Monday, 22 February 2016

mengajarkan akademik dan karakter secara bersamaan



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Dalam proses pendidikan di sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran ke dalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik guru bertugas membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri.
Menurut Theodore dan Nancy sizer dalam buku Character Matters “Sekolah telah lama memiliki tiga tugas pokok, yaitu mempersiapkan anak muda untuk dunia kerja, mempersiapkan mereka untuk menggunakan pikiran mereka dengan baik, berpikir mendalam; dan mempersiapkan mereka untuk menjadi warga negara yang bijaksana serta manusia yang layak.” Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia.
Lembaga pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mempersiapkan anak bangsa dalam kepentingan dunia kerja pada masa yang akan mendatang. Tetapi juga membentuk manusia yang utuh seperti Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia. Lembaga pendidikan dalam bidang akademik  juga berperan membentuk karakter anak bangsa. Terkadang banyak guru sebagai pendidik di sekolah hanya menyampaikan ilmu yang telah dimiliki kepada siswa dan hanya memenuhi tuntutannya di sekolah. Mereka memiliki alasan bahwa tidak ada waktu untuk mendidik karakter siswanya di sekolah. Untuk menjawab permasalahan tersebut, pada makalah ini kami akan membahas tentang bagaiman mengajar akademik dan karakter secara bersamaan.





1.2         Rumusan Masalah
1.      Apakah dengan melakukan pendidikan karakter akan meningkatkan pembelajaran akademik?
2.      Bagaimanakah strategi praktis agar mengajarkan akademik dan karakter secara bersamaan akan tercapai?

1.3         Tujuan
1.      Untuk mengetahui dengan melakukan pendidikan karakter akan meningkatkan pembelajaran akademik.
2.      Untuk mengetahui strategi praktis agar mengajarkan akademik dan karakter secara bersamaan.























BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Melakukan Pendidikan Karakter Akan Meningkatkan Pembelajaran Akademik.
Untuk menjadi seorang yang berkarakter, berarti menjadi orang yang terbaik. Oleh karena itu, tumbuh dalam karater berarti berkembang dengan potensi etika dan potensi intelektual kita.
Kematangan manusia termasuk pada kapasitas untuk mencintai dan bekerja. Kemudian kebajikan empati, kasih sayang, pengorbanan, kesetiaan, dan pengampunan merupakan kemampuan kita untuk mencintai. Sedangkan kebajikan seperti insiatif usaaha, ketekunan, disiplin diri, dan ketekunan merupakan kemampuan kita untuk bekerja dan menjadi seseorang yang kompeten pada tugas – tugas kehidupan.
Memahami cara ini, etos kerja dan kompetensi bukanlah sesuatu yang terpisah dari karakter kita, melainkan kedua hal tersebut adalah bagian dari diri kita. Bahkan, seberapa baik kita melakukan pekerjaan, bagaimana tutur kata dan ketelitian kita dalam melakukan pekerjaan yang besar maupun yang kecil itu adalah slah satu cara utama kita untuk mempengaruhi kualitas hidup orsng lain. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja keras untuk mengembangkan bakat kita sehingga kita dapat menggunkannya untuk menghasilkan perbedaan positif di dunia.
Setelah sekolah memiliki pemahaman dasar – bahwa karakter yang baik diperlukan untuk hubungan interpersonal dan prestasi pribadi, tanggung jawab sosial dan tanggung jawab akademis – dikotomi palsu antara pendidikan karater serta akademisi untuk menghilangkan kebajikan merupakan keunggulan manusia. Untuk menjadi sekolah karater, sebuah komunitas kebajikan secara merata harus berkomitmen untuk dua tujuan besar, yaitu keunggulan intelektual dan keunggulan moral.
Ketika orang melihat pembentukan karakter dengan cara ini sebagai dasar untuk kedua prestasi akademik dan perkembangan moral, mereka kurang cenderung mengatakan, “kita ingin melakukan pendidikan karakter yang lebih, tetapi dengan semua tekanan dari pembelajaran yang standar dan ujian, kita tidak punya banyak waktu.”

Jika kita melakukan pendididkan karakter, akankah hal tersebut meningkatkan pembelajaran akademik?
Pendidik sering memaparkan, “jika kita menginvestigasi waktu dan energi dalam mengembangkan program pendidikan karakter, akankah meningkatkan belajar siswa?”
Kami yakin dapat menjawab ya, pembelajaran akademik akan meningkat, apabila :
1.      Program pendidikan karakter dari sekolah dapat meningkatkan kualitas hubungan manusia antara orang dewasa dengan anak – anak dan anak – anak degan sesamanya, dengan demikian akan memprbaiki lingkungan untuk mengajar dan belajar, dan
2.      Upaya pendidikan karakter mencakup program akademik yang kuat dalam mengajarkan keterampilan siswa dengan kebiasaan bekerja keras serta membuat sebagian besar pendidikan mereka.
Adakah bukti untuk mendukung prediksi ini? Ya, dua sumber menjawab tentang hal ini, sebagai berikut.
1.      Data dari setiap sekolah, yang sering memulai dengan pendidikan karakter, karena rendahnya prestasi siswa dan seringnya masalah kedisiplinan terlihat meningkat. Kemudian setelah tes kenaikan nilai dan penurunan masalah kedisiplinan, maka sekolah menerapkan program pendidikan karakter yang berkualitas.
2.      Studi penelitian terkontrol yang telah menemukan bahwa siswa di sekolah yang melaksanakan program kualitas pendidikan karakter mengungguli siswa di sekolah yang sebanding dalam membuat program seperti itu, tapi belum menerapkannya.
Contoh dalam penelitian ilmiah menyebutkan bahwa, studi nasional oleh pusat studi pengembangan kalifornia dibandingkan selama tiga tahun. Dua belas SD melaksanakan proyek perkembangan anak (program pendidikan karakter komprehensif menggabungkan nilai karya sastra anak, pembelajaran kolaboratif, perkembangan disiplin, komunitas yang peduli di sekolah, serta keterlibatan orang tua yang kuat) dengan dua belas SD yang tidak menerapkan proram tersebut. Hasilnya bahwa siswa di sekolah – sekolah dengan program secara signifikan unggul dalam prilaku di kelas, motivasi prestasi, kemampuan memahami bacaan. Bahkan jika siswa melanjutkan program ini untuk sekolah menengah (saat program karakter tidak lagi berlaku), mereka terus menunjukkan superioritas pada pengukuran karakter, seperti resolusi konflik dan pada keunggulan akadeik yang diukur dengan nilai titik rata – rata nilai tes standar.
            Berdasarkan contoh diatas, pengalaman sekolah menyebutkan bahwa, pada akhir tahun sembilan puluhan, pangawas DR. John O’conell menerapkan “3R” program karakter dalam Allegany Maryland, yang berfokus pada respect, responsibility, and the right to learn” (rasa hormat, tanggung jawab, dan hak untuk belajar). Referensi disiplin terus menurun selama bertahun – tahun pertama dan kedua. Keuntungan akademik mulai muncul selama tahun pertama, kemudia tumbuh secara signifikan selama tahun kedua, terutama dalam peringkat SMA (lompat 41 poin dalam skor SAT), bahkan ketika tingkat kemiskinan di kabupaten itu naik dari 46,5 menjadi 50%. Komentar O’Connell “menciptakan lingkungan yang aman dan tertib dapat menghormati perilaku sopan dan tanggung jawab adalah pondasi dimana keberhasilan akademis keberhasilan berkelanjutan akan dibangun.”
Jika perkembangan intelektual dan perkembangan moral adalah dua tujuan pendidikan karakter, apa saja strategi praktis dimana sekolah dapat mencapaikedua tujuan secara bersamaan.

2.2              Strategi Praktis Agar Mengajarkan Akademik Dan Karakter Secara Bersamaan.
1.      Sebutkan kebajikan yang dibutuhkan untuk menjadi siswa yang baik.
“Harapan akademik mengajar kebajikan,” kata Holly Salls, penulis buku dan filososfi sekolah tinggi serta teologi guru di akademik Chicago Willow Academy. “akan tetapi, penting menyebutkan urutannya agar membawa mereka ke dalam kesadaran baik itu guru dan siswa.” Berikut adalah kebajikan karakter yang dia percaya dalam program akademik yang kuat dan mengajarkan bahwa dia menantang siswa untuk bekerja pada :
·         Tanggunga jawab terhadap peerjaan,
·         Ketelitian,
·         Organisasi dan kerapian,
·         Ketepatan waktu,
·         Kontrol diri dan kemauan,
·         Kejujuran,
·         Bekerja dengan tenang untuk menghormati orang lain,
·         Manajemen waktu,
·         Penuh persiapan,
·         Memberikan upaya terbaik anda,
·         Konsentrasi,
·         Ketekunan,
·         Menerima kekecewaan, dan
·         Bersabar untuk sesuatu yang tidak ingin dan lakukan.
Salls mengatakan, bahwa “ruang kelas dan tempat untuk belajar dan mempraktikan semua kebiasaan.” Orang tua dari siswa Willows memberikan dukungan di depan rumah. Seorang ibu dari dua anak perempuan berkomentar, “ketika anak perempuan saya mengatakan mereka “tidak ingin” melakukan pekerjaan terbaik mereka pada pekerjaan rumah, saya berkata, ‘siapa saja dapat melakukan apa yang mereka sukai. Tapi jika kamu dapat melakukan hal – hal tidak kamu sukai, kamu dapat melakukan apapun.”
2.      Ajarkan pentingnya tujuan
Mose Durst berkunjung ke sekolah private kecil K-8 di San Leandro California, yang disebut Akademi Utama (www.principledacademy.org) . dia menulis sebuah buku Principled education, di mana ia berpendapat bahwa pendidik harus bertanya pada diri sendiri dan melibatkan para siswa dalam meminta- pertanyaan tentang “hal – hal pertama.” Misalnya pertanyaan, apa yang membuat hidup layak? Apa yang dimaksud dengan kehidupan yang terhormat dan berbudi luhur? Untuk apa yang harus kita berikan upaya kita? apa tujuan pembelajaran?
Ketika durst, mengajarkan menulis anak kelas tujuan dan delapan the princiled academy, ia mulai dengan berbicara kepada tentang tujuannya : “saya mejelaskan bahwa pertama -  tama, kita harus memiliki cinta pada kebenaran, kita harus melihat menulis sebagai cara untuk mengkomunikasikan dengan kebenaran, kita harus dapat mengungkapkan kepada orang lain-dengan cara yang indah-kebenaran tentang hidup kita sendiri atau dengan kehidupan seperti yang kita pelajari dari sebuah karya satra. Saya menemukan, bahwa jika saya bisa mendapatkan siswa untuk berhubungan dengan tujuan tulisan, mereka lebih termotivasi untuk mengambil tantangan.”
3.      Ajarkan pentingnnya keunggulan.
Termotivasi oleh kesadaran akan tujuan, siswa lebih cenderung terlibat dalam usaha pencarian keunggulan.
Oleh karena itu, langkah berikutnya adalah untuk melibatkan mereka dalam usaha. Karena, usaha yang rajin diperlukan untuk mengejar keunggulan. Di SMP Mose Durst, belajar menulis berarti belajar untuk menulis ulang. Pertama, dia membuat salinan draft masing – masing siswa di kelasnya. Bersama – sama, kelas mengidentifikasi sebuah kekuatan dari masing – masing tulisan dan ruang untuk perbaikan. Dia bekerja dengan siswa tidak hanya untuk membuat tata bahasa dan tanda baca mereka benar; melainkan juga, membuat mereka belajar mengenai gaya pada berbagai struktur kalimat sehingga mereka menghasilkan sintasis kalimat yang menyenangkan.
Ketika kita menemukan intruksi kualitas ini, kita dapat melihat mengapa belajar mengajar dapat dianggap tindakan moral. Terdapat dedikasi diri untuk sesuatu yang ada pada dasarnya bermanfaat. Kita belajar untuk taat kepada tuntutan proses. Prinsip belajar mengataka bahwa tidak ada jalan pintas untuk mecapai kualitas, semua pelajaran ini membangun karakter.
4.      Ajarkan pentingnya integrasi.
Laura brewer heileg adalah ketua departemen matematika dieleanor roosevelt high school, sekolah community of curing tahun 2002 dan digreebelt, maryland. (kontak barbara luther ketua pendidikan karakter, bluther@pgcps.org.) dengan hampir tiga ribu siswa (56 persen afrika-amerika, 10% asia, 30% kaukasian, dan 4% hispanik). SMA itu adalah SMA terbesar di negara bagian Maryland dan juga memiliki catatan akademis terkemuka, seperti presentase siswa minoritas yang telah meningkat, sehingga memiliki nilai pada SAT (scholastic aptitude tes).
Selain daripada itu, laura brewer heileg adalah tipikal pengajar sekolah. Dia benar – benar serius dalam belajar, benar – benar berkomitmen untuk karakter di kedua dimensi yang berhubungan dengan pekerjaan dan moral. Katanya, “saya melihat hubungan guru dengan murid sebagai dasar untuk segala sesuatu, yang saya inginkan adalah siswa itu mengetahui jika mereka melakukan seseuatu yang salah atau buruk itu akan berhubungan dengan kami selaku gurunya.”
Kepercayaan ini merupakan kerangka bagaimana dia membahas masalah – masalah seperti kejujuran akademik.
Saya menggunakan sedikit humor,misalnya saya bertindak dengan segala cara sehinnga saya tahu siswa kadang – kadang menipu, termasuk menggunakan palm Pilots mereka untuk e-mail jawaban tes siswa lain. Mereka tertawa, tapi aku ingin mereka tahu mengapa kecurangan benar – benar mengganggu saya. Saya memberitahu mereka, anda dapat memulihkan cukup cepat dari nilai nol pada suatu tes, jika anda tertangkap melakukan kecurangan. Tapi itu butuh waktu lama untuk pulih dari tindakan ketidakjujuran. Hal ini, mnciptakan kecurangan kepercayaaan antara kami dan akan mrusak hubungan kita.
            “saya merasa saya tidak hanya mengajar matematika, tetapi saya juga mengajari perkembangan manusia seutuhnya,”katanya kpada siswa.
5.      Ajarkan Seakan Siswa Bisa Bertanggung Jawab Atas Pembelajaran Mereka.
            (Coumbine lementary School di Woodland Park , Colorado, adalah sekolah Karakter Nasional tahun 2000. Pernyataan misinya bahwa, sekolah berkomiten dengan membantu “setiap anak menjadi kompeten dalam keterampilan akademik, bertanggung jawab atas tindakan mereka, percaya diri dalam kemampuan mereka, dan antsias terhadap pembelajar sepanjang hayat.” Untuk membuat tujuan – tujuan ini menjadi kenyataan columbine memiliki tujuh standar tanggung jawab pribadi dan sosial, “ serta dipandang sbagai “ kebiasaan pikiran” yang diintegrasikan kedalam instruksi kelas dan kartu laporan siswa, seperti brikut ini.
1.      Praktek kemampuan berorganisasi
2.      Mendukung dan berinteraksi secara positif dngan orang lain
3.      Sangat antusias belajar.
4.      Mengambil resiko dan menerima tantangan
5.      Menerima tanggung jawab atas perilaku diri sendiri
6.      Mendengarkan dengan penuh perhatian mengikuti arah, tetap berada pada tugasnya.
7.      Melakukan evauasi belajar diri sendiri.
Setiap standar dipecah menjadi empat atau lima ketrampilan khusu. Untuk masing – masing keterampilan ada empat tingkatan kompetensi, yaitu berkembang dasar mahir, dan maju. Grafik dipasang  diseluruh sekolah untuk membantu siswa memahami standar – standar atau kebiasaan yang baik akan terlihat dalam praktik, misalnya; item pertama di bawah ini “keteramppilan praktik organisasi’ ada hbungannya dengan “melengkapi dan melakkan pekerjaan.” Empat tingkat kompetensi dalam keterampilan tertentu adalah :
·         Berkembang : saya jarang menyelesaikan pekerjaan dngan tepat waktu
·         Dasar : terkadang saya ingat untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi saya btuh banyak orang yang mengingatkan.
·         Mahir : saya biasanya ingat untuk menyelesaikan pekerjaan dngan sdikit pengngt saja.
·         Maju : saya konsisten mnyelesaikan pekerjaan saya tanpa pengingat.
Guru mengajar siswa dengan  tujuh standar dan menggunakannya untuk mengevauasi perkembangan siswa. Siswa menggunakannya untuk menilai diri sendiri. Dalam majelis, para murid kelas lima ( nilai tertinggi di sekolah ) melakukan sandiwara lucu, menampilkan jenis prilaku yang memenuhi, baik itu yang standar tertentu maupn tidak. “ itu sebuah bagasi,” kata peneliti utama. Michael Galvin. Sebelum orang tua, guru konferensi, para guru duduk bersama dan semua menilai secara individu dimana mereka berada pada standar dan membantu untuk menetapkan tujuan mereka.
“siswa kami benar – benar kecanduan gagasan tentang menyadari pembelajaran mereka sendiri,” komentar Galvin. “setelah anada mencapai hal itu, anda bisa melepaskan insentif ekstrinsik. Anda akan mlihat kemajuan yang banyak disekolah ini.
6.      Menggunakan Proses Pembelajaran Yang Menjadikan Pengembangan Karakter Sebagai Bagian Dari Setiap Pembelajaran.
            Psikologi pendidikan, spencer kagan, menunjukkan bahwa dalam pendidikan karakter kemungkinan bagaimana kita mengajarkan, lebih penting daripada apa yang kita ajarkan.jika kita ingin pendidikan karakter dapat masuk kedalam situasi kehidupan nyata kinerja diluar kelas, maka kita harus menggunakan kelas sebagai “struktur belajar” yang memungkinkan siswa untuk mempraktikkan kebaikan.
            Salah satu  cara untuk membuat struktur pembelajaran merupakan bagian integral dari instruksi akademis sehari – hari yang digambarkan oleh Maureen Muiderig , Kepala sekolah dasar walberta Park utama di syracuse, New York.
            Dalam setiap mata pelajaran, guru dapat menggunakan pembelajaran terstruktur yang disebut dengan “numbered heads Togethr”. Anak – anak menghitung dari ( satu, dua, tiga), dan kemudian guru menimbukan pertanyaan seprti, “bagaimana car mengeja Zebra?” atau “apa yang menebab turunnya salju?” langkah pertama, siswa menuliskan tanggapan secara individu , kemudian dalam kelompok mereka membandingkan dan mendiskusikan ide – ide serta menghasilkan sebuah jawaban yang disepakati bersama, untuk memastikan bahwa setiap anggota kelompok mengetahui jawabannya. Elanjutnya,guru memanggil nomor siswa dengan nomor yang disbutkan tadi harus mennjukkan atau menjelaskan jawaban mereka  di depan kelas.
Struktur belajar memberikan latihan kemampuan berorgnisasi anak – anak  dengan penuh perhatian dan menghargai dalam mendengarkan, saling membantu memahami konsep sampai konsesus, dan mengambil tanggung  jawab untuk diersiapkan sebagai laporan jawaban kelompok seluruhnya di kelas.
Di sekolah Mulderig, sebuah kelompok pendukung guru yang disebut SAM ( struktur a month ) bertemu untuk berbagi mengenai cara guru yang telah menggnakan struktur fokus pada bulan itu, memecahkan masalah tantangan ,dan mempelajari struktur baru untuk buan berikutnya. Ini merupakan ide berbagi yang konstan untuk membantu guru dan merasa didukung, memperbaiki praktek mereka, dan memperdalam komitmen mereka untuk pengajaran yang efektif. (untuk lebih banyak cara dalam menggunakan struktur belajar, lihat artikel kagans pada tahun 2002 di buletin musim semi pusat).
7.      Mengelola Ruang Kelas Supaya Karakter Menjadi Penting
            Guru bijak dalam membangun karakter melalui bidang akademik dengan cara mengelola kelas mereka yang mendorong tanggung jawab intelektual dan etika.
            Sebagai contoh, scott tiley, mantan instruktur laboratorium komputer yang sekarang menjabat sebagai kepala sekolah menengah di Mochigan Grosse point Academy, menggunakan “janji komputer” untuk mengajarkan etika komputer. Setelah membahas sebuah perjanjian dengan murid – muridnya, ia meminta mereka untuk menandatanganinya sebagai ungkapan komitmen mereka terhadap kode moral kelas.
GROSS POINTE ACADEMY JANJI PEMAKAIAN KOMPUTER
1.      Saya berjanji saya akan menghormati undang – undang hak cipta.
Tidak menyalin software tanpa izin. Menghormati apa yang orang telah ciptakan dan hanya menggunakn salinan hkum perangkat lunak yang legal.
2.      Saya berjanji saya akan hati – hati dengan hardware. Memperlakukan setiap komputer, keyboard, dan mouse dngan baik. Melaporkan apapun yang tidak bekerja ( rusak ).
3.      Saya berjanji saya akan menghormati “privasi elektronik.” Anda bisa membka hanya tiga jenis foldr di jaringan GPA: anda sendiri, folder kelas, dan folder yang tersembunyi.
4.      Saya berjanji saya akan meninggalkan komputer seperti saya pertama kali menemukannya. Harap jangan menginstal perangkat lunak atau mengubah control panel, jam, warna pola,pengaturan dekstop, font  dan lain – lain.
5.      Saya berjanjisaya akan melakukan apa yang saya bisa untuk membantu GPA lab komputer.
Setiap orang membutuhkan sebuah bantuan di beberpa titik.
Saya telah membaca janji di atas dan memberikan kata – kata saya sebagai mahasiswa atau anggota fakultas untuk mengikutinya. Saya adalah bagian dari komunitas pengguna komputer dan saya tahu apapun yang saya lakukan memiiki efek pada orang lain,
Beberapa guru memberikan siswa tanggung jawab, itu berarti berlaku juga bagi kehidupan akademik kelas secara teratur meminta masukan mereka tentang bagaimana pendekatan unit yang akan datang. Seorang guru bertanya, misalnya “apa yang paling menarik yang bisa kita gunakan untuk mempelajari perang saudara? Jika kita tidak bisa melakukan itu, apa cara kedua yang paling menarik yang bisa dilakukan untuk mempelajarinya?” ketika sisw amelihat ide – ide mereka digunakan oleh guru, mereka merasa dihormati sebagai pemikir dan menjadi lbih berkomitmen dala belajar.
8.      Ajarkan Muatan Kurikulum seperti Persoalan Karakter
Mengajarkan karakter dan akademik secara bersamaan, gunanya untuk melihat kurikulum melalui kacamata karakter. Apa saja kesempatan alami untuk menyoroti karakter yang dapat ditemukan di hampir semua subjek akademik?
Pertama – tama kita harus melihat perkembangan karakter sebagai tujuan mendasar dari kurikulum akademik. Sebagaimana yang diungkapan kevin ryan dan karen bohlin bahwa dalam pembangunan karakter di sekolah, kurikulum harus membawa warisan intelektual dan moral dari budaya kita. Yang terbaik kurikulum adalah sumber kebijaksanaan moral dancontoh bagaimana untuk hidup dengan tujuan. Dalam stiap disiplin akadmik, bahan biografi dan otobiografi dapat memperknalkan siswa pada sebuah prestasi yang menimbulkan pertanyaan seperti, apa kekuatan dari karakter yang memungkinkan kita untuk mencapai apa yang mereka inginkan? Apa kendala yang mereka hadapi dalam mencapainya?
Seorang guru ilmi alam dapat mempromosikan penghormatan terhadap linkungan dan kebajikan hati dalam mengumpulkan data, kejujuran dalam pelaporan, itu merupakan kerja sama dalam mengejar pengetahuan yang dibutuhkan untuk ilmu. Guru matematika dapat pengetahuan yang dibutuhkan untuk ilmu. Guru matematika dapat menekankan pentingnya ketekunan, model empati siswa dengan mengajarkan cara yang mengakomodasi perbedaan individu dan menumbuhkan keterampilan kerja sama melalui pembelajaran kooperatif. Guru IPS dapat menumbuhkan apresiasi terhadap keragaman budaya, mempelajari perjuangan untuk keadilan spanjang sejarah manusia manusia dan belajar tindakan individu yang bermoral atau jahat yang telah mengubah perjalan sejarah. Guru bahas aasing dapat menggunakan internet untuk mencari berita terbaru ( tentang perang dan perdamaian, dan kelaparan didunia) melaporkan dalam bahasa yang diteliti dan menggunakan informasi tersebut untuk mengembangkan perspektif global. Sedangkan guru seni dan musik dapat membantu siswa menghargai kekuatan estetika dalam mengangkat semangat kemanusiaan dan disiplin diri yang dibutuhkan untuk kerja kreatif dan berkelanjutan.
Dalam sebuah esai yang kaya akan pengetahuan moral, william Bennett bertanya “apakah kita ingin anak kita tahu apa artinya keberanian ?” kemudian kita harus mengajar mereka tentang kebaikan dan kasih dijembatan. Apakah kita ingin mreka tahu tentang kebaikan dan kasih sayang serta kebalikannya? Kemudian mereka harus membaca A Christmas Carol dan The Diary of Anne Frank dan kemudian , king Lear. Apakah kita ingin mreka tahu bahwa kerja keras itu akan terbayar? Kemudian kittry Hawk dan Booker T. Washington untuk belajar membaca. Apakah kita ingin mereka memahami bahaya konformitas yang tidak beralasan? Kemudian kita harus membaca dan mendiskusikan The Emperor’s New Clothes. Jika kita ingin mereka menghormati hak orang lain, mereka harus mempelajari The Declaration of Independence, the Bill of Rights, the Gettysburg Address, dan Martin Luther King, Jrs “Letter from Birmingham jail.”
Sesekali guru belajar melihat hubungan karakter dalam bidang akademis mereka, ini langkah pendek untuk mengajarkan standar negara dan karakter pada saat bersamaan. Making Character Education a “Standard” Part of Education, karya Linda McKay dan Kristin Fink untuk Persekutuan Pendidikan Karakter Character Education Partnership, memberikan contoh bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter dan standar belajar.
9.      Gunakan Kurikulum Sekolah yang Luas untuk Mengajar Kebijakan Moral dan Intelektual
Kebijakan inti (Core Virtues) adalah ke-6 seluruh kurikulum pendidikan karakter sekolah interdisipliner yang menggunakan kekuatan fiksi dan nonfiksi, berintegrasi dengan sejarah Amerika, peradaban dunia, dan seni rupa. Setiap kelas mempelajari seperangkat kebijakan yang berbeda, dengan beberapa kebijakan ditangani lebih dari satu tingkat. Kurikulum ini dikembangkan dan diuji oleh Mary Beth Klee dan rekannya.
Kurikulum kelas berguna untuk membangun kelas yang kaya. Kebijakan inti (Core Virtues) memiliki fokus kepada seluruh sekolah bulanan dan melebar pada suatu kebijakan umum, termasuk kualitas, seperti harapan, sukacita, penata layanan, kelembutan, dan pengampunan. Dalam setiap kelas, disetiap tingkatan, setiap harinya dimulai dengan berkumpul di pagi hari (Morning Gathering), puncaknya membaca dan membahas cerita yang berhubungan dengan kebijakan bulanan. Kebijakan inti (Core Virtues) juga mencakup bibliografi yang bernotasi luas dari sastra anak-anak.
Kritikus budaya Niel Postman, dalam bukunya Tecnopology, menulis “pendidikan sekuler modern gagal, karena tidak memiliki pusat , moral sosial, atau pusat intelektual. Kurikulum ini bukan program studi sama sekali, akan tetpai campur aduk dari subjek. Bahkan, itu tidak menempatkan sebuah visi yang jelas tentang orang yang berpendidikan”. Program Core Virtues menawarkan contoh kurikulum koheren yang memang memiliki pusat moral dan intelektual serta visi dari orang yang berpendidikan, yaitu karakter seseorang yang didasarkan pada studi tentang kebijakan moral dan intelektual.
10.  Menyusun Diskusi Seperti Masalah Karakter
Memanfaatkan potensi pembangunan karakter dari kurikulum tergantung pada kemampuan guru untuk fokus berpikir tentang siswa pada dimensi karakter material yang ada. Misalnya, salah satu momen paling mengesankan dalam karya klasik Mark Twain klasik Huckleberry Finn. the Bounty Hunters yang mencari Jim, budak yang melarikan diri dan pendamping Huck di rakit sungai, serta memberi Huck jika ia telah melihatnya. Huck memutuskan berbohong melindungi Jim, meskipun dia tahu bahwa hukum meminta kembalinya seorang budak yang melarikan diri dan meskipun ia berpikir bahwa ia mungkin masuk neraka karena berbohong.
Dalam Building Character in Schools, Ryan dan Bohlin mengamati bahwa banyak guru mungkin bertanya pada saat ini, “Apakah Huck melakukan hal yang benar?” ini merupakan “dilema moral” pendekatan yang melibatkan para siswa dalam membahas pro dan kontra dari keputusan moral tertentu. Di tangan seorang guru yang terampil semua ini dapat dikembangkan menjadi kekuatan penalaran moral siswa. Kelemahan dari metode dilema ini adalah diskusi yang berakhir dengan keadaan kelas masih terbagi dan pertanyaan moral yang masih belum ditemukan solusinya. Siswa dibiarkan begitu saja dengan kesan bahwa ada argumen yang terdengar masuk akan terhadap hampir semua hal dan moralitas itu hanya masalah pendapat. Apalagi pertanyaan mengenai karakter yang tersisa dan belum diselidiki.
Contoh kebijakan yang berpusat pada pertanyaan guru yang mungkin timbul : “Apa yang anda pelajari dari karakter yang mungkin bisa membantu anda dalam pengembangan karakter Anda sendiri? Manakah tokoh dalam novel, menurut penilaian Anda, yang memiliki karakter terburuj dan beri alasannya? Mengapa?
11.  Mengajar Persoalan Kebenaran
“Apakah planet ita terancam oleh kelebihan penduduk, atau Apakah pemanasan global benar-benar terjadi, dan jika demikiam seberapa serius timbulnya ancaman itu?”
Pertanyaan seperti itu merupakan pertanyaan tentang apa yang benar-benar terjadi. Mereka menjelaskan bahwa di sekolah dan dalam hidup mereka penuh dengan kebijakan lainnya. Sedangkan intelektual penting itu adalah mengejar kebenran yang menyatakan, bahwa kebijakan termasuk sekelompok pendukung kebijakan intelektual: keterbukann untuk mempertimbangkan semua sisi dari sebuah isu dalam mencari seluruh kebenaran, sebuah penghormatan terhadap bukti bahkan ketika bertentangan dengan prasangka kita, kesediaan untuk mengakui kesalahan; keinginan terus belajar; dan kerendahan hati dalam menghadapi semua yang kita tidak tahu.
Namun untuk tujuan kebenaran dan melihat pendidikan sebagai pencarian kebenaran fundamental, kita harus terlebih dahulu percaya bahwa kebenaran objektif ada dan bisa diketahui. Beberapa sekolah saat ini—pemikiran subyektivisme dan postmodernisme, misalnya – berpendapat bahwa semua “kebenaran “ adalah subjektif, yang kami proses melalui pengalaman pribadi kita “saring” dan dengan demikian membuat kebenaran kita sendiri. Dalam debat nasional tentang cara mengajar sejarah beberapa sejarawan seperti dalam buku History on Trial – berpendaapat bahwa itu adalah “kebodohan yang masuk akal” untuk percaya bahwa sajarah “fakta” nyata “secara objektif dan independen dari interpretasi sejarawan”.
Ada kebenaran parsial di lini argumen, tapi mengakui bahwa interpresi sejarah didasarkan seharusnya tidak menyebabkan kita menyerah berjuang untuk objektivitas dan kelengkapan yang lebih besar dalam mendapatkan catatan sejarah yang benar. Ketika sejarawan dari masa lalu telah terbukti salah, mereka telah terbukti salah tentang hal-hal nyata; klaim mereka tentang masa lalu berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi.
Tujuan kebenaran apakah itu kebenaran sejarah, kebenaran ilmiah, atau moral kebenaran adalah kebenaran yang independen dari orang yang berpengetahuan—Benar atau tidak saya tahu itu. Untuk memberikan sebuah contoh nyata, fakta bahwa Franklin Delano Roosevelt adalah Presiden AS ketika Pearl Harbor dibom secara objektif benar apakah saya tahu hal itu terjadi.
Gagasan tentang kebenaran moral objektif memiliki implikasi yang besar untuk pendidikan karakter. Jika kebenaran moral yang murni subjektif, tidak akan ada tujuan yang benar atau salah, tidak ada standar moral mengikat yang harus diikuti setiap orang. Benar dan salah memang ada, maka tugas sebagai moral yang pertama untuk semua orang adalah untuk melihat kebenaran dan untuk membentuk hati nurani kita yang benar, sesuai dengan apa yang benar-benar tepat.
Sebagai bangsa, kita sekali lagi tidak setuju tentang perbudakan dan hak perempuan untuk memilih.  Hari ini kita berbabeda pendapat tentang isu berbeda pendapat tentang isu-isu, seperti aborsi, hukuman mati, dan bagaimana cara merespon teroris. Tapi faktanya bahwa beberapa masalah yang kontroversial atau kompleks hendaknya tidak membatasi kita dari kegigihan dalam mencoba untuk mengetahui kebenran yang lengkap dan objektif. Di masa lalu, yaitu bagaimana kesalahan intelektual dan moral kita dikoreksi.
Contohnya yaitu dari realitas sejarah yang menggarisbawahi pentingnya mencari kebenaran objektif. Siapa yang bertanggung jawab dalam perdagangan budk mengerikan yang disediakan budak pra-Perang Saudara Amerika? Dalam penerbitan panduan guru, guru dan siswa bahwa orang Afrika “diculik”, “ditangkap”, atau diculik tanah air mereka saat migrasi paksa terbesar dalam sejarah.
Panduan ini tidak menyebutkan bahwa hanya dari keluarga kerajaan Afrika dan penyedia budak pribumi bermakna dalam memasok pedagang budak Eropa. Sebaliknya, sebagai contoh dari sumber  yang tidak ada kebenaran sementara, sejarawwan Sheldon Stern mengutip dari buku yang disertai empat bagian terakhir seri PBS, “perjalanan Amerika melalui perbudakan”.
“Setiap permintaan maaf untuk perbudakan”, Sterm mengatakan, “juga harus bergabung dengan Portugal, Inggris, Prancis < dan terutama Brasil, yang dibeli lebih dari enam kali budak Afrika dari Amerika Serikat. Amerika yang diterima dibawah 5% dari orang Afrika dibawa ke Dunia Baru. Selain itu, kaum muslim negara-negaran Arab, yang diimpor budak Afrika lebih dari belahan bumi barat, bisa menghadapi massa lalu mereka dengan membantu untuk menghapuskan perbudakan yang berlangsung hari ini di Mauritania dan Sudan.” Dalam mempelajari seluruh kebenaran tentang perbudakan siswa tidak hanya belajar tentang sejarah tetapi juga sebuah pelajaran oenting tentang sifat manusia: Tidak ada bangsa atau ras yang memiliki monopoli jahat.
12.     Mengajar dengan Keseimbangan Komitmen
Komitmen terhadap kebenaran sering diterjemahkan ke dalam komitmen untuk keseimbangan. Sarjan Harvard Petrus Gibbon, penulis A Call to Heroism: menulis tentang kuang pentingnya keseimbangan dalam pengobatan terbaru dari sejarah Amerika dan tokoh-tokoh sejarah tertentu.
Yang benar adalah kurang dilayani jika kita menghiangkan atau menyembunyikan kesalahan bangsa kita dan kegagalan, seperti perpindahan dan pembunuhan terhadap penduduk assli Amerika, perbudakan dan segregasi orang kulit hitam, para interniran Jepang-Amerika selama Perang Dunia II, dan kebijakan luar negeri yang telah mendukung pemerintahan represif. Tapi sebenarnya juga kurang dilayani jika kita memberi tekanan negatif dan meremehkan prestasi dan kebijakan negara kita. Memang, berdasarkan payriotisme, yang didefinisikan sebagai cinta mulia dinegara seseorang mengharuskan kita mengakui tida hanya kekurangan bangsa kita tetapi juag cita-cita demoktasi yang tealh mamacu untuk kenajuan mora-setidaknya di beberapa daerah—dalam mempersempit kesenengan antar apa yang kita anut dan pa yang kita latih’
Gibbon mengatakan bahwa ketika ia melakiukan perjalanan di seluruh negeri berbicara dengan siswa tentang tokoh-tokoh Amerika seperti George Washington, mereka cenderung sinis, dengan fokus pada kesalahan—pada kenyataannya, misalnya Washington memiliki budak. (washington tidak seperti Benjamin Franklin, pergi dari menjadi pemilik budak menjadi perbudakan, tapi dia budak bebas sebelum kematinnya.) dia mengingatkan para siswa bahwa Washington itu manusia. Ayahnya meninggal saat ia berusia sebelas tahun. Dia menyaksikan saudaranya Lawrence meninggal karena TBC dan anak tirinya Pasty menyerah pada epilepsi. Wajahnya sendiri terkena cacar, tubuhnya lemah karena malaria. Ketika revolusi Amerika datang, ia tidak ingin menjadi komandan. Prajuritnya sedikit dan tidak terlatih, dan mengalah i tangan Inggris, negara adidaya abad kedelapan belas, sering tampak tertentu. Tapi dia tidak berhenti. Dia belajar mengelak dan mundur dan menggunakan padang gurun. Dia memaksakan diri untuk tampil percaya diri meskipun frustasi dan kelelahan.
“Saya memberitahu murid-murid” kata Gibbon, “bahwa Washington besar karena ia menunjukkan keberanian yang luar biasa – tidak hanya keberanian untuk menghadapi peluru, tapi keberanian untuk tetap berpegang pada penyebab tidak peduli seberapa besar kemungkinan, untuk melepaskan kegagalan dan melampaui rasa sakit, untuk mengambil resiko dan untuk tumbuh.”
Ketika perang usai, Washington ingin pensiun untuk hidup tenang merawat kebunnya di Gunung Vernon. Tapi negara baru itu rapuh dan ingin dia menjadi presiden pertama. Dia menempatkan kesejahteraan negaranya sebelum kebahagiaan persural dan menjabat selama delapan tahun. Sebagai presiden, ia adalah seorang ahli administrator dan negarawan yang bijaksana, selalu menempatkan kehormatan di atas politik, Washington tidak cemerlang seperti Hamilton atau fasih seperti Jefferson, “Gibbon menyimpulkan, “tapi presiden pertama kami memiliki karakter.”
13.  Model keseimbangan dan keadilan dalam berurusan dengan isu – isu kontroversial.
Keseimbangan juga harus mencirikan penanganan sekolah isu kontroversial, apapun masalahnya seperti aborsi, hukum hati, homoseksual, aytau perang melawan irak. Untuk menghormati keragaman pandangan mengenai isu – isu moral seperti yang ada dalam sekolah dan mayarakat sekitarnya, pendidik sekolah umum harus berhati – hati untuk mengobati masalah kontroversial dengan cara yang adil untuk perspektif yang saling bertentangan atau tidak mengobatinya sama sekali.
Kontroversi adalah kesempatan penting bagi orang dewasa untuk memodelkan bagaimana menyelesaikan isu – isu moral yang kompleks. Dalam soal perang dan damai, apa yang telah filsuf moral historis dikemukakan sebagai kriteria untuk “perang adil”? apa mungkin jangka panjang serta jarak pendek konsekuensi dan intervensi militer melawan upaya diplomatik? Untuk mengekspos siswa ke argumen beralasan di kedua sisi masalah ini, satu guru di sekolah menengah atas Albuquerque yang sangat menantang perang melawan irak menyelenggarakan debat di kelasnya antara dirirnya dan seorang rekan yang mendukung aksi militer. Dengan demikian ia tidak hanya membantu siswa mendapatkan pengetahuan lebih untuk menarik dari dlalm membuat penilaian tentang perang, dia juga mengajarkan mereka sebuah pelajaran tak terlupakan dalam integrasi intelektual.



14.  Ajarkan persoalaan keadilan.
Bahkan anak – anak muda memiliki dasar rasa keadilan. Salah satu tantangan paling penting dari pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan pengertian itu menjadi kesadaran sosial yang kaut, komitmen universal ke pangadilan.
Apa itu keadilan? Memprlakukan orang lain sebagaimana mereka layak dipeerlakukan. Kita harus membantu siswa menghargai bahwa setiap orang memilki martabat intrisik dan nilai – nilai suci, jika seseorang percaya bahwa kita masing – masing diciptakan menurut gambaran Allah. Tidak ada orang yang memilki nilai lebih atau krang dari yang lain. Setiap kehidupan manusia adalah unik, berharga, dan diulang. Setiap manusia memiliki hak asasi manusia yang berasal dari martabat kita sebagai makhluk hidup.
Anak – anak, tentu saja, tidak dapat memecahkan masalah dunia. Tapi mereka setidaknya harus tahu tentang mereka dan ditantang untuk mengambil langkah – langkah kecil, bahkan saat mereka masih di sekolah, untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih adil dan peduli.
Terkhir, kita harus menantang siswa untuk memperluas konsep keadilan mereka untuk memasukkan makhluk hidup selain manusia. Anak – anak, pada kenyataannya, sering memiliki sebuah sebuah empati untuk hewan yang dapat memberikan titik awal mengembangkan arti yang luas soal keadilan.
Harus cukup jelas bahwa pendidikan untuk kecerdasan dan mendidik untuk karakter moral adalah tujuan yang sama pentingnya dengan pendidikan karakter. Dua cara utama yang menunjukkan karakter siswa di sekolah adalah melakukan pekerjaan mereka dengan tekun dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Dan itu harus jelas mengapa perkembangan intelektual dan pertumbuhan moral keduanya penting bagi pembangunan manusia penuh dan kemajuan dunia. Jika kita ingin siswa menjadi pemecah masalah yang kompeten dan kreatif mampu meningktakan kondisi manusia, kita lebih baik membantu mereka mengasah kemampuan intelektual. Jika kita ingin mereka menggunakan otak untuk kepentingan orang lain dan bukan hanya diri mereka sendiri, kita lebih baik membantu mereka mengembangkan kesadaran moral.
Pendidikan karakter, dipahami benar, bertujuan untuk mengembangkan kepribadian. Seluruh siswa lebih baik, masyarakat lebih baik. Ini adalah yayasan yang dibangun di atas segala sesuatu. Itu sebabnya dalam kata – kata Dr. Jhon Walko, direktur akademi Rusell sage Colllege untuk pendidikan karakter,”pendidikan karakter bukan sesuatu yang lain di piring anda. Ini piring anda.”

BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan.
Untuk menjadi seorang yang berkarakter, berarti menjadi orang yang terbaik. Oleh karena itu, tumbuh dalam karater berarti berkembang dengan potensi etika dan potensi intelektual kita. Pendidikan karakter dan pendidikan akademik saling berkaitan satu sama lain karena program pendidikan karakter dari sekolah dapat meningkatkan kualitas hubungan manusia antara orang dewasa dengan anak – anak dan anak – anak degan sesamanya, dengan demikian akan memprbaiki lingkungan untuk mengajar dan belajar, dan upaya pendidikan karakter mencakup program akademik yang kuat dalam mengajarkan keterampilan siswa dengan kebiasaan bekerja keras akan meningktkan pendidikan akademiknya.
Strategi praktis agar mengajarkan akademik dan karakter secara bersamaan antara lain: sebutkan kebajikan yang dibutuhkan untuk menjadi siswa yang baik, ajarkan pentingnya tujuan, ajarkan pentingnya keunggulan, ajarkan pentingnya integrasi, ajarkan seakan siswa bisa bertanggung jawab atas pembelajaran mereka, menggunakan proses pembelajaran yang menjadikan pengembangan karakter sebagian besar dari setiap pembelajaran, mengelola ruang kelas supaya karakter menjadi penting, ajarkan muatan kurikulum seperti persoalan karakter, gunakan kurikulum sekolah yang luas untuk mengajar kebaikan moral dan intelektual, menyusun diskusi seperti masalah karakter, mengajarkan perosalan kebenaran, mengajar dengan keseimbangan komitmen, model keseimbangan dan keadilan dalam berurusan dengan isu – isu kontroversial, dan ajarkan persoalan keadilan.

3.2  Saran.
Sebagai calon seorang guru kita harus memahami tentang pendidikan karakter karena hal ini bertujuan untuk mengembangkan kepribadian siswa kita nantinya. Agar seluruh siswa nantinya menjadi warga masyarakat dan negara yang lebih baik. Masalah pendidikan karakter bukan hanya sekedar masalah orang lain tetapi juga masalah kita, dan kita harus mencari solusinya bersama seperti dalam kata – kata Dr. Jhon Walko, direktur akademi Rusell sage Colllege untuk pendidikan karakter,”pendidikan karakter bukan sesuatu yang lain di piring anda. Ini piring anda.”




DAFTAR PUSTAKA

Lickona thomas.(2012).Character Matters.Jakarta:Bumi Aksara.

No comments:

Post a Comment