Monday, 22 February 2016

Menecegah kenakalan teman sebaya dan mengedepankan kebaikan



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Tata cara yang baik merupakan moral yang minor. Apabila kita gagal mengajarkan kebiasaan menghormati dan mempertimbangkan setiap hari ini kepada anak-anak kita, maka kita tidak akan mempersiapkan mereka untuk menjadi orang yang disukai dan kompeten secara sosial. Ketika masyarakat pada umumnya gagal mengajarkan tata cara yang baik bagi anak-anak muda, hal tersebut memperparah hubungan manusia dan memberikan jalan bagi pelanggaran berat terhadap peradaban yang bahkan jauh lebih umum. Salah satu contohnya mengenai kenakalan yang terjadi antar teman sebaya, hal ini menjadi masalah yang serius sampai saat ini. Maka dari itu diperlukan pendidikan karakter untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan tata cara yang baik tersebut.
Karakter adalah kepemilikan akan “hal-hal yang baik”. Sebagai orang tua dan pendidik, tugas kita adalah mengajar anak-anak dan karakter adalah apa yang termuat di dalam pengajaran kita. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan kamil.

B.       Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan tata cara yang baik?
2.      Apa saja hal yang dapat dilakukan di kelas dan sekolah guna mengembalikan tata cara yang baik?
3.      Bagaimana cara mencegah kenakalan teman sebaya dan mengedepankan kebaikan?


C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian tata cara yang baik.
2.      Untuk mengetahui apa saja hal yang dapat dilakukan di kelas dan sekolah guna mengembalikan tata cara yang baik.
3.      Untuk mengetahui cara mencegah kenakalan teman sebaya dan mengedepankan kebaikan


























BAB II
PEMBAHASAN

A.      Mengajarkan Tata Cara yang Baik
1.        Pengertian Tata Cara yang Baik
Tata cara yang baik merupakan moral yang minor. Tata cara yang baik ini adalah cara kita menghormati orang lain dan memfasilitasi hubungan sosial setiap harinya. Semuanya ini membentuk jaringan moral dalam kehidupan bersama kita.
Mengatakan tolong ketika meminta sesuatu, mengucapkan terima kasih kepada orang lain (pelayan dan juru tulis, misalnya) ketika mereka melayani kita, menahan pintu tetap terbuka untuk orang yang ada di belakang kita, tidak berbicara di gedung bioskop, mematikan telepon selular kita ketika berada dalam kelompok, menutup mulut kita ketika menguap atau batuk, menggunakan bahasa yang tidak menghina, kesemuanya ini merupakan cara yang sepele namun bermakna untuk mencoba membuat kehidupan kita menjadi sedikit menyenangkan bagi orang lain di sekitar kita.
Apabila kita gagal mengajarkan kebiasaan menghormati dan mempertimbangkan setiap hari ini kepada anak-anak kita, maka kita tidak akan mempersiapkan mereka untuk menjadi orang yang disukai dan kompeten secara sosial. Ketika masyarakat pada umumnya gagal mengajarkan tata cara yang baik bagi anak-anak muda, hal tersebut memperparah hubungan manusia dan memberikan jalan bagi pelanggaran berat terhadap peradaban yang bahkan jauh lebih umum. Salah satu contoh mengenai hal yang kedua bahwa para direktur pemakaman dan polisi, khususnya di daerah metropolitan, semakin sering melaporkan keributan yang tidak menghargai prosesi pemakaman. Salah seorang direktur pemakaman di Virginia mengatakan bahwa para pengendara secara teratur memotong jalan kereta jenazahnya dan seringkali memberikan bahasa tubuh yang tidak senonoh ketika mereka berlalu.


2.        Hal yang dapat Dilakukan di Kelas dan Sekolah Guna Mengembalikan Tata Cara yang Baik
Beberapa hal yang dapat kita lakukan di kelas dan sekolah guna mengembalikan kebiasaan tindakan beradab yang dikenal sebagai tata cara yang baik :
1)        Buatlah Anak-Anak Berpikir Mengapa Tata Cara yang Baik Itu Penting
Menurut pengalaman Hal Urban, Beliau mengemukakan dua poin berikut ini: “Dalam pengalaman saya, sebagian besar orang mampu menunjukkan rasa hormat ketika mereka tahu jelas apa yang diharapkan dari mereka. Lebih jauh lagi, ruang kelas merupakan suatu tempat yang lebih positif ketika setiap orang memperlakukan orang lainnya dengan rasa hormat dan pertimbangan.”
Beliau kemudian membagaikan sebuah handout yang berjudul, “apa sajakah yang terjadi dengan tata cara yang baik?” Diatasnya terdapat kutipan dari George Benard Shaw : “tanpa tata cara yang baik, masayarakat manusi akan menjadi tidak memiliki toleransi.” Dibawahnya, dibawah tajuk “Bagaimana Banyak Hal Sebelumnya itu Berbeda dalam Beberapa Tahun yang Lalu,” terdapat sepuluh perubahan yang telah beliau lihat dalam tatcara para siswanya selama lebih dari dua puluh tahun mengajar. Beliau berjalan kedalam kelasnya melakukan pengamatan atas hal ini, yang mengikutsertakan:
·           Para siswa jarang datang terlambat ke kelas. Ketika mereka terlambat, mereka akan meinta maat atas keterlambatannya. Hari ini banyak yang datang terlambat.hanya saja, jarang ada yang meminta maaf atas keterlambatannya.
·           Para siswa tidak bangun, berjalan ketempat sampah, dan berjalan kembali ketempat duduknya ketika guru yang bersangkutan sedang berbicara. Sekarang hal ini sudah sering dilakukan, dan tidak ada yang merasa bersalah.
·           Para siswa terbiasa mendengarkan ketika guru yang bersangkutan sedang berbicara. Sekarang banyak siswa merasa kalau mereka berhak mengabaikan gurunya dan berbicara sendiri dengan teman-temannya.
·           Para siswa tidak mengucapkan sumpah serapah dikelas atau dilorong sekolah. Sekarang beberapa orang siswa siswa tidak dapat berbicara tanpa mengucapkan sumpah serapah.
·           Para siswa terbiasa mengatakan “tolong’ dan “terimah kasih” sekarang hanya sedikit siswa mengatakan kedua hal tersebut.
Dibawah daftar observasi ini terdapat enam buah pertanyaan :
·           Mengapa hal ini terjadi?
·           Apakah menjadi lebih baik ketika orang-orang saling memperlakukan satusama lain dengan rasa hormat? apabila demikian, mengapa?
·           Apakah suatu kelas menjadi lebih baik ketika baik siswa maupun guru saling menunnjukan rasa hormat satu sama lain?
·           Mengapa Hendry Rogers mengatakan, “Tata cara yang baik merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasila dalam hidup ini?”
·           Apakah yang dimaksud dengan “aturan emas”? jika aturan ini sangat sederhana, mengapa banyak sekali orang yang kesulitan mempratikkannya sekarang ini?
·           Mana lebih yang mengesankan banyak orang-menjadi “cool’ atau menjadi orang yang penuh rasa hormat?

Beliau mengawalinya secara positif dengan menyatakan keyakinan bahwa sebagian besar orang mampu menunjukkan rasa hormat jika mereka tahu dengan jelas apa yang diharapkan.
Beliau melibatkan para siswa secara aktif, beliau merekrut dan menghargai mereka sebagian pemikir dengan mencari input dari mereka.
Beliau berhasil dalam membawa semua siswanya untuk berpikir tentang permasalahan ini. Sampai ini dengan mengemukakan pertanyaan yang baik dan meminta mereka menuliskan jawabannya tanpa disertai nama. Keadaan tanpa ini memberikan kebebasan untuk menjadi tidak diketahui tentang pentingnya tulisan ini. Urban berkata demikian, “Apabila saya menginginkan pemikiran dan pembahasan yang berkualitas saya hampir selalu meminta para siswa menulis terlebih dahulu. Menulis membuat setiap orang terlibat. Saya memperoleh jawaban yang jauh lebih banyak dari pada jika hanya saya mengemukakan pertanyaan tersebut kepada seluruh kelompok, dimana hanya sedikit kasus saja yang dibawah para siswa didepan kelas.”
Pendidikan karakter tidak mengeliminasi sifat dasar manusia. Kemudian pada saat-saat pengajaran-saat-saat yang tidak dapat dihindari ketika para siswa kehilangan harapan-lebih bermanfaat, karena terdapat standar tata cara yang dibentuk untuk dijadikan acuan dan terdapat komitmen bersama untuk menghormati standar tersebut.

2)        Mengajarkan Aturan Halo-Sampai Jumpa
Di seluruh Negara, para guru mengatakan bahwa banyak siswa sekarang ini tidak membalas ucapan orang dewasa. “Anda mengatakan halo pada seseorang anak di lorong”, ujar salah seorang guru sekolah dasar, “dan mereka tidak membalasnya”.
Ketika kalian masuk ke dalam ruangan seseorang, wajar untuk menghormati orang tersebut dengan menyapanya. Kalian harus melakukan hal yang sama dengan orang tua kalian setiap kali kalian masuk ke rumah. Dan ketika kalian meninggalkan ruangan seseorang, kalian harus selalu mengucapkan selamat tinggal. Itu semua hanya perbuatan sopan yang harus kalian lakukan. Di samping itu, ketika ada 24 orang dari kalian yang berjalan melalui pintu itu dan berkata, “Halo Pak Robinson”, itu membuatku lebih senang.

3)        Mengajarkan Tata Cara yang Baik dengan Menggunakan Alfabet
Susan Skinner mengajar pada taman kanak-kanak di Heathwood Episcopal School di Columbia, Carolina Selatan. Beliau memiliki papan bulletin yang menunjukkan tata cara berbeda untuk masing-masing huruf dalam setiap alfabet. Ketika beliau mengajarkan satu huruf dalam alfabet tersebut selama satu minggu, beliau mengajarkan tata cara yang berhubungan pada saat yang sama.
A.      Accept a compliment graciously, yang artinya “Terimalah pujian dengan senang hati.”
B.       Be on time, yang artinya “Datanglah tepat waktu.”
C.       Clean your hands, yang artinya “Bersihkanlah tanganmu.”
D.      Do chew with your mouth closed, yang artinya “Mengunyahlah dengan mulut tertutup.”
E.       Elbow off the table, yang artinya “Tidak ada siku di atas meja.”
F.        Friendliness to other, yang artinya “Bersahabatlah dengan anak-anak lainnya”.
G.      Good grooming shows sel-respect,yang artinya “Kerapian menunjukkan rasa hormat terhadap diri sendiri”.
H.      Hang Up your clothes,yang artinya “Gantunglah Pakaianmu”.
I.         Interrupt only for a very important reason,artinya “Hanya boleh menyela dengan alasan yang sangat penting”.
J.         Join in and include everybody,yang artinya “Bergabunglah dan ajaklah semua orang”.
K.      Kindness to all living things,yang artinya “Tunjukkanlah kebaikan kepada semua makhluk hidup”.
L.       Lend a Helping hand,yang artinya “Berikanlah bantuan kepada orang lain”.
M.     Magic words: “Please”  and “thank you”, yang artinya “Kata ajaib: “tolong” dan “terima kasih”.
N.      Never point or laugh at others,yang artinya “Jangan pernah menuding atau menertawakan orang lain”.
O.      Obey the rules,yang artinya “patuhilah aturan”
P.        Pleasant tone of voice is a plus,yang artinya “Nada suara yang menyenangkan adalah nilai tambah”.
Q.      Quiet when others are working or sleeping,yang artinya “Tenanglah saat anak-anak lain sedang bekerja atau beristirahat”.
R.       Remember others on special occasion yang artinya “Ingatlah orang lain saaat ada acara khusus.”
S.        Sit up straight, yang artinya “Duduklah dengan tegak.”
T.        Thank the host or hostess, yang artinya “Berterimakasihlah kepada tuan rumah.”
U.      Use your beautiful smile, yang artinya “Gunakanlah senyuman manismu.”
V.      Visit a friend who is lonely or sick, yang artinya “Mengunjungi teman yang sedang kesepian atau sakit.”
W.     Watch out for little ones, yang artinya “Perhatikanlah yang lebih kecil.”
X.       “X” out bad habits, yang artinya “Hilangkanlah kebiasaan burukmu.”
Y.      Yawn if you must but cover your mouth, yang artinya “Menguaplah jika kau harus menguap, tapi tutuplah mulutmu”.
Z.       Zip your zipper, yang artinya “Kancingkanlah risletingmu.”

4)        Implementasikan Kurikulum Tata Cara
Mengimplementasikan suatu kurikulum formal tentang tata cara merupakan suatu cara untuk menjamin bahwa semua siswa di suatu sekolah, bukan hanya siswa-siswa yang berada dalam kelas guru tertentu, memperoleh instruksi dalam rasa hormat yang mendasar.
Jill Rigby ialah seorang ibu pendidik yang tertarik untuk menciptakan suatu kurikulum semacam itu. Beliau mengembangkan pelajarannya yang menjadi panduan kurikulum K-5 yang berjudul Manners of the Heart. Kurikulum sekolah ini memiliki tiga bagian: (1) rasa hormat setiap hari (seperti tersenyum, mengucapkan tolong dan terima kasih, bermain menurut aturan, dan mengatakan Aku minta maaf), (2) keahlian berkomunikasi (seperti memperkenalkan seseorang, tata cara bertelepon, dan menuliskan ucapan terima kasih); dan (3) tata cara jamuan (seperti meminta sesuatu untuk diberikan, sikap tubuh, pembicaraan ketika sedang mengikuti jamuan, dan tata cara untuk menyantap jamuan).

Ketika anak-anak kita berperilaku dengan tata cara yang baik,mereka akan menimbulkan suatu respon positif dari orang lain. Mereka akan merasa lebih bahagia dengan diri mereka sendiri lebih aman, percaya diri, dan tenang, ketika mereka tahu bagaimana harus berperilaku. Mereka akan lebih mungkin mengajarkan tata cara kepada anak-anak mereka sendiri suatu hari nanti apabila mereka menjadi orang tua. Dengan perilaku hormat, mereka dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih tenggang rasa, lebih ramah, dan lebih beradab. Semuanya ini merupakan alasan yang baik untuk membuat pengajaran tata cara sebagai bagian dari setiap program pendidikan karakter.

B.       Mencegah Kenakalan Teman Sebaya dan Mengedepankan Kebaikan
“Pengaruh moral sekolah yang paling kuat,” menurut seorang psikolog dan pendidik karakter Marvin Berkowitz, “adalah cara orang saling memperlakukan satu sama lain.” Di kebanyakan sekolah, sebagian besar orang dewasa sedang berusaha dengan teliti untuk memperlakukan para siswanya dengan kasih dan rasa hormat. Namun dalam sekolah yang sama itu, bahkan sekolah-sekolah yang pura-pura berkomitmen terhadap pendidikan karakter, anak-anaknya seringkali berlaku sangat jahat satu sama lain.
Ketika kenakalan anak sebaya tidak diketahui, hal ini menjadi masalah yang sangat serius dengan banyak alasan. Sekolah tersebut sedang mengirimkan pesan bahwa hukum rimba berlaku di sana. Atmosfer yang mengancam ini bercampur dengan pembelajaran; para siswa tidak akan fokus pada pekerjaan sekolah, jika mereka khawatir akan ditusuk di kelas, dilecehkan di lorong sekolah, dilempari batu waktu istirahat, dsb. Bagi anak-anak yang selalu menjadi korban pelecehan oleh teman-teman sebaya mereka, pergi ke sekolah merupakan pengalaman yang menyedihkan.
Beberapa siswa yang mengalami penyiksaan ini benar-benar ingin melaksanakan hasrat balas dendam mereka. Pada tahun 2000 sebuah penelitian tentang penembakan di sekolah yang dilakukan oleh U.S Secret Service mendapati bahwa dua-pertiga pelaku penembakan tersebut telah merasa dianiaya, dijahili, diancam, diserang, atau dilukai oleh orang lain.
Kenakalan teman sebaya tentu saja selalu ada bersama kita, namun riset menunjukkan bahwa hal ini mengalami peningkatan. Dalam beberapa tahun belakangan ini, masalah tersebut telah tercermin di dalam perkembangan program anti-intimidasi. Jauh lebih luas dari intimidasi klasik (anak yang lebih kuat menakali korban yang lebih lemah) adalah kenakalan emosional setiap hari.
Sekolah tidak memiliki kewajiban moral yang lebih tinggi bagi para siswa dan orang tuanya selain melakukan segala sesuatu yang mereka mampu untuk mencegah kenakalan teman sebaya dan menciptakan kebudayaan berbuat baik dan saling menghormati. Tidak ada ukuran efektif yang lebih penting bagi program pendidikan karakter selain perkembangannya terhadap sasaran ini.

1.        Awali dengan Disiplin Berbasis Karakter
Strategi pertama dalam mencegah kenakalan teman sebaya adalah disiplin berbasis karakter. Seluruh strategi disiplin yang membantu anak-anak mengembangkan rasa hormat terhadap aturan dan hak-hak orang lain akan membantu menahan tindakan intimidasi.
Suatu bagian penting atau esensial dari disiplin berbasis karakter adalah penegakan yan mempertahankan akuntabilitas para siswa terhadap aturan melalui konsekuensi yang adil dan tegas. Misalnya sebuah kontrak dapat menyatakan, “Saya tidak akan memukul atau menyakiti orang lain. Jika saya melakukannya, saya akan memanggil orang tua saya dan melaporkan apa yang saya lakukan.”

2.        Ciptakan Komunitas Sekolah yang Peduli
Strategi yang kedua sudah pasti adalah penciptaan komunitas sekolah yang peduli di mana semua siswa memiliki pemahaman terhadap rasa aman dan menjadi bagian dari komunitas tersebut.
Semakin kuat komunitas suatu sekolah, semakin mungkin para siswa menunjukkan hasil sikap dan karakter positif berikut ini.
1)        Semakin menyukai sekolah.
2)        Tidak lagi begitu merasa kesepian di sekolah.
3)        Memiliki empati yang lebih besar terhadap perasaan orang lain.
4)        Memiliki motivasi yang lebih kuat untuk menjadi orang yang baik dan membantu.
5)        Lebih cerdas di dalam keahlian memecahkan masalah.
6)        Memiliki lebih banyak perilaku rendah hati.
7)        Memiliki harga diri akademik yang lebih tinggi.
8)        Memiliki perasaan yang lebih kuat terhadap kompetensi sosial.
9)        Memiliki perilaku pelanggaran yang lebih sedikit.
10)    Lebih sedikit tembakau, alkohol, dan mariyuana.

Sekolah-sekolah yang mencari cara untuk memperkuat pemahamannya terhadap komunitas harus mempertibangkan pemakaian suatu survei untuk memperoleh data dasar di awal usahanya dan kemudian mengulangi survey ini belakangan guna menilai perkembangannya.

3.        Implementasikan suatu Program Anti-Intimidasi yang Efektif
Sekolah-sekolah yang mengikuti startegi ini harus cermat memilih program yang berdasarkan bukti. Dalam suatu penelitian, sekolah-sekolah yang menciptakan program anti-intiidasinya sendiri daripada menggunakan pendekatan yang sudah terbukti mengalami 35% peningkatan dalam perilaku intimidasi.
Mungkin pendekatan efektif yang paling dikenal adalah Olweus Bullying Prevention Program (Program Pencegahan Intimidasi Olweus) yang dirancang oleh psikolog Norwegia bernama Dan Olweus. Diimplementasikan selama lebih dari dua puluh tahun di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Norwegia, program ini telah : (1) mereduksi intimidasi hingga 50% atau lebih; (2) mereduksi secara signifikan perilaku antisosial umum seperti vandalism, berkelahi, dan mencuri; dan (3) meningkatkan iklim kelas dan kepuasan para siswa terhadap kehidupan sekolah.
Setelah digunakan sekarang ini dalam sejumlah sekolah di Amerika Serikat yang sedang berkembang, Olweus Bullying Prevention Program memiliki empat komponen utama.
1)      Prasyarat Umum: kesadaran dan keterlibatan orang dewasa
2)      Ukuran Sekolah
·      Administrasi kuesioner korban tanpa nama
·      Pembentukan bullying prevention committe (komite anti-intimidasi)
·      Pelatihan staf dan pemberian waktu bagi diskusi kelompok staf bersinambungan
·      Supervisi efektif selama waktu istirahat dan jam pelajaran
3)        Ukuran Kelas
·      Aturan kelas dan sekolah yang jelas tentang intimidasi
·      Rapat kelas teratur
·      Bertemu dengan orang tua para siswa
4)        Ukuran Individual
·      Pertemuan invidual dengan para siswa yang melakukan gangguan
·      Pertemuan individual dengan para korban
·      Pertemuan dengan para orang tua dari siswa-siswa yang terlibat
·      Pengembangan perencanaan intervensi individual

4.        Mintalah Para Siswa untuk Bertanggung Jawab Menghentikan Kenakalan di Antara Teman Sebaya
Pengganggu memperoleh kekuasaan ketika ada toleransi bagi perilaku mereka. Kira-kkira 85% intimidasi terjadi dengan disaksikan para siswa lainnya. Mereka yang melihat kejadian ini seringkali mengamati secara pasif atau membiarkan permasalahan tersebut dengan menikmati intimidasi tersebut atau bahkan ikut melakukannya.
Sebuah penelitian di Kanada mendapati bahwa meskipun jika seseorang berbicara untuk menentang insiden intimidasi, para pelakunya biasanya berhenti dalam waktu 10 detik. Tantangan kami sebagai pendidik adalah menciptakan suatu kebudayaan sekolah yang di dalamnya sebagian besar siswa berkeyakinan bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kenakalan apapun yang mereka temukan.
Beberapa sekolah telah meraih keberhasilan di dalam mendorong intervensi teman sebaya dengan merekrut tim anti-intimidasi yang terdiri dari para masing-masing jenjang kelas. Tim ini kemudian bekerja sama dengan seorang guru atau konselor untuk melakukan brainstrom dan melaksankan strategi-strategi guna mereduksi kenakalan temansebaya. Para anggota tim kemudian melangkah masuk atas nama para korban.
Tujuan dari kegiatan role-play adalah untuk menunjukkan bagaimana anak-anak yang berada di tengah-tengah memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dinamika kelompok dengan cara yang positif.

5.        Membangun Komunitas Kelas
Strategi sentral dalam mencegah kenakalan teman sebaya adalah menciptakan suatu pemahaman komunitas yang kuat di dalam setiap kelas.
Hal ini diawali dengan membantu para siswa memahami bagaimana keadaan kelas mereka. seperti undian tempat duduk, mengubah tempat duduk anak-anak secara teratur itu semua merupakan cara yang sederhana untuk melakukannya.
Marty Katminski, seorang guru kelas empat di Ithaca, New York, menggambarkan bagaimana cara beliau menggunakan ritual “pertemuan pagi hari” untuk menciptakan dan mempengaruhi rasa komunitas di dalam kelasnya. Pertemuan Pagi Hari atau Morning Meeting, sebuah publikasi dari Responsive Classroom (www.responsiveclasssroom.org), merupakan sumber yang kaya akan ritual pemberian ucapan dan berbagai aktivitas lainnya untuk masa awal sekolah sperti ini.

6.        Mengedepankan Pertemanan
Sebagaimana yang ditunjukkan oleh psikolog bernama Michael Thompson, para siswa dapat menangani kenakalan sosial dengan lebih baik jika mereka memiliki seorang teman. Bagaimanapun juga, kira-kira 20% anak-anak beresiko tidak memiliki seorang teman. Oleh karena itu para guru yang bijak sengaja mengambil langkah untuk mengedepankan pertemanan dalam kelas mereka.

7.        Lakukan “Pujian Tanpa Nama”
Mark Twain pernah berkata “aku dapat hidup selama dua bulan dengan suatu pujian yang manis.” Rick Mansfield, seorang guru kelas 5 di New York, menyimpan pujian yang mengalir dalam ruang kelas melalui aktivitas “Pujian Tanpa Nama (Anonymous Compliment)” yang beliau lakukan.
1)        Masing-masing siswa menari nama seorang teman dari dalam mangkuk.
2)        Sebelum akhir minggu, masing-masing siswa menuliskan satu pujian tentang teman yang bersangkutan dalam selembar kertas, menunjukkannya kepada guru yang bersangkutan, dan dengan persetujuan guru tersebut, menaruhnya dalam kotak pujian.
3)        Pada hari jum’at, guru yang bersangkutan memuat pujiantersebut di papan buletin di samping nama anggota kelas
Mansflied melaporkan, “aktivitas ini hampir tidak memakan waktu namun sungguh-sungguh menciptakan suatu iklim kelas yang positif. Dan karena pujian tersebut tidak bernama - setiap orang di dalam kelas dapat saja menuliskannya – terdapat perasaan nyaman yang dihasilkan terhadap teman-teman satu kelas.

8.        Implementasikan Pembelajaran Kooperatif Berkualitas
Pembelajaran kooperatif mengharuskan para siswa bekerja sama dengan dua, tiga, atau empat orang temannya dalam satu tugas yang memerlukanpembelajran saling tergantung (masing-masing siswa memiliki satu pekerjaan untuk dilakukan) dan akuntabilitas individual (masing-masing siswa harus menunjukkan penguasaan materi dengan melakukan tes atau mengumpulkan sebuah makalah atau proyek). Puluhan siswa menunjukkan bahawa pembelajaran kooperatif memberikan konstribusi terhadap prestasi akademis maupun perkembangan karakter, termasuk penentuan perspektif, keahlian tim, apresiasi perbedaan, dan integrasi seluruh siswa ke dalam komunitas kelas.
Namun demikian, guna memperoleh keuntungan ini, pembelajaran kooperatif harus dirancang dengan baik. Pembelajaran kooperatif mengharuskan guru dan para siswa mengidentifikasi perilaku-perilaku yang menghadirkan kooperatif efektif dan terus menerus  menilai dan memonitor bagaimana efektifnya pasangan kelompok bekerjasama. Misalnya, Betty House dan para siswa kelas limanya di Ithaca, New York, mengembangkan daftar untuk memandu pembelajaran kooperatif ini.
Kita Bekerja Sama dengan Sangat Baik Ketika …
·           Kita saling membantu satu sama lain dan tidak berkelahi
·           Kita semua bersikap baik satu sma lain dan tidak ada yang saling meremehkan
·           Kita mendukung satu sama lain
·           Kita berkomunikasi dan membagi ide kita
·           Setiap orang memiliki pekerjaan untuk dilakukan
·           Setiap orang berkonstribusi dan merasa diikutsertakan
·           Kita mendengarkan semua ide dan bergiliran membagikannya
·           Kita tidak mengeluh
·           Saya merasa dihormati

Para siswa paling mungkin berkembang dalam keahlian kooperatif mereka kalau guru yang bersangkutan mangkaji daftar semacam ini sebelum melakukan setiap aktivitas kooperatif dan kemudian meminta para siswa setelah melakukan aktivitas ini menggunakan daftar tersebut untuk mengevaluasi sebera baik mereka bekerjasama.

9.        Mengajarkan Empati Melalui Literatur Anak-Anak
Kenakalan teman sebaya terutama terhadap anak-anak yang “berbeda” hampir selalu mencerminkan kuarangnya empati. Literatur anak-anak yang melukiskan kenakalan dan penderitaan yang disebabkannya merupakan sarana yang berharga untuk mengajarkan empati.
Banyak buku anak-anak yang dapat digunakan untuk mengedepankan penentuan perspektif, rasa hormat, dan kebaikan.

10.    Buatlah Anak-Anak Mengajari Teman-Teman Sebaya Mereka
Di dalam mengembangkan empati, tidak ada pengganti bagi pengalaman tatap muka. Pengalaman pertama secra khusus beharga didalam membantu anak-anak memahami dan mendukung teman-teman sekolah mereka yang memiliki kekurangan.
Kathleen scanlon merupakan seorang perawat disekolah dasar frederick leighton, oswego, new york. Beliau membantu anak-anak dengan kekurangan berbicara dengan teman-teman mereka dan bagaimana mereka mengatasinya:
Dengan adanya orang tua yang hadir, saya akan bertemu dengan anak yang hadir dan bertanya demikian, “Apa yang ingin kau ceritakan keseluruh kelas? Bagaimana kau akan menceritakannya? mengapa kau tidak menceritakan? “ salah seorang siswa kelas empat yang mengalami spina bifida dan tidak ingin menceritakan kalau dia dipasangi kateter karena kesulitan mengendalikan kantong kencingnya (bladder). Seorang siswa kelas empat yang mengidap epilepsi khawatir kalau suatu anak-anak akan melihatnya mengalami serangan dan tidak ingin membicarakan tentang hal tersebut. Meminta anak menjadi bagian dari rencana adalah kuncinya.kadang-kadang mereka memutuskan untuk membacakan sesuatu di depan kelas tentang kekurangan mereka atau menceritakan kisah pribadi. Kadang-kadang mereka akan melakukan sebagian presentasi, dan saya akan menyelesaikan bagian lainnya.
Saya mendapati beberapa siswa datang kembali kepada saya ketika mereka sudah dibangku seolah menengah pertama dan sekolah menengah atas dan mengucapkan terimah kasih kepada saya atas kesempatan untuk melakukan hal ini dan karena menanyakan kepada mereka bagaimana mereka akan melakukannya.



11.    Gunakan Tujuh E untuk Mengajarkan Kepedulian
Ada tujuh E dalam pengajaran sikap baik apapun :
1)        Explain it yang artinya “jelaskanlah” dengan mendefinisikan, mengilustrasikan, dan membahas pentingnya sikap tersebut.
2)        Examine it yang artinya “telitilah”, di dalam literatur, sejarah, atau kejadian-kejadian belakangan ini.
3)        Exhibit it yang artinya “ tunjukanlah,” melalui contoh pribadi.
4)        Expect it yang artinya “ harapkanlah,” melalui kode , aturan, kontrak dan konsekuensi.
5)        Experience it yang arinya “alamiah ,” dalam aktivitas dan hubungan
6)        Encourage it yang artinya “doronglah” melalui penentuan sasaran, praktik sikap baik tersebut dan penilaian diri.
7)        Evaluate it yang artinya “evaluasilah,” dengan memberikan para siswa masukan mengenai apa yang sedang mereka lakukan.

12.    Gunakan Kekuatan Ikrar
Sebuah ikrar, secara khusus apabila diulangi setiap hari sebagai ritual kelas dapat membangun komunitas kelas dan memperkuat komitmen kelas untuk melakukan hal yang benar.
“Ikrar keragaman anak-anak” (children’s Diversity Pledge) merupakan contoh ikrar yang membantu para siswa menilai perbedaan yang memperkaya komunitas manusia.  Ikrar ini mengajarkan bahwa kita semua harus mencoba menemukan kebaikan didalam diri orang lain , sebagaimana halnya kita ingin orang lain menemukan kebaikan dalam diri kita.

Ikrar Keragaman Anak-Anak
·           Saya percaya bahwa semua anak berbeda dan unik dalam cara mereka sendiri.
·           Saya percaya bahwa semua anak layak dikasihi, diterima, dan dihormati atas dasar siapa diri mereka sebenarnya.
·           Saya akan berusaha menjadi teman yang baik, sehingga semua anak mereka diterima disekitar saya.
·           Saya tidak akan menghakimi orang lain  karena tempat tinggal mereka, warna kulit mereka, cara berpakaian mereka, kemampuan mereka, keyakinan iman mereka, atau jenis kelamin mereka.
·           Saya dapat dan saya akan menemukan kebaikan dalam semua orang.
·           Saya tidak akan mendengarkan atau menceritakan lelucon yang mengejek orang lain.
·           Saya akan menjadi pembawa kedamaian didalam keluarga dan disekolah saya.
·           Saya akan menunjukkan kebanggaan di dalam keluarga dan warisan saya.
·           Saya akan belajar sebisa mungkin tentang tradisi keluarga anak-anak lain didalam sekolah.

13.    Buatlah Anak-anak Membuat Catatan Perbuatan Baik
Salah satu cara terbaik untuk menghalangi perilaku negatif adalah mengembangkan kebiasaan positif yang merupakan kebalikan psikologisnya. Sulit untuk berlaku jahat kepada orang lain, misalnya, jika ada setiap hari meminta anak-anak menunjukkan tindakan yang baik.
Berkaca dengan pengetahuan tersebut, Sekolah Khatolik Saint Rocco di Providence, Rhode Island, pemenang Bluee Ribbon Award dari Departemen Pendidikan Amerika Serikat (The U.S. Departement of Education) , meminta para siswa menyimpan “jurnal harian perbuatan baik”. Setiap hari, para siswa menulis dalam jurnal mereka satu perbuatan baik yang mereka lakukan sebelum berada disekolah, ketika berada dirumah, atau ketika berada didalam komunitas.
Dalam semua subyek, para guru membuat koneksi atau hubungan dengan tema perb uatan baik. Dalam bahasa seni, guru yang bersangkutan mungkin memberi komentar pada perbuatan baik yang ditujukan oleh seseorang tokoh dalam cerita ; dalam studi sosial, pada perbuatan baik yang dilakukan seorang dalam berita yang bersangkutan. Para siswa mempelajari bahwa perbuatan baik dapat berari segala hal yang berkontribusi terhadap kebahagiaan orang lain, bahkan sesuatu yang sederhana seperti senyuman.
14.    Merayakan Kebaikan
Kami merayakan apa yang kami nilai. Kelas dan sekolah yang peduli tentang kebaikan menemukan cara untuk mengenali dan menghargai.
Misalnya, Donna Funk, seorang guru pendidikan khusus di cortland, New york, memberikan masing-masing siswanya halaman “ Look what I did today” (lihat apa yang aku lakukan hari ini). Untuk mengenali tindakan positif, beliau memberikan stiker kepada anak-anak (berbentuk kotak berukuran 1“ × 3”, masing-masing dengan grafik, yang beliau buat dikomputernya dan beliau cetak dengan kertas label). Para siswa menaruh stiker ini dihalaman mereka  sehingga mereka semua hal baik yang mereka lakukan diakhir ini . beberapa contoh stiker tersebut berbunyi demikian: “Saya berbagi cerita dengan seseorang,” “Saya memberikan pujian,” “Saya mendengarkan seseorang,” “Saya mendahulukan seseorang,” “Saya mengatakan permisi,“ dan “Saya menjadi teman yang baik.” Funk berkomentar demikian:
Sebagian besar dari para siswa saya yang mengalami perkembangan terhambat datang kepada saya dan tidak mampu berbicara positif tentang diri mereka sendiri. Ketika saya akan bertanya tentang tindakan positif tertentu yang baru saja mereka tunjukkan, mereka tipikalnya akan menjawab demikian, “Saya merasa nyaman.” Stiker tersebut memberikan bahasa yang dapat mereka gunakan untuk mengidentifikasi pencapaian khusus mereka.

15.    Mintalah Para Teman Sebaya Mengenali Teman-Teman Mereka
Ketika para siswa saling mengenali satu sama lain karena karakter, kebaikan memiliki kesempatan yang lebih untuk menjadi norma diantara teman sebaya yang di bandingkan dengan  beberapa anak yang hanya berlaku demikian guna menyenangkan orang dewasa.
Salah seorang guru kelas tiga seringkali mengakhiri hari itu dengan pertemuan kelas selama dua sampai tiga menit yang didalamnya beliau bertanya demikian, “Siapakah yang memiliki perkataan baik untuk seseorang hari ini?” Di atas papan tulis beliau memiliki daftar sejumlah perkataan karakter: baik, peduli, pekerja keras, tekun, jujur, dermawan, dan seterusnya. Seorang siswa dapat berkata demikian, “Sara bersikap baik terhadap aku ketika ia memberikan beberapa lembar kertas.” Atau, “Steve tekun untuk memecahkan permasalahan matematika yang membuatnya pusing.”
Banyak sekolah melakukan usaha untuk melibatkan para siswa dalam memperhatikan anak-anak lain dan orang dewasa yang menunjukkan “tindakan berkarakter”. Para siswa menulis tindakan tersebut dan nama orang yang melakukannya dalam formulir tercetak (ditempatkan di mana saja di dalam gedung sekolah) dan menaruhnya ke dalam sebuah kotak. Sebagai bagian dari pengumuman pagi hari, para siswa bergiliran menarik tiga atau enpat lembar formulir dari kotak tersebut dan membaca apa yang dilakukan orang-orang tersebut. Formulir yang tidak ditarik dikirimkan kepada para guru di kelas sehingga mereka dapat menurunkannya kepada para siswa yang tindakan positifnya dilaporkan.

16.    Gunakan Pertemuan Kelas untuk Membahas Intimidasi
Meskipun sekolah melakukan usaha proaktif untuk mencegah kenakalan teman sebaya, beberapa orang anak masih akan terlibat dalam perilaku yang menyakitkan dan akan memerlukan bantuan tambahan dalam belajar bertindak secara prososial. Pertemuan kelas yang di dalamnya anak yang melakukan penyerangan dapat mendengarkan teman-temannya berkata tentang perilaku yang disukai dan tidak disukai seringkali lebih efektif daripada koreksi guru sendiri.

17.    Membangun Ikatan Melalui Sahabat Kelas
Banyak sekolah mengembangkan sebuah komunitas yang peduli dengan menggunakan “sahabat kelas” untuk menciptakan hubungan yang bermanfaat antara anak-anak yang besar dengan anak-anak yang kecil. Hubungan ini berkembang seiring berjalannya waktu ke arah pencapaian kehidupan sekolah yang terasa seperti keluarga.
Misalnya, kelas lima bersahabat dengan kelas tiga, kelas tiga dapat bersahabat dengan taman kanak-kanak, dan seterusnya. Para siswa yang lebih tua membantu para sahabatnya yang lebih muda dengan pekerjaan sekolah dan melakukan proyek khusus bersama. Kadang-kadang anak-anak yang lebih tua membacakan cerita kepada anak-anak yang lebih muda dan duduk dengan mereka selama pertemuan dewan.
Menurut kepala sekolah Bob Storrier, yang memanfaatkan program ini secara ekstensif di Sekolah Dasar Enders Road di Manlius, New York, “Hubungan ini memberikan anak-anak yang lebih tua semacam pemahaman akan tanggung jawab dan anak-anak yang lebih muda semacam rasa aman.”

18.    Menciptakan “Keluarga Sekolah”
Sekolah Katolik K-8 Saint Rita di Dayton, Ohio, telah mempraktikkan satu ide yang dipinjam dari sekolah negeri. Sekolah ini mengelompokkan para siswanya dalam “keluarga,” satu orang anak dari masing-masing kelas. Seorang siswa dan siswi dari kelas tujuh dan delapan berperan sebagai “orang tua” dan tentu saja dipanggil “Ibu” dan “Ayah” oleh anak-anak yang lebih muda.
Di awal tahun ajaran sekolah itu, kelompok keluarga ini menghabiskan sebagian besar waktu tiga hari pertama secara bersama-sama dalam kegiatan permainan dan dalam aktivitas-aktivitas lainnya yang membangun ikatan. Selama seluruh tahun ajaran tersebut, kelompok keluarga ini berkumpul bersama dalam cara regular (di sekolah negeri ini acara tersebut dapat berupa pertemuan mingguan) dan dalam acara khusus seperti liburan.
Kepala sekolah Mary Ann Eismann menggambarkan hasil demikian:
Dalam kegiatan ini, para siswa yang lebih tua mencoba untuk menjadi model peran yang baik bagi siswa  yang lebih muda. Secara umum, para anggota yang lebih tua dari satu kelompok keluarga memperhatikan para anggota yang lebih muda atau lebih kecil. Mereka membantu para anggota yang lebih kecil tersebut memecahkan permasalahan. Mereka senang melihat para anggota yang lebih kecil ini berada di aula atau di arena bermain. Mereka bahagia ketika mereka melihat para anggota yang lebih kecil kembali setelah tidak datang selama beberapa waktu. Tidak ada kegiatan di sekolah kami, yang ada hanyalah atmosfer yang sangat tenang dan penuh kasih. Kami berpikiran bahwa sebagian besar dari  keadaan ini disebabkan oleh pengelompokkan keluarga.

19.    Implementasikan Kelompok Penasihat
Di tingkat sekolah menengah, persahabatan dan penerimaan lebih penting dari hal lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi sekolah-sekolah untuk memberikan struktur yang menjamin bahwa tidak seorang pun siswa yang ditinggalkan.
Kelompok penasihat adalah salah satu cara untuk memastikan setiap siswa memiliki markas atau home base. Para penasihat tipikalnya terdiri dari seorang penasihat dan delapan hingga dua belas siswa. Beberapa penasihat bertemu setiap hari sebelum sekolah dimulai atau selama makan siang; beberapa penasihat lainnya bertemu dengan intensitas yang lebih sedikit. Ketua penasihat dapat mengemukakan permasalahan di sekolah, menyampaikan berita baik, merencanakan aktivitas kelompok (misalnya, sebuah karya wisata), membahas serial pendidikan di TV yang ditonton mereka semua atau sebuah buku yang dibaca mereka semua, atau membicarakan tentang kejadian-kejadian belakangan ini. Seorang penasihat memberikan setiap siswa dua hal krusial bagi para remaja muda: kelompok teman sebaya yang mendukung dan seorang dewasa yang tahu dan peduli tentang siswa yang bersangkutan sebagai seorang individu.
Sebuah kelompok penasihat sekolah menengah juga membantu para orang tua tetap terhubung dengan pihak sekolah ketika keterlibatan sekolah dengan orang tua tipikalnya menurun. Penasihat ini yang biasanya memiliki beberapa pertemuan terjadwal dengan orang tua selama tahun ajaran sekolah yang bersangkutan, tersedia untuk pertemuan lainnya sebagaimana diperlukan, mengirimkan kartu laporan ke rumah, dan secara umum mengupdate informasi tentang perkembangan akademik dan permasalahan apapun dari anak mereka bagi para orang tua.
Beberapa sekolah menengah mencoba suatu sistem kepenasihatan namun menghapuskannya ketika para staf atau para siswa mengeluhkan kalau sistem tersebut tidak bekerja. Suatu solusi yang lebih baik adalag melaksanakan sebuah survei terhadap para staf dan siswa, yang bertanya demikian, “Apa yang Anda sukai tentang kepenasihatan, dan apa yang ingin Anda ubah untuk membuatnya lebih baik?” Apabila beberapa sekolah menengah tidak memiliki sesuatu seperti sistem kepenasihatan yang akan memenuhi kebutuhan semua siswa akan penerimaan, maka banyak siswa akan mencari keintiman dan identitas dalam geng, obat-obatan, atau seks premature. Para siswa lainnya akan menderita kesepian yang menyakitkan.

20.    Menciptakan Bus Sekolah yang Aman dan Menghormati
Bagaimana sebuah sekolah dapat mendorong perilaku yang menghormati dan bertanggung jawab di atas bus sekolah, yang bagi banyak anak telah menjadi perjalanan teror?
Lynn Lisy-Macan menggambarkan bagaimana caranya beliau menangani tantangan ini ketika beliau menjabat sebagai kepala sekolah di Brookside Elementary School, Sekolah Karakter Nasional tahun 1998 di Binghamton, New York:
Sebagai tanggapan terhadap permasalahan bus yang meningkat, kami mengawali pertemuan bus tiga kali dalam setahun guna membahas perilaku yang tepat di atas bus. Kami menempatkan masing-masing kelompok bus di sebuah ruangan dalam sekolah . pengemudi bus dan tiga orang staf lainnya bertemu dengan masing-masing kelompok. Pada pertemuan pertama, kami melakukan aktivitas icebreaker pada pasangan “sahabat bus,” anak-anak yang kemudian duduk bersama di atas bus setiap hari. Hal ini menciptakan suatu pemahaman komunitas di atas bus.
Pada pertemuan pertama kami melakukan brainstorm sebagai berikut: “Seperti apakah tumpangan bus yang tampaknya aman dan saling menghormati?” “Seperti apakah tumpangan bus yang tidak aman dan saling menghormati?” Para pengemudi berbicara tentang aturan-aturan yang mereka miliki dan mengapa aturan-aturan tersebut penting adanya. Pada akhirnya, kami membahas “Apa yang dapat kita lakukan masing-masing untuk membantu menciptakan tumpangan bus yang aman dan saling menghormati?”
Kami membuat bagan berdasarkan pada diskusi ini untuk dijadikan bahan acuan dalam pertemuan berikutnya. Pertemuan yang kedua berlangsung sebelum musim dingin berakhir, untuk membahas masalah keamanan sehubungan dengan cuaca yang dingin dan untuk bertanya demikian, “Bagaimanakah keadaan kita di dalam menciptakan tumpangan yang aman dan saling menghormati?” Apabila adalah permasalahan perilaku apapun, kami mengemukakan pertanyaan tersebut.
Pertemuan ketiga diadakan di musim semi guna melintasi penurunan di akhir tahun.  Sebagai tambahan, seluruh bus kami memiliki tanda yang memberitahukan kepada para siswa apa karakter dalam Kata Bulan ini, bersama-sama dengan definisinya dan pengingat bahwa karakter itu juga penting di atas bus.

“Permasalahan perilaku bus di sekolah kami,” lapor Macan, “menurun secara signifikan”.

Kebudayaan teman sebaya merupakan guru yang kuat. Apabila sekolah tidak mengambil langkah proaktif untuk membentuk kebudayaan teman sebaya yang positif, maka hal yang terburuk dalam sifat dasar manusia seringkali akan berlaku. Sebaliknya, ketika sekolah dengan rela hati mengambil langkah untuk menciptakan komunitas yang peduli, maka para siswa dapat mempelajari moralitas dengan menghidupinya. Dalam komunitas semacam itu, sikap baik bukan merupakan perkataan di atas dinding melainkan merupakan kenyataan emosional yang terasa di dalam dan kepedulian di tengah-tengah kehidupan moralnya, sekolah memenuhi kebutuhan manusia yang paling mendalam untuk dimiliki. Hal ini menjadi apa yang wajib dilakukan setiap sekolah: satu tempat di mana rasa hormat dan kebaikan bersifat normative, di mana pengecualian terhadap norma tersebut diperlakukan sebagai masalah yang serius, dan di mana setiap siswa merasa dihargai, aman, dan berarti.


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.      Kesimpulan
Tata cara yang baik ini adalah cara kita menghormati orang lain dan memfasilitasi hubungan sosial setiap harinya. Semuanya ini membentuk jaringan moral dalam kehidupan bersama kita.
Hal yang dapat dilakukan di kelas dan sekolah guna mengembalikan tata cara yang baik yaitu: (1) Buatlah anak-anak berpikir mengapa tata cara yang baik itu penting, (2) Mengajarkan aturan halo-sampai jumpa, (3) Mengajarkan tata cara yang baik dengan menggunakan alphabet, (4) Impelementasikan kurikulum tata cara.
Kenakalan anak sebaya menjadi masalah yang sangat serius dengan banyak alasan. Sekolah tidak memiliki kewajiban moral yang lebih tinggi bagi para siswa dan orang tuanya selain melakukan segala sesuatu yang mereka mampu untuk mencegah kenakalan teman sebaya dan menciptakan kebudayaan berbuat baik dan saling menghormati, contohnya:  (1) awali dengan disiplin berbasis karakter, (2) ciptakan komunitas sekolah yang peduli, (3) implementasikan suatu program anti-intimidasi yang efektif, (4) mintalah para siswa untuk bertanggung jawab menghentikan kenakalan di antara teman sebaya, (5) membangun komunitas kelas, (6) mengedepankan pertemanan, (7) lakukan “pujian tanpa nama”, (8) implementasikan pembelajaran kooperatif berkualitas, (9) mengajarkan empati melalui literatur anak-anak, (10) buatlah anak-anak dengan kekurangan mengajari teman-teman sebaya mereka, (11) gunakan tujuh e untuk mengajarkan kepedulian, (12) gunakan kekuatan ikrar, (13) buatlah anak-anak membuat catatan perbuatan baik, (14) merayakan kebaikan, (15) mintalah para teman sebaya mengenali teman-teman mereka ,(16) gunakan pertemuan kelas untuk membahas intimidasi, (17) membangun ikatan melalui sahabat kelas, (18) menciptakan “keluarga sekolah”, (19) implementasikan kelompok penasihat, (20) menciptakan bus sekolah yang aman dan menghormati.

B.       Saran
Mengingat banyaknya kenakalan yang terjadi antar teman sebaya dan anak yang berperilaku dengan tata cara yang tidak baik, kita sebagai pendidik maupun calon pendidik harus mampu mengajarkan dan menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik dengan sangat baik.



























DAFTAR PUSTAKA


Lickona, Thomas. 2012. Character Matters (Persoalan Karakter). Jakarta: Bumi Aksara.

No comments:

Post a Comment