untuk memperkuat pemahamannya terhadap komunitas harus
mempertibangkan pemakaian suatu survei untuk memperoleh data dasar di awal
usahanya dan kemudian mengulangi survey ini belakangan guna menilai
perkembangannya.
3.
Implementasikan suatu Program Anti-Intimidasi yang Efektif
Sekolah-sekolah yang mengikuti startegi
ini harus cermat memilih program yang berdasarkan bukti. Dalam suatu
penelitian, sekolah-sekolah yang menciptakan program anti-intiidasinya sendiri
daripada menggunakan pendekatan yang sudah terbukti mengalami 35% peningkatan
dalam perilaku intimidasi.
Mungkin pendekatan efektif yang paling
dikenal adalah Olweus Bullying Prevention
Program (Program Pencegahan Intimidasi Olweus) yang dirancang oleh psikolog
Norwegia bernama Dan Olweus. Diimplementasikan selama lebih dari dua puluh
tahun di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Norwegia, program ini
telah : (1) mereduksi intimidasi hingga 50% atau lebih; (2) mereduksi secara
signifikan perilaku antisosial umum seperti vandalism, berkelahi, dan mencuri;
dan (3) meningkatkan iklim kelas dan kepuasan para siswa terhadap kehidupan
sekolah.
Setelah digunakan sekarang ini dalam
sejumlah sekolah di Amerika Serikat yang sedang berkembang, Olweus Bullying Prevention Program memiliki
empat komponen utama.
1)
Prasyarat Umum: kesadaran dan keterlibatan orang dewasa
2)
Ukuran Sekolah
·
Administrasi kuesioner korban
tanpa nama
·
Pembentukan bullying prevention
committe (komite anti-intimidasi)
·
Pelatihan staf dan pemberian
waktu bagi diskusi kelompok staf bersinambungan
·
Supervisi efektif selama waktu
istirahat dan jam pelajaran
3)
Ukuran Kelas
·
Aturan kelas dan sekolah yang
jelas tentang intimidasi
·
Rapat kelas teratur
·
Bertemu dengan orang tua para
siswa
4)
Ukuran Individual
·
Pertemuan invidual dengan para
siswa yang melakukan gangguan
·
Pertemuan individual dengan
para korban
·
Pertemuan dengan para orang tua
dari siswa-siswa yang terlibat
·
Pengembangan perencanaan
intervensi individual
4.
Mintalah Para Siswa untuk Bertanggung Jawab Menghentikan Kenakalan
di Antara Teman Sebaya
Pengganggu memperoleh kekuasaan ketika
ada toleransi bagi perilaku mereka. Kira-kkira 85% intimidasi terjadi dengan
disaksikan para siswa lainnya. Mereka yang melihat kejadian ini seringkali
mengamati secara pasif atau membiarkan permasalahan tersebut dengan menikmati
intimidasi tersebut atau bahkan ikut melakukannya.
Sebuah penelitian di Kanada mendapati
bahwa meskipun jika seseorang berbicara untuk menentang insiden intimidasi,
para pelakunya biasanya berhenti dalam waktu 10 detik. Tantangan kami sebagai
pendidik adalah menciptakan suatu kebudayaan sekolah yang di dalamnya sebagian
besar siswa berkeyakinan bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk menghentikan
kenakalan apapun yang mereka temukan.
Beberapa sekolah telah meraih
keberhasilan di dalam mendorong intervensi teman sebaya dengan merekrut tim
anti-intimidasi yang terdiri dari para masing-masing jenjang kelas. Tim ini
kemudian bekerja sama dengan seorang guru atau konselor untuk melakukan brainstrom dan melaksankan
strategi-strategi guna mereduksi kenakalan temansebaya. Para anggota tim
kemudian melangkah masuk atas nama para korban.
Tujuan dari kegiatan role-play adalah untuk menunjukkan bagaimana anak-anak yang berada
di tengah-tengah memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dinamika kelompok dengan
cara yang positif.
5.
Membangun Komunitas Kelas
Strategi sentral dalam mencegah kenakalan
teman sebaya adalah menciptakan suatu pemahaman komunitas yang kuat di dalam
setiap kelas.
Hal ini diawali dengan membantu para
siswa memahami bagaimana keadaan kelas mereka. seperti undian tempat duduk,
mengubah tempat duduk anak-anak secara teratur itu semua merupakan cara yang
sederhana untuk melakukannya.
Marty Katminski, seorang guru kelas empat
di Ithaca, New York, menggambarkan bagaimana cara beliau menggunakan ritual
“pertemuan pagi hari” untuk menciptakan dan mempengaruhi rasa komunitas di
dalam kelasnya. Pertemuan Pagi Hari atau Morning Meeting, sebuah publikasi dari
Responsive Classroom (www.responsiveclasssroom.org), merupakan
sumber yang kaya akan ritual pemberian ucapan dan berbagai aktivitas lainnya
untuk masa awal sekolah sperti ini.
6.
Mengedepankan Pertemanan
Sebagaimana yang ditunjukkan oleh
psikolog bernama Michael Thompson, para siswa dapat menangani kenakalan sosial
dengan lebih baik jika mereka memiliki seorang teman. Bagaimanapun juga,
kira-kira 20% anak-anak beresiko tidak memiliki seorang teman. Oleh karena itu
para guru yang bijak sengaja mengambil langkah untuk mengedepankan pertemanan
dalam kelas mereka.
7.
Lakukan “Pujian Tanpa Nama”
Mark Twain pernah berkata “aku dapat
hidup selama dua bulan dengan suatu pujian yang manis.” Rick Mansfield, seorang
guru kelas 5 di New York, menyimpan pujian yang mengalir dalam ruang kelas
melalui aktivitas “Pujian Tanpa Nama (Anonymous Compliment)” yang beliau
lakukan.
1)
Masing-masing siswa menari nama
seorang teman dari dalam mangkuk.
2)
Sebelum akhir minggu, masing-masing
siswa menuliskan satu pujian tentang teman yang bersangkutan dalam selembar
kertas, menunjukkannya kepada guru yang bersangkutan, dan dengan persetujuan
guru tersebut, menaruhnya dalam kotak pujian.
3)
Pada hari jum’at, guru yang
bersangkutan memuat pujiantersebut di papan buletin di samping nama anggota
kelas
Mansflied
melaporkan, “aktivitas ini hampir tidak memakan waktu namun sungguh-sungguh
menciptakan suatu iklim kelas yang positif. Dan karena pujian tersebut tidak
bernama - setiap orang di dalam kelas dapat saja menuliskannya – terdapat
perasaan nyaman yang dihasilkan terhadap teman-teman satu kelas.
8.
Implementasikan Pembelajaran Kooperatif Berkualitas
Pembelajaran kooperatif mengharuskan para
siswa bekerja sama dengan dua, tiga, atau empat orang temannya dalam satu tugas
yang memerlukanpembelajran saling tergantung (masing-masing siswa memiliki satu
pekerjaan untuk dilakukan) dan akuntabilitas individual (masing-masing siswa
harus menunjukkan penguasaan materi dengan melakukan tes atau mengumpulkan
sebuah makalah atau proyek). Puluhan siswa menunjukkan bahawa pembelajaran
kooperatif memberikan konstribusi terhadap prestasi akademis maupun
perkembangan karakter, termasuk penentuan perspektif, keahlian tim, apresiasi
perbedaan, dan integrasi seluruh siswa ke dalam komunitas kelas.
Namun demikian, guna memperoleh
keuntungan ini, pembelajaran kooperatif harus dirancang dengan baik.
Pembelajaran kooperatif mengharuskan guru dan para siswa mengidentifikasi
perilaku-perilaku yang menghadirkan kooperatif efektif dan terus menerus menilai dan memonitor bagaimana efektifnya
pasangan kelompok bekerjasama. Misalnya, Betty House dan para siswa kelas
limanya di Ithaca, New York, mengembangkan daftar untuk memandu pembelajaran
kooperatif ini.
Kita Bekerja Sama dengan Sangat Baik Ketika …
·
Kita saling membantu satu sama
lain dan tidak berkelahi
·
Kita semua bersikap baik satu
sma lain dan tidak ada yang saling meremehkan
·
Kita mendukung satu sama lain
·
Kita berkomunikasi dan membagi
ide kita
·
Setiap orang memiliki pekerjaan
untuk dilakukan
·
Setiap orang berkonstribusi dan
merasa diikutsertakan
·
Kita mendengarkan semua ide dan
bergiliran membagikannya
·
Kita tidak mengeluh
·
Saya merasa dihormati
Para
siswa paling mungkin berkembang dalam keahlian kooperatif mereka kalau guru
yang bersangkutan mangkaji daftar semacam ini sebelum melakukan setiap
aktivitas kooperatif dan kemudian meminta para siswa setelah melakukan
aktivitas ini menggunakan daftar tersebut untuk mengevaluasi sebera baik mereka
bekerjasama.
9.
Mengajarkan Empati Melalui Literatur Anak-Anak
Kenakalan teman sebaya terutama terhadap
anak-anak yang “berbeda” hampir selalu mencerminkan kuarangnya empati.
Literatur anak-anak yang melukiskan kenakalan dan penderitaan yang
disebabkannya merupakan sarana yang berharga untuk mengajarkan empati.
Banyak buku anak-anak yang dapat
digunakan untuk mengedepankan penentuan perspektif, rasa hormat, dan kebaikan.
10.
Buatlah Anak-Anak Mengajari Teman-Teman Sebaya Mereka
Di dalam mengembangkan empati, tidak ada
pengganti bagi pengalaman tatap muka. Pengalaman pertama secra khusus beharga
didalam membantu anak-anak memahami dan mendukung teman-teman sekolah mereka
yang memiliki kekurangan.
Kathleen scanlon merupakan seorang
perawat disekolah dasar frederick leighton, oswego, new york. Beliau membantu
anak-anak dengan kekurangan berbicara dengan teman-teman mereka dan bagaimana
mereka mengatasinya:
Dengan
adanya orang tua yang hadir, saya akan bertemu dengan anak yang hadir dan
bertanya demikian, “Apa yang ingin kau ceritakan keseluruh kelas? Bagaimana kau akan menceritakannya?
mengapa kau tidak menceritakan? “
salah seorang siswa kelas empat yang mengalami spina bifida dan tidak ingin
menceritakan kalau dia dipasangi kateter karena kesulitan mengendalikan kantong
kencingnya (bladder). Seorang siswa kelas empat yang mengidap epilepsi
khawatir kalau suatu anak-anak akan melihatnya mengalami serangan dan tidak
ingin membicarakan tentang hal tersebut. Meminta anak menjadi bagian dari
rencana adalah kuncinya.kadang-kadang mereka memutuskan untuk membacakan
sesuatu di depan kelas tentang kekurangan mereka atau menceritakan kisah
pribadi. Kadang-kadang mereka akan melakukan sebagian presentasi, dan saya akan
menyelesaikan bagian lainnya.
Saya mendapati beberapa siswa datang
kembali kepada saya ketika mereka sudah dibangku seolah menengah pertama dan
sekolah menengah atas dan mengucapkan terimah kasih kepada saya atas kesempatan
untuk melakukan hal ini dan karena menanyakan kepada mereka bagaimana mereka
akan melakukannya.
11.
Gunakan Tujuh E untuk Mengajarkan Kepedulian
Ada tujuh E dalam pengajaran sikap baik apapun :
1)
Explain it yang artinya “jelaskanlah”
dengan mendefinisikan, mengilustrasikan, dan membahas pentingnya sikap
tersebut.
2)
Examine it yang artinya “telitilah”, di
dalam literatur, sejarah, atau kejadian-kejadian belakangan ini.
3)
Exhibit it yang artinya “ tunjukanlah,”
melalui contoh pribadi.
4)
Expect it yang artinya “ harapkanlah,”
melalui kode , aturan, kontrak dan konsekuensi.
5)
Experience it yang arinya “alamiah ,”
dalam aktivitas dan hubungan
6)
Encourage it yang artinya “doronglah”
melalui penentuan sasaran, praktik sikap baik tersebut dan penilaian diri.
7)
Evaluate it yang artinya “evaluasilah,”
dengan memberikan para siswa masukan mengenai apa yang sedang mereka lakukan.
12.
Gunakan Kekuatan Ikrar
Sebuah ikrar, secara khusus apabila
diulangi setiap hari sebagai ritual kelas dapat membangun komunitas kelas dan
memperkuat komitmen kelas untuk melakukan hal yang benar.
“Ikrar keragaman anak-anak” (children’s
Diversity Pledge) merupakan contoh ikrar yang membantu para siswa menilai
perbedaan yang memperkaya komunitas manusia.
Ikrar ini mengajarkan bahwa kita semua harus mencoba menemukan kebaikan
didalam diri orang lain , sebagaimana halnya kita ingin orang lain menemukan
kebaikan dalam diri kita.
Ikrar
Keragaman Anak-Anak
·
Saya percaya bahwa semua anak
berbeda dan unik dalam cara mereka sendiri.
·
Saya percaya bahwa semua anak
layak dikasihi, diterima, dan dihormati atas dasar siapa diri mereka
sebenarnya.
·
Saya akan berusaha menjadi
teman yang baik, sehingga semua anak mereka diterima disekitar saya.
·
Saya tidak akan menghakimi
orang lain karena tempat tinggal mereka,
warna kulit mereka, cara berpakaian mereka, kemampuan mereka, keyakinan iman
mereka, atau jenis kelamin mereka.
·
Saya dapat dan saya akan
menemukan kebaikan dalam semua orang.
·
Saya tidak akan mendengarkan
atau menceritakan lelucon yang mengejek orang lain.
·
Saya akan menjadi pembawa
kedamaian didalam keluarga dan disekolah saya.
·
Saya akan menunjukkan
kebanggaan di dalam keluarga dan warisan saya.
·
Saya akan belajar sebisa
mungkin tentang tradisi keluarga anak-anak lain didalam sekolah.
13.
Buatlah Anak-anak Membuat Catatan Perbuatan Baik
Salah satu cara terbaik untuk menghalangi
perilaku negatif adalah mengembangkan kebiasaan positif yang merupakan kebalikan
psikologisnya. Sulit untuk berlaku jahat kepada orang lain, misalnya, jika ada
setiap hari meminta anak-anak menunjukkan tindakan yang baik.
Berkaca dengan pengetahuan tersebut, Sekolah
Khatolik Saint Rocco di Providence, Rhode Island, pemenang Bluee Ribbon Award
dari Departemen Pendidikan Amerika Serikat (The
U.S. Departement of Education) , meminta para siswa menyimpan “jurnal
harian perbuatan baik”. Setiap hari, para siswa menulis dalam jurnal mereka
satu perbuatan baik yang mereka lakukan sebelum berada disekolah, ketika berada
dirumah, atau ketika berada didalam komunitas.
Dalam semua subyek, para guru membuat
koneksi atau hubungan dengan tema perb uatan baik. Dalam bahasa seni, guru yang
bersangkutan mungkin memberi komentar pada perbuatan baik yang ditujukan oleh
seseorang tokoh dalam cerita ; dalam studi sosial, pada perbuatan baik yang
dilakukan seorang dalam berita yang bersangkutan. Para siswa mempelajari bahwa
perbuatan baik dapat berari segala hal yang berkontribusi terhadap kebahagiaan
orang lain, bahkan sesuatu yang sederhana seperti senyuman.
14.
Merayakan Kebaikan
Kami merayakan apa yang kami nilai. Kelas
dan sekolah yang peduli tentang kebaikan menemukan cara untuk mengenali dan
menghargai.
Misalnya, Donna Funk, seorang guru
pendidikan khusus di cortland, New york, memberikan masing-masing siswanya
halaman “ Look what I did today” (lihat apa yang aku lakukan hari ini). Untuk
mengenali tindakan positif, beliau memberikan stiker kepada anak-anak (berbentuk
kotak berukuran 1“ × 3”, masing-masing dengan grafik, yang beliau buat
dikomputernya dan beliau cetak dengan kertas label). Para siswa menaruh stiker
ini dihalaman mereka sehingga mereka
semua hal baik yang mereka lakukan diakhir ini . beberapa contoh stiker
tersebut berbunyi demikian: “Saya berbagi cerita dengan seseorang,” “Saya
memberikan pujian,” “Saya mendengarkan seseorang,” “Saya mendahulukan
seseorang,” “Saya mengatakan permisi,“ dan “Saya menjadi teman yang baik.” Funk
berkomentar demikian:
Sebagian
besar dari para siswa saya yang mengalami perkembangan terhambat datang kepada
saya dan tidak mampu berbicara positif tentang diri mereka sendiri. Ketika saya
akan bertanya tentang tindakan positif tertentu yang baru saja mereka
tunjukkan, mereka tipikalnya akan menjawab demikian, “Saya merasa nyaman.”
Stiker tersebut memberikan bahasa yang dapat mereka gunakan untuk
mengidentifikasi pencapaian khusus mereka.
15.
Mintalah Para Teman Sebaya Mengenali Teman-Teman Mereka
Ketika para siswa saling mengenali satu
sama lain karena karakter, kebaikan memiliki kesempatan yang lebih untuk
menjadi norma diantara teman sebaya yang di bandingkan dengan beberapa anak yang hanya berlaku demikian
guna menyenangkan orang dewasa.
Salah seorang guru kelas tiga seringkali
mengakhiri hari itu dengan pertemuan kelas selama dua sampai tiga menit yang
didalamnya beliau bertanya demikian, “Siapakah yang memiliki perkataan baik
untuk seseorang hari ini?” Di atas papan tulis beliau memiliki daftar sejumlah
perkataan karakter: baik, peduli, pekerja keras, tekun, jujur, dermawan, dan
seterusnya. Seorang siswa dapat berkata demikian, “Sara bersikap baik terhadap
aku ketika ia memberikan beberapa lembar kertas.” Atau, “Steve tekun untuk
memecahkan permasalahan matematika yang membuatnya pusing.”
Banyak sekolah melakukan usaha untuk
melibatkan para siswa dalam memperhatikan anak-anak lain dan orang dewasa yang
menunjukkan “tindakan berkarakter”. Para siswa menulis tindakan tersebut dan
nama orang yang melakukannya dalam formulir tercetak (ditempatkan di mana saja
di dalam gedung sekolah) dan menaruhnya ke dalam sebuah kotak. Sebagai bagian
dari pengumuman pagi hari, para siswa bergiliran menarik tiga atau enpat lembar
formulir dari kotak tersebut dan membaca apa yang dilakukan orang-orang
tersebut. Formulir yang tidak ditarik dikirimkan kepada para guru di kelas
sehingga mereka dapat menurunkannya kepada para siswa yang tindakan positifnya
dilaporkan.
16.
Gunakan Pertemuan Kelas untuk Membahas Intimidasi
Meskipun sekolah melakukan usaha proaktif
untuk mencegah kenakalan teman sebaya, beberapa orang anak masih akan terlibat
dalam perilaku yang menyakitkan dan akan memerlukan bantuan tambahan dalam
belajar bertindak secara prososial. Pertemuan kelas yang di dalamnya anak yang
melakukan penyerangan dapat mendengarkan teman-temannya berkata tentang
perilaku yang disukai dan tidak disukai seringkali lebih efektif daripada
koreksi guru sendiri.
17.
Membangun Ikatan Melalui Sahabat Kelas
Banyak sekolah mengembangkan sebuah
komunitas yang peduli dengan menggunakan “sahabat kelas” untuk menciptakan
hubungan yang bermanfaat antara anak-anak yang besar dengan anak-anak yang
kecil. Hubungan ini berkembang seiring berjalannya waktu ke arah pencapaian
kehidupan sekolah yang terasa seperti keluarga.
Misalnya, kelas lima bersahabat dengan
kelas tiga, kelas tiga dapat bersahabat dengan taman kanak-kanak, dan
seterusnya. Para siswa yang lebih tua membantu para sahabatnya yang lebih muda
dengan pekerjaan sekolah dan melakukan proyek khusus bersama. Kadang-kadang
anak-anak yang lebih tua membacakan cerita kepada anak-anak yang lebih muda dan
duduk dengan mereka selama pertemuan dewan.
Menurut kepala sekolah Bob Storrier, yang
memanfaatkan program ini secara ekstensif di Sekolah Dasar Enders Road di
Manlius, New York, “Hubungan ini memberikan anak-anak yang lebih tua semacam
pemahaman akan tanggung jawab dan anak-anak yang lebih muda semacam rasa aman.”
18.
Menciptakan “Keluarga Sekolah”
Sekolah Katolik K-8 Saint Rita di Dayton,
Ohio, telah mempraktikkan satu ide yang dipinjam dari sekolah negeri. Sekolah
ini mengelompokkan para siswanya dalam “keluarga,” satu orang anak dari
masing-masing kelas. Seorang siswa dan siswi dari kelas tujuh dan delapan
berperan sebagai “orang tua” dan tentu saja dipanggil “Ibu” dan “Ayah” oleh
anak-anak yang lebih muda.
Di awal tahun ajaran sekolah itu,
kelompok keluarga ini menghabiskan sebagian besar waktu tiga hari pertama
secara bersama-sama dalam kegiatan permainan dan dalam aktivitas-aktivitas
lainnya yang membangun ikatan. Selama seluruh tahun ajaran tersebut, kelompok
keluarga ini berkumpul bersama dalam cara regular (di sekolah negeri ini acara
tersebut dapat berupa pertemuan mingguan) dan dalam acara khusus seperti
liburan.
Kepala sekolah Mary Ann Eismann
menggambarkan hasil demikian:
Dalam
kegiatan ini, para siswa yang lebih tua mencoba untuk menjadi model peran yang
baik bagi siswa yang lebih muda. Secara
umum, para anggota yang lebih tua dari satu kelompok keluarga memperhatikan
para anggota yang lebih muda atau lebih kecil. Mereka membantu para anggota
yang lebih kecil tersebut memecahkan permasalahan. Mereka senang melihat para
anggota yang lebih kecil ini berada di aula atau di arena bermain. Mereka
bahagia ketika mereka melihat para anggota yang lebih kecil kembali setelah
tidak datang selama beberapa waktu. Tidak ada kegiatan di sekolah kami, yang
ada hanyalah atmosfer yang sangat tenang dan penuh kasih. Kami berpikiran bahwa
sebagian besar dari keadaan ini
disebabkan oleh pengelompokkan keluarga.
19.
Implementasikan Kelompok Penasihat
Di tingkat sekolah menengah, persahabatan
dan penerimaan lebih penting dari hal lain. Oleh karena itu, sangat penting
bagi sekolah-sekolah untuk memberikan struktur yang menjamin bahwa tidak
seorang pun siswa yang ditinggalkan.
Kelompok penasihat adalah salah satu cara
untuk memastikan setiap siswa memiliki markas atau home base. Para penasihat tipikalnya terdiri dari seorang penasihat
dan delapan hingga dua belas siswa. Beberapa penasihat bertemu setiap hari
sebelum sekolah dimulai atau selama makan siang; beberapa penasihat lainnya
bertemu dengan intensitas yang lebih sedikit. Ketua penasihat dapat
mengemukakan permasalahan di sekolah, menyampaikan berita baik, merencanakan
aktivitas kelompok (misalnya, sebuah karya wisata), membahas serial pendidikan
di TV yang ditonton mereka semua atau sebuah buku yang dibaca mereka semua,
atau membicarakan tentang kejadian-kejadian belakangan ini. Seorang penasihat
memberikan setiap siswa dua hal krusial bagi para remaja muda: kelompok teman
sebaya yang mendukung dan seorang dewasa yang tahu dan peduli tentang siswa
yang bersangkutan sebagai seorang individu.
Sebuah kelompok penasihat sekolah
menengah juga membantu para orang tua tetap terhubung dengan pihak sekolah
ketika keterlibatan sekolah dengan orang tua tipikalnya menurun. Penasihat ini
yang biasanya memiliki beberapa pertemuan terjadwal dengan orang tua selama
tahun ajaran sekolah yang bersangkutan, tersedia untuk pertemuan lainnya
sebagaimana diperlukan, mengirimkan kartu laporan ke rumah, dan secara umum
mengupdate informasi tentang
perkembangan akademik dan permasalahan apapun dari anak mereka bagi para orang
tua.
Beberapa sekolah menengah mencoba suatu
sistem kepenasihatan namun menghapuskannya ketika para staf atau para siswa
mengeluhkan kalau sistem tersebut tidak bekerja. Suatu solusi yang lebih baik
adalag melaksanakan sebuah survei terhadap para staf dan siswa, yang bertanya
demikian, “Apa yang Anda sukai tentang kepenasihatan, dan apa yang ingin Anda
ubah untuk membuatnya lebih baik?” Apabila beberapa sekolah menengah tidak
memiliki sesuatu seperti sistem kepenasihatan yang akan memenuhi kebutuhan
semua siswa akan penerimaan, maka banyak siswa akan mencari keintiman dan
identitas dalam geng, obat-obatan, atau seks premature. Para siswa lainnya akan
menderita kesepian yang menyakitkan.
20.
Menciptakan Bus Sekolah yang Aman dan Menghormati
Bagaimana sebuah sekolah dapat mendorong
perilaku yang menghormati dan bertanggung jawab di atas bus sekolah, yang bagi
banyak anak telah menjadi perjalanan teror?
Lynn Lisy-Macan menggambarkan bagaimana
caranya beliau menangani tantangan ini ketika beliau menjabat sebagai kepala sekolah
di Brookside Elementary School, Sekolah Karakter Nasional tahun 1998 di
Binghamton, New York:
Sebagai
tanggapan terhadap permasalahan bus yang meningkat, kami mengawali pertemuan
bus tiga kali dalam setahun guna membahas perilaku yang tepat di atas bus. Kami
menempatkan masing-masing kelompok bus di sebuah ruangan dalam sekolah .
pengemudi bus dan tiga orang staf lainnya bertemu dengan masing-masing
kelompok. Pada pertemuan pertama, kami melakukan aktivitas icebreaker pada
pasangan “sahabat bus,” anak-anak yang kemudian duduk bersama di atas bus
setiap hari. Hal ini menciptakan suatu pemahaman komunitas di atas bus.
Pada
pertemuan pertama kami melakukan brainstorm sebagai berikut: “Seperti apakah
tumpangan bus yang tampaknya aman dan saling menghormati?” “Seperti apakah
tumpangan bus yang tidak aman dan saling menghormati?” Para pengemudi berbicara
tentang aturan-aturan yang mereka miliki dan mengapa aturan-aturan tersebut
penting adanya. Pada akhirnya, kami membahas “Apa yang dapat kita lakukan masing-masing
untuk membantu menciptakan tumpangan bus yang aman dan saling menghormati?”
Kami
membuat bagan berdasarkan pada diskusi ini untuk dijadikan bahan acuan dalam
pertemuan berikutnya. Pertemuan yang kedua berlangsung sebelum musim dingin
berakhir, untuk membahas masalah keamanan sehubungan dengan cuaca yang dingin
dan untuk bertanya demikian, “Bagaimanakah keadaan kita di dalam menciptakan
tumpangan yang aman dan saling menghormati?” Apabila adalah permasalahan
perilaku apapun, kami mengemukakan pertanyaan tersebut.
Pertemuan
ketiga diadakan di musim semi guna melintasi penurunan di akhir tahun. Sebagai tambahan, seluruh bus kami memiliki
tanda yang memberitahukan kepada para siswa apa karakter dalam Kata Bulan ini,
bersama-sama dengan definisinya dan pengingat bahwa karakter itu juga penting
di atas bus.
“Permasalahan perilaku bus di sekolah
kami,” lapor Macan, “menurun secara signifikan”.
Kebudayaan teman sebaya merupakan guru
yang kuat. Apabila sekolah tidak mengambil langkah proaktif untuk membentuk
kebudayaan teman sebaya yang positif, maka hal yang terburuk dalam sifat dasar
manusia seringkali akan berlaku. Sebaliknya, ketika sekolah dengan rela hati
mengambil langkah untuk menciptakan komunitas yang peduli, maka para siswa
dapat mempelajari moralitas dengan menghidupinya. Dalam komunitas semacam itu,
sikap baik bukan merupakan perkataan di atas dinding melainkan merupakan
kenyataan emosional yang terasa di dalam dan kepedulian di tengah-tengah
kehidupan moralnya, sekolah memenuhi kebutuhan manusia yang paling mendalam
untuk dimiliki. Hal ini menjadi apa yang wajib dilakukan setiap sekolah: satu
tempat di mana rasa hormat dan kebaikan bersifat normative, di mana
pengecualian terhadap norma tersebut diperlakukan sebagai masalah yang serius,
dan di mana setiap siswa merasa dihargai, aman, dan berarti.
BAB III
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Tata cara yang baik ini adalah cara kita
menghormati orang lain dan memfasilitasi hubungan sosial setiap harinya.
Semuanya ini membentuk jaringan moral dalam kehidupan bersama kita.
Hal yang dapat dilakukan di kelas dan
sekolah guna mengembalikan tata cara yang baik yaitu: (1) Buatlah anak-anak
berpikir mengapa tata cara yang baik itu penting, (2) Mengajarkan aturan
halo-sampai jumpa, (3) Mengajarkan tata cara yang baik dengan menggunakan
alphabet, (4) Impelementasikan kurikulum tata cara.
Kenakalan anak sebaya menjadi masalah
yang sangat serius dengan banyak alasan. Sekolah tidak memiliki kewajiban moral
yang lebih tinggi bagi para siswa dan orang tuanya selain melakukan segala
sesuatu yang mereka mampu untuk mencegah kenakalan teman sebaya dan menciptakan
kebudayaan berbuat baik dan saling menghormati, contohnya: (1) awali dengan disiplin berbasis karakter,
(2) ciptakan komunitas sekolah yang peduli, (3) implementasikan suatu program
anti-intimidasi yang efektif, (4) mintalah para siswa untuk bertanggung jawab
menghentikan kenakalan di antara teman sebaya, (5) membangun komunitas kelas, (6)
mengedepankan pertemanan, (7) lakukan “pujian tanpa nama”, (8) implementasikan
pembelajaran kooperatif berkualitas, (9) mengajarkan empati melalui literatur
anak-anak, (10) buatlah anak-anak dengan kekurangan mengajari teman-teman
sebaya mereka, (11) gunakan tujuh e untuk mengajarkan kepedulian, (12) gunakan
kekuatan ikrar, (13) buatlah anak-anak membuat catatan perbuatan baik, (14) merayakan
kebaikan, (15) mintalah para teman sebaya mengenali teman-teman mereka ,(16) gunakan
pertemuan kelas untuk membahas intimidasi, (17) membangun ikatan melalui
sahabat kelas, (18) menciptakan “keluarga sekolah”, (19) implementasikan
kelompok penasihat, (20) menciptakan bus sekolah yang aman dan menghormati.
B.
Saran
Mengingat banyaknya kenakalan yang
terjadi antar teman sebaya dan anak yang berperilaku dengan tata cara yang
tidak baik, kita sebagai pendidik maupun calon pendidik harus mampu mengajarkan
dan menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik dengan sangat baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Lickona, Thomas. 2012. Character Matters (Persoalan Karakter). Jakarta:
Bumi Aksara.
No comments:
Post a Comment