BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau
buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Menyadari akan hal tersebut,
pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem
pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas
dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses
pendidikan. Dalam proses pendidikan di sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu
sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan
sejumlah bahan pelajaran ke dalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik
guru bertugas membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia susila
yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri.
Menurut Theodore dan Nancy sizer dalam buku
Character Matters “Sekolah telah lama memiliki tiga tugas pokok, yaitu
mempersiapkan anak muda untuk dunia kerja, mempersiapkan mereka untuk
menggunakan pikiran mereka dengan baik, berpikir mendalam; dan mempersiapkan
mereka untuk menjadi warga negara yang bijaksana serta manusia yang layak.”
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia.
Lembaga pendidikan
tidak hanya bertujuan untuk mempersiapkan anak bangsa dalam kepentingan dunia
kerja pada masa yang akan mendatang. Tetapi juga membentuk manusia yang utuh
seperti Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia. Lembaga pendidikan dalam bidang
akademik juga berperan membentuk karakter
anak bangsa. Terkadang banyak guru sebagai pendidik di sekolah hanya
menyampaikan ilmu yang telah dimiliki kepada siswa dan hanya memenuhi
tuntutannya di sekolah. Mereka memiliki alasan bahwa tidak ada waktu untuk
mendidik karakter siswanya di sekolah. Untuk menjawab permasalahan tersebut,
pada makalah ini kami akan membahas tentang bagaiman mengajar akademik dan
karakter secara bersamaan.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Apakah
dengan melakukan pendidikan karakter akan meningkatkan pembelajaran akademik?
2. Bagaimanakah
strategi praktis agar mengajarkan akademik dan karakter secara bersamaan akan
tercapai?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui dengan melakukan pendidikan karakter akan meningkatkan pembelajaran
akademik.
2. Untuk
mengetahui strategi praktis agar mengajarkan akademik dan karakter secara
bersamaan.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Melakukan Pendidikan Karakter Akan
Meningkatkan Pembelajaran Akademik.
Untuk menjadi seorang
yang berkarakter, berarti menjadi orang yang terbaik. Oleh karena itu, tumbuh
dalam karater berarti berkembang dengan potensi etika dan potensi intelektual
kita.
Kematangan manusia
termasuk pada kapasitas untuk mencintai dan bekerja. Kemudian kebajikan empati,
kasih sayang, pengorbanan, kesetiaan, dan pengampunan merupakan kemampuan kita
untuk mencintai. Sedangkan kebajikan seperti insiatif usaaha, ketekunan,
disiplin diri, dan ketekunan merupakan kemampuan kita untuk bekerja dan menjadi
seseorang yang kompeten pada tugas – tugas kehidupan.
Memahami cara ini, etos
kerja dan kompetensi bukanlah sesuatu yang terpisah dari karakter kita,
melainkan kedua hal tersebut adalah bagian dari diri kita. Bahkan, seberapa
baik kita melakukan pekerjaan, bagaimana tutur kata dan ketelitian kita dalam
melakukan pekerjaan yang besar maupun yang kecil itu adalah slah satu cara
utama kita untuk mempengaruhi kualitas hidup orsng lain. Oleh karena itu,
dibutuhkan kerja keras untuk mengembangkan bakat kita sehingga kita dapat
menggunkannya untuk menghasilkan perbedaan positif di dunia.
Setelah sekolah
memiliki pemahaman dasar – bahwa karakter yang baik diperlukan untuk hubungan
interpersonal dan prestasi pribadi, tanggung jawab sosial dan tanggung jawab
akademis – dikotomi palsu antara pendidikan karater serta akademisi untuk
menghilangkan kebajikan merupakan keunggulan manusia. Untuk menjadi sekolah
karater, sebuah komunitas kebajikan secara merata harus berkomitmen untuk dua
tujuan besar, yaitu keunggulan intelektual dan keunggulan moral.
Ketika orang melihat
pembentukan karakter dengan cara ini sebagai dasar untuk kedua prestasi
akademik dan perkembangan moral, mereka kurang cenderung mengatakan, “kita
ingin melakukan pendidikan karakter yang lebih, tetapi dengan semua tekanan
dari pembelajaran yang standar dan ujian, kita tidak punya banyak waktu.”
Jika
kita melakukan pendididkan karakter, akankah hal tersebut meningkatkan
pembelajaran akademik?
Pendidik sering
memaparkan, “jika kita menginvestigasi waktu dan energi dalam mengembangkan
program pendidikan karakter, akankah meningkatkan belajar siswa?”
Kami yakin dapat menjawab ya,
pembelajaran akademik akan meningkat, apabila :
1.
Program pendidikan karakter dari sekolah
dapat meningkatkan kualitas hubungan manusia antara orang dewasa dengan anak –
anak dan anak – anak degan sesamanya, dengan demikian akan memprbaiki
lingkungan untuk mengajar dan belajar, dan
2.
Upaya pendidikan karakter mencakup
program akademik yang kuat dalam mengajarkan keterampilan siswa dengan
kebiasaan bekerja keras serta membuat sebagian besar pendidikan mereka.
Adakah bukti untuk mendukung prediksi
ini? Ya, dua sumber menjawab tentang hal ini, sebagai berikut.
1.
Data dari setiap sekolah, yang sering
memulai dengan pendidikan karakter, karena rendahnya prestasi siswa dan
seringnya masalah kedisiplinan terlihat meningkat. Kemudian setelah tes
kenaikan nilai dan penurunan masalah kedisiplinan, maka sekolah menerapkan
program pendidikan karakter yang berkualitas.
2.
Studi penelitian terkontrol yang telah
menemukan bahwa siswa di sekolah yang melaksanakan program kualitas pendidikan
karakter mengungguli siswa di sekolah yang sebanding dalam membuat program
seperti itu, tapi belum menerapkannya.
Contoh dalam penelitian
ilmiah menyebutkan bahwa, studi nasional oleh pusat studi pengembangan
kalifornia dibandingkan selama tiga tahun. Dua belas SD melaksanakan proyek
perkembangan anak (program pendidikan karakter komprehensif menggabungkan nilai
karya sastra anak, pembelajaran kolaboratif, perkembangan disiplin, komunitas
yang peduli di sekolah, serta keterlibatan orang tua yang kuat) dengan dua
belas SD yang tidak menerapkan proram tersebut. Hasilnya bahwa siswa di sekolah
– sekolah dengan program secara signifikan unggul dalam prilaku di kelas,
motivasi prestasi, kemampuan memahami bacaan. Bahkan jika siswa melanjutkan
program ini untuk sekolah menengah (saat program karakter tidak lagi berlaku),
mereka terus menunjukkan superioritas pada pengukuran karakter, seperti
resolusi konflik dan pada keunggulan akadeik yang diukur dengan nilai titik
rata – rata nilai tes standar.
Berdasarkan
contoh diatas, pengalaman sekolah menyebutkan bahwa, pada akhir tahun sembilan
puluhan, pangawas DR. John O’conell menerapkan “3R” program karakter dalam
Allegany Maryland, yang berfokus pada respect, responsibility, and the right to
learn” (rasa hormat, tanggung jawab, dan hak untuk belajar). Referensi disiplin
terus menurun selama bertahun – tahun pertama dan kedua. Keuntungan akademik
mulai muncul selama tahun pertama, kemudia tumbuh secara signifikan selama
tahun kedua, terutama dalam peringkat SMA (lompat 41 poin dalam skor SAT),
bahkan ketika tingkat kemiskinan di kabupaten itu naik dari 46,5 menjadi 50%.
Komentar O’Connell “menciptakan lingkungan yang aman dan tertib dapat
menghormati perilaku sopan dan tanggung jawab adalah pondasi dimana
keberhasilan akademis keberhasilan berkelanjutan akan dibangun.”
Jika perkembangan
intelektual dan perkembangan moral adalah dua tujuan pendidikan karakter, apa
saja strategi praktis dimana sekolah dapat mencapaikedua tujuan secara
bersamaan.
2.2
Strategi
Praktis Agar Mengajarkan Akademik Dan Karakter Secara Bersamaan.
1. Sebutkan kebajikan yang dibutuhkan
untuk menjadi siswa yang baik.
“Harapan akademik
mengajar kebajikan,” kata Holly Salls, penulis buku dan filososfi sekolah
tinggi serta teologi guru di akademik Chicago Willow Academy. “akan tetapi,
penting menyebutkan urutannya agar membawa mereka ke dalam kesadaran baik itu
guru dan siswa.” Berikut adalah kebajikan karakter yang dia percaya dalam
program akademik yang kuat dan mengajarkan bahwa dia menantang siswa untuk
bekerja pada :
·
Tanggunga jawab terhadap peerjaan,
·
Ketelitian,
·
Organisasi dan kerapian,
·
Ketepatan waktu,
·
Kontrol diri dan kemauan,
·
Kejujuran,
·
Bekerja dengan tenang untuk menghormati
orang lain,
·
Manajemen waktu,
·
Penuh persiapan,
·
Memberikan upaya terbaik anda,
·
Konsentrasi,
·
Ketekunan,
·
Menerima kekecewaan, dan
·
Bersabar untuk sesuatu yang tidak ingin
dan lakukan.
Salls mengatakan, bahwa
“ruang kelas dan tempat untuk belajar dan mempraktikan semua kebiasaan.” Orang
tua dari siswa Willows memberikan dukungan di depan rumah. Seorang ibu dari dua
anak perempuan berkomentar, “ketika anak perempuan saya mengatakan mereka
“tidak ingin” melakukan pekerjaan terbaik mereka pada pekerjaan rumah, saya
berkata, ‘siapa saja dapat melakukan apa yang mereka sukai. Tapi jika kamu
dapat melakukan hal – hal tidak kamu sukai, kamu dapat melakukan apapun.”
2. Ajarkan pentingnya tujuan
Mose Durst berkunjung
ke sekolah private kecil K-8 di San Leandro California, yang disebut Akademi
Utama (www.principledacademy.org) . dia menulis sebuah buku Principled
education, di mana ia berpendapat bahwa pendidik harus bertanya pada diri
sendiri dan melibatkan para siswa dalam meminta- pertanyaan tentang “hal – hal
pertama.” Misalnya pertanyaan, apa yang membuat hidup layak? Apa yang dimaksud
dengan kehidupan yang terhormat dan berbudi luhur? Untuk apa yang harus kita
berikan upaya kita? apa tujuan pembelajaran?
Ketika durst,
mengajarkan menulis anak kelas tujuan dan delapan the princiled academy, ia
mulai dengan berbicara kepada tentang tujuannya : “saya mejelaskan bahwa
pertama - tama, kita harus memiliki
cinta pada kebenaran, kita harus melihat menulis sebagai cara untuk mengkomunikasikan
dengan kebenaran, kita harus dapat mengungkapkan kepada orang lain-dengan cara
yang indah-kebenaran tentang hidup kita sendiri atau dengan kehidupan seperti
yang kita pelajari dari sebuah karya satra. Saya menemukan, bahwa jika saya
bisa mendapatkan siswa untuk berhubungan dengan tujuan tulisan, mereka lebih
termotivasi untuk mengambil tantangan.”
3. Ajarkan pentingnnya keunggulan.
Termotivasi oleh
kesadaran akan tujuan, siswa lebih cenderung terlibat dalam usaha pencarian
keunggulan.
Oleh karena itu,
langkah berikutnya adalah untuk melibatkan mereka dalam usaha. Karena, usaha
yang rajin diperlukan untuk mengejar keunggulan. Di SMP Mose Durst, belajar
menulis berarti belajar untuk menulis ulang. Pertama, dia membuat salinan draft
masing – masing siswa di kelasnya. Bersama – sama, kelas mengidentifikasi
sebuah kekuatan dari masing – masing tulisan dan ruang untuk perbaikan. Dia
bekerja dengan siswa tidak hanya untuk membuat tata bahasa dan tanda baca
mereka benar; melainkan juga, membuat mereka belajar mengenai gaya pada
berbagai struktur kalimat sehingga mereka menghasilkan sintasis kalimat yang
menyenangkan.
Ketika kita menemukan
intruksi kualitas ini, kita dapat melihat mengapa belajar mengajar dapat
dianggap tindakan moral. Terdapat dedikasi diri untuk sesuatu yang ada pada
dasarnya bermanfaat. Kita belajar untuk taat kepada tuntutan proses. Prinsip
belajar mengataka bahwa tidak ada jalan pintas untuk mecapai kualitas, semua
pelajaran ini membangun karakter.
4. Ajarkan pentingnya integrasi.
Laura brewer heileg
adalah ketua departemen matematika dieleanor roosevelt high school, sekolah
community of curing tahun 2002 dan digreebelt, maryland. (kontak barbara luther
ketua pendidikan karakter, bluther@pgcps.org.) dengan hampir tiga
ribu siswa (56 persen afrika-amerika, 10% asia, 30% kaukasian, dan 4%
hispanik). SMA itu adalah SMA terbesar di negara bagian Maryland dan juga
memiliki catatan akademis terkemuka, seperti presentase siswa minoritas yang
telah meningkat, sehingga memiliki nilai pada SAT (scholastic aptitude tes).
Selain daripada itu,
laura brewer heileg adalah tipikal pengajar sekolah. Dia benar – benar serius
dalam belajar, benar – benar berkomitmen untuk karakter di kedua dimensi yang
berhubungan dengan pekerjaan dan moral. Katanya, “saya melihat hubungan guru
dengan murid sebagai dasar untuk segala sesuatu, yang saya inginkan adalah
siswa itu mengetahui jika mereka melakukan seseuatu yang salah atau buruk itu
akan berhubungan dengan kami selaku gurunya.”
Kepercayaan ini
merupakan kerangka bagaimana dia membahas masalah – masalah seperti kejujuran
akademik.
Saya menggunakan
sedikit humor,misalnya saya bertindak dengan segala cara sehinnga saya tahu
siswa kadang – kadang menipu, termasuk menggunakan palm Pilots mereka untuk
e-mail jawaban tes siswa lain. Mereka tertawa, tapi aku ingin mereka tahu
mengapa kecurangan benar – benar mengganggu saya. Saya memberitahu mereka, anda
dapat memulihkan cukup cepat dari nilai nol pada suatu tes, jika anda
tertangkap melakukan kecurangan. Tapi itu butuh waktu lama untuk pulih dari
tindakan ketidakjujuran. Hal ini, mnciptakan kecurangan kepercayaaan antara
kami dan akan mrusak hubungan kita.
“saya
merasa saya tidak hanya mengajar matematika, tetapi saya juga mengajari perkembangan
manusia seutuhnya,”katanya kpada siswa.
5. Ajarkan Seakan Siswa Bisa
Bertanggung Jawab Atas Pembelajaran Mereka.
(Coumbine
lementary School di Woodland Park , Colorado, adalah sekolah Karakter Nasional
tahun 2000. Pernyataan misinya bahwa, sekolah berkomiten dengan membantu
“setiap anak menjadi kompeten dalam keterampilan akademik, bertanggung jawab
atas tindakan mereka, percaya diri dalam kemampuan mereka, dan antsias terhadap
pembelajar sepanjang hayat.” Untuk membuat tujuan – tujuan ini menjadi
kenyataan columbine memiliki tujuh standar tanggung jawab pribadi dan sosial, “
serta dipandang sbagai “ kebiasaan pikiran” yang diintegrasikan kedalam
instruksi kelas dan kartu laporan siswa, seperti brikut ini.
1. Praktek
kemampuan berorganisasi
2. Mendukung
dan berinteraksi secara positif dngan orang lain
3. Sangat
antusias belajar.
4. Mengambil
resiko dan menerima tantangan
5. Menerima
tanggung jawab atas perilaku diri sendiri
6. Mendengarkan
dengan penuh perhatian mengikuti arah, tetap berada pada tugasnya.
7.
Melakukan evauasi belajar diri sendiri.
Setiap standar dipecah
menjadi empat atau lima ketrampilan khusu. Untuk masing – masing keterampilan
ada empat tingkatan kompetensi, yaitu berkembang dasar mahir, dan maju. Grafik
dipasang diseluruh sekolah untuk membantu
siswa memahami standar – standar atau kebiasaan yang baik akan terlihat dalam
praktik, misalnya; item pertama di bawah ini “keteramppilan praktik organisasi’
ada hbungannya dengan “melengkapi dan melakkan pekerjaan.” Empat tingkat
kompetensi dalam keterampilan tertentu adalah :
·
Berkembang
: saya jarang menyelesaikan pekerjaan dngan tepat waktu
·
Dasar
: terkadang saya ingat untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi saya btuh banyak
orang yang mengingatkan.
·
Mahir
: saya biasanya ingat untuk menyelesaikan pekerjaan dngan sdikit pengngt saja.
·
Maju
: saya konsisten mnyelesaikan pekerjaan saya tanpa pengingat.
Guru mengajar siswa
dengan tujuh standar dan menggunakannya
untuk mengevauasi perkembangan siswa. Siswa menggunakannya untuk menilai diri
sendiri. Dalam majelis, para murid kelas lima ( nilai tertinggi di sekolah )
melakukan sandiwara lucu, menampilkan jenis prilaku yang memenuhi, baik itu
yang standar tertentu maupn tidak. “ itu sebuah bagasi,” kata peneliti utama.
Michael Galvin. Sebelum orang tua, guru konferensi, para guru duduk bersama dan
semua menilai secara individu dimana mereka berada pada standar dan membantu
untuk menetapkan tujuan mereka.
“siswa kami benar –
benar kecanduan gagasan tentang menyadari pembelajaran mereka sendiri,”
komentar Galvin. “setelah anada mencapai hal itu, anda bisa melepaskan insentif
ekstrinsik. Anda akan mlihat kemajuan yang banyak disekolah ini.
6. Menggunakan Proses Pembelajaran Yang
Menjadikan Pengembangan Karakter Sebagai Bagian Dari Setiap Pembelajaran.
Psikologi
pendidikan, spencer kagan, menunjukkan bahwa dalam pendidikan karakter
kemungkinan bagaimana kita mengajarkan, lebih penting daripada apa yang kita
ajarkan.jika kita ingin pendidikan karakter dapat masuk kedalam situasi
kehidupan nyata kinerja diluar kelas, maka kita harus menggunakan kelas sebagai
“struktur belajar” yang memungkinkan siswa untuk mempraktikkan kebaikan.
Salah
satu cara untuk membuat struktur
pembelajaran merupakan bagian integral dari instruksi akademis sehari – hari
yang digambarkan oleh Maureen Muiderig , Kepala sekolah dasar walberta Park
utama di syracuse, New York.
Dalam
setiap mata pelajaran, guru dapat menggunakan pembelajaran terstruktur yang
disebut dengan “numbered heads Togethr”. Anak – anak menghitung dari ( satu,
dua, tiga), dan kemudian guru menimbukan pertanyaan seprti, “bagaimana car
mengeja Zebra?” atau “apa yang menebab turunnya salju?” langkah pertama, siswa
menuliskan tanggapan secara individu , kemudian dalam kelompok mereka
membandingkan dan mendiskusikan ide – ide serta menghasilkan sebuah jawaban
yang disepakati bersama, untuk memastikan bahwa setiap anggota kelompok
mengetahui jawabannya. Elanjutnya,guru memanggil nomor siswa dengan nomor yang
disbutkan tadi harus mennjukkan atau menjelaskan jawaban mereka di depan kelas.
Struktur belajar
memberikan latihan kemampuan berorgnisasi anak – anak dengan penuh perhatian dan menghargai dalam
mendengarkan, saling membantu memahami konsep sampai konsesus, dan mengambil
tanggung jawab untuk diersiapkan sebagai
laporan jawaban kelompok seluruhnya di kelas.
Di sekolah Mulderig,
sebuah kelompok pendukung guru yang disebut SAM ( struktur a month ) bertemu
untuk berbagi mengenai cara guru yang telah menggnakan struktur fokus pada
bulan itu, memecahkan masalah tantangan ,dan mempelajari struktur baru untuk
buan berikutnya. Ini merupakan ide berbagi yang konstan untuk membantu guru dan
merasa didukung, memperbaiki praktek mereka, dan memperdalam komitmen mereka
untuk pengajaran yang efektif. (untuk lebih banyak cara dalam menggunakan
struktur belajar, lihat artikel kagans pada tahun 2002 di buletin musim semi
pusat).
7. Mengelola Ruang Kelas Supaya
Karakter Menjadi Penting
Guru
bijak dalam membangun karakter melalui bidang akademik dengan cara mengelola
kelas mereka yang mendorong tanggung jawab intelektual dan etika.
Sebagai
contoh, scott tiley, mantan instruktur laboratorium komputer yang sekarang
menjabat sebagai kepala sekolah menengah di Mochigan Grosse point Academy,
menggunakan “janji komputer” untuk mengajarkan etika komputer. Setelah membahas
sebuah perjanjian dengan murid – muridnya, ia meminta mereka untuk
menandatanganinya sebagai ungkapan komitmen mereka terhadap kode moral kelas.
GROSS POINTE ACADEMY JANJI
PEMAKAIAN KOMPUTER
1. Saya berjanji saya akan menghormati
undang – undang hak cipta.
Tidak
menyalin software tanpa izin. Menghormati apa yang orang telah ciptakan dan
hanya menggunakn salinan hkum perangkat lunak yang legal.
2. Saya berjanji saya akan hati – hati
dengan hardware. Memperlakukan setiap komputer,
keyboard, dan mouse dngan baik. Melaporkan apapun yang tidak bekerja ( rusak ).
3. Saya berjanji saya akan menghormati
“privasi elektronik.” Anda bisa membka hanya tiga jenis foldr
di jaringan GPA: anda sendiri, folder kelas, dan folder yang tersembunyi.
4. Saya berjanji saya akan
meninggalkan komputer seperti saya pertama kali menemukannya.
Harap jangan menginstal perangkat lunak atau mengubah control panel, jam, warna
pola,pengaturan dekstop, font dan lain –
lain.
5.
Saya
berjanjisaya akan melakukan apa yang saya bisa untuk membantu GPA lab komputer.
Setiap orang
membutuhkan sebuah bantuan di beberpa titik.
Saya telah membaca
janji di atas dan memberikan kata – kata saya sebagai mahasiswa atau anggota
fakultas untuk mengikutinya. Saya adalah bagian dari komunitas pengguna
komputer dan saya tahu apapun yang saya lakukan memiiki efek pada orang lain,
Beberapa guru
memberikan siswa tanggung jawab, itu berarti berlaku juga bagi kehidupan
akademik kelas secara teratur meminta masukan mereka tentang bagaimana
pendekatan unit yang akan datang. Seorang guru bertanya, misalnya “apa yang
paling menarik yang bisa kita gunakan untuk mempelajari perang saudara? Jika
kita tidak bisa melakukan itu, apa cara kedua yang paling menarik yang bisa
dilakukan untuk mempelajarinya?” ketika sisw amelihat ide – ide mereka
digunakan oleh guru, mereka merasa dihormati sebagai pemikir dan menjadi lbih
berkomitmen dala belajar.
8. Ajarkan Muatan Kurikulum seperti
Persoalan Karakter
Mengajarkan karakter
dan akademik secara bersamaan, gunanya untuk melihat kurikulum melalui kacamata
karakter. Apa saja kesempatan alami untuk menyoroti karakter yang dapat
ditemukan di hampir semua subjek akademik?
Pertama – tama kita
harus melihat perkembangan karakter sebagai tujuan mendasar dari kurikulum
akademik. Sebagaimana yang diungkapan kevin ryan dan karen bohlin bahwa dalam
pembangunan karakter di sekolah, kurikulum harus membawa warisan intelektual
dan moral dari budaya kita. Yang terbaik kurikulum adalah sumber kebijaksanaan
moral dancontoh bagaimana untuk hidup dengan tujuan. Dalam stiap disiplin
akadmik, bahan biografi dan otobiografi dapat memperknalkan siswa pada sebuah
prestasi yang menimbulkan pertanyaan seperti, apa kekuatan dari karakter yang
memungkinkan kita untuk mencapai apa yang mereka inginkan? Apa kendala yang
mereka hadapi dalam mencapainya?
Seorang guru ilmi alam
dapat mempromosikan penghormatan terhadap linkungan dan kebajikan hati dalam
mengumpulkan data, kejujuran dalam pelaporan, itu merupakan kerja sama dalam
mengejar pengetahuan yang dibutuhkan untuk ilmu. Guru matematika dapat
pengetahuan yang dibutuhkan untuk ilmu. Guru matematika dapat menekankan
pentingnya ketekunan, model empati siswa dengan mengajarkan cara yang
mengakomodasi perbedaan individu dan menumbuhkan keterampilan kerja sama
melalui pembelajaran kooperatif. Guru IPS dapat menumbuhkan apresiasi terhadap
keragaman budaya, mempelajari perjuangan untuk keadilan spanjang sejarah
manusia manusia dan belajar tindakan individu yang bermoral atau jahat yang
telah mengubah perjalan sejarah. Guru bahas aasing dapat menggunakan internet
untuk mencari berita terbaru ( tentang perang dan perdamaian, dan kelaparan
didunia) melaporkan dalam bahasa yang diteliti dan menggunakan informasi
tersebut untuk mengembangkan perspektif global. Sedangkan guru seni dan musik
dapat membantu siswa menghargai kekuatan estetika dalam mengangkat semangat
kemanusiaan dan disiplin diri yang dibutuhkan untuk kerja kreatif dan
berkelanjutan.
Dalam sebuah esai yang
kaya akan pengetahuan moral, william Bennett bertanya “apakah kita ingin anak
kita tahu apa artinya keberanian ?” kemudian kita harus mengajar mereka tentang
kebaikan dan kasih dijembatan. Apakah kita ingin mreka tahu tentang kebaikan
dan kasih sayang serta kebalikannya? Kemudian mereka harus membaca A Christmas
Carol dan The Diary of Anne Frank dan kemudian , king Lear. Apakah kita ingin
mreka tahu bahwa kerja keras itu akan terbayar? Kemudian kittry Hawk dan Booker
T. Washington untuk belajar membaca. Apakah kita ingin mereka memahami bahaya
konformitas yang tidak beralasan? Kemudian kita harus membaca dan mendiskusikan
The Emperor’s New Clothes. Jika kita
ingin mereka menghormati hak orang lain, mereka harus mempelajari The Declaration of Independence, the Bill of
Rights, the Gettysburg Address, dan Martin Luther King, Jrs “Letter from Birmingham jail.”
Sesekali guru belajar
melihat hubungan karakter dalam bidang akademis mereka, ini langkah pendek
untuk mengajarkan standar negara dan karakter pada saat bersamaan. Making
Character Education a “Standard” Part of Education, karya Linda McKay dan
Kristin Fink untuk Persekutuan Pendidikan Karakter Character Education
Partnership, memberikan contoh bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter
dan standar belajar.
9. Gunakan
Kurikulum Sekolah yang Luas untuk Mengajar Kebijakan Moral dan Intelektual
Kebijakan
inti (Core Virtues) adalah ke-6 seluruh kurikulum pendidikan karakter sekolah
interdisipliner yang menggunakan kekuatan fiksi dan nonfiksi, berintegrasi
dengan sejarah Amerika, peradaban dunia, dan seni rupa. Setiap kelas
mempelajari seperangkat kebijakan yang berbeda, dengan beberapa kebijakan
ditangani lebih dari satu tingkat. Kurikulum ini dikembangkan dan diuji oleh
Mary Beth Klee dan rekannya.
Kurikulum
kelas berguna untuk membangun kelas yang kaya. Kebijakan inti (Core Virtues) memiliki
fokus kepada seluruh sekolah bulanan dan melebar pada suatu kebijakan umum,
termasuk kualitas, seperti harapan, sukacita, penata layanan, kelembutan, dan pengampunan.
Dalam setiap kelas, disetiap tingkatan, setiap harinya dimulai dengan berkumpul
di pagi hari (Morning Gathering), puncaknya membaca dan membahas cerita yang
berhubungan dengan kebijakan bulanan. Kebijakan inti (Core Virtues) juga
mencakup bibliografi yang bernotasi luas dari sastra anak-anak.
Kritikus
budaya Niel Postman, dalam bukunya Tecnopology,
menulis “pendidikan sekuler modern gagal, karena tidak memiliki pusat ,
moral sosial, atau pusat intelektual. Kurikulum ini bukan program studi sama
sekali, akan tetpai campur aduk dari subjek. Bahkan, itu tidak menempatkan
sebuah visi yang jelas tentang orang yang berpendidikan”. Program Core Virtues
menawarkan contoh kurikulum koheren yang memang memiliki pusat moral dan
intelektual serta visi dari orang yang berpendidikan, yaitu karakter seseorang
yang didasarkan pada studi tentang kebijakan moral dan intelektual.
10. Menyusun Diskusi Seperti Masalah
Karakter
Memanfaatkan potensi
pembangunan karakter dari kurikulum tergantung pada kemampuan guru untuk fokus
berpikir tentang siswa pada dimensi karakter material yang ada. Misalnya, salah
satu momen paling mengesankan dalam karya klasik Mark Twain klasik Huckleberry Finn. the Bounty Hunters
yang mencari Jim, budak yang melarikan diri dan pendamping Huck di rakit
sungai, serta memberi Huck jika ia telah melihatnya. Huck memutuskan berbohong
melindungi Jim, meskipun dia tahu bahwa hukum meminta kembalinya seorang budak
yang melarikan diri dan meskipun ia berpikir bahwa ia mungkin masuk neraka
karena berbohong.
Dalam Building
Character in Schools, Ryan dan Bohlin mengamati bahwa banyak guru mungkin
bertanya pada saat ini, “Apakah Huck
melakukan hal yang benar?” ini merupakan
“dilema moral” pendekatan yang melibatkan para siswa dalam membahas pro dan
kontra dari keputusan moral tertentu. Di tangan seorang guru yang terampil
semua ini dapat dikembangkan menjadi kekuatan penalaran moral siswa. Kelemahan
dari metode dilema ini adalah diskusi yang berakhir dengan keadaan kelas masih
terbagi dan pertanyaan moral yang masih belum ditemukan solusinya. Siswa
dibiarkan begitu saja dengan kesan bahwa ada argumen yang terdengar masuk akan
terhadap hampir semua hal dan moralitas itu hanya masalah pendapat. Apalagi
pertanyaan mengenai karakter yang tersisa dan belum diselidiki.
Contoh
kebijakan yang berpusat pada pertanyaan guru yang mungkin timbul : “Apa yang anda pelajari dari karakter yang
mungkin bisa membantu anda dalam pengembangan karakter Anda sendiri? Manakah
tokoh dalam novel, menurut penilaian Anda, yang memiliki karakter terburuj dan
beri alasannya? Mengapa?
11. Mengajar Persoalan Kebenaran
“Apakah planet ita
terancam oleh kelebihan penduduk, atau Apakah pemanasan global benar-benar
terjadi, dan jika demikiam seberapa serius timbulnya ancaman itu?”
Pertanyaan seperti itu merupakan
pertanyaan tentang apa yang benar-benar terjadi. Mereka menjelaskan bahwa di
sekolah dan dalam hidup mereka penuh dengan kebijakan lainnya. Sedangkan intelektual
penting itu adalah mengejar kebenran yang menyatakan, bahwa kebijakan termasuk
sekelompok pendukung kebijakan intelektual: keterbukann untuk mempertimbangkan
semua sisi dari sebuah isu dalam mencari seluruh kebenaran, sebuah penghormatan
terhadap bukti bahkan ketika bertentangan dengan prasangka kita, kesediaan
untuk mengakui kesalahan; keinginan terus belajar; dan kerendahan hati dalam
menghadapi semua yang kita tidak tahu.
Namun untuk tujuan
kebenaran dan melihat pendidikan sebagai pencarian kebenaran fundamental, kita
harus terlebih dahulu percaya bahwa kebenaran objektif ada dan bisa diketahui.
Beberapa sekolah saat ini—pemikiran subyektivisme dan postmodernisme, misalnya
– berpendapat bahwa semua “kebenaran “ adalah subjektif, yang kami proses
melalui pengalaman pribadi kita “saring” dan dengan demikian membuat kebenaran
kita sendiri. Dalam debat nasional tentang cara mengajar sejarah beberapa
sejarawan seperti dalam buku History on Trial – berpendaapat bahwa itu adalah
“kebodohan yang masuk akal” untuk percaya bahwa sajarah “fakta” nyata “secara
objektif dan independen dari interpretasi sejarawan”.
Ada kebenaran parsial
di lini argumen, tapi mengakui bahwa interpresi sejarah didasarkan seharusnya
tidak menyebabkan kita menyerah berjuang untuk objektivitas dan kelengkapan
yang lebih besar dalam mendapatkan catatan sejarah yang benar. Ketika sejarawan
dari masa lalu telah terbukti salah, mereka telah terbukti salah tentang hal-hal nyata; klaim mereka tentang masa
lalu berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi.
Tujuan kebenaran apakah
itu kebenaran sejarah, kebenaran ilmiah, atau moral kebenaran adalah kebenaran
yang independen dari orang yang berpengetahuan—Benar atau tidak saya tahu itu.
Untuk memberikan sebuah contoh nyata, fakta bahwa Franklin Delano Roosevelt
adalah Presiden AS ketika Pearl Harbor dibom secara objektif benar apakah saya
tahu hal itu terjadi.
Gagasan tentang
kebenaran moral objektif memiliki implikasi yang besar untuk pendidikan
karakter. Jika kebenaran moral yang murni subjektif, tidak akan ada tujuan yang
benar atau salah, tidak ada standar moral mengikat yang harus diikuti setiap
orang. Benar dan salah memang ada, maka tugas sebagai moral yang pertama untuk
semua orang adalah untuk melihat kebenaran dan untuk membentuk hati nurani kita
yang benar, sesuai dengan apa yang benar-benar tepat.
Sebagai bangsa, kita
sekali lagi tidak setuju tentang perbudakan dan hak perempuan untuk
memilih. Hari ini kita berbabeda
pendapat tentang isu berbeda pendapat tentang isu-isu, seperti aborsi, hukuman
mati, dan bagaimana cara merespon teroris. Tapi faktanya bahwa beberapa masalah
yang kontroversial atau kompleks hendaknya tidak membatasi kita dari kegigihan
dalam mencoba untuk mengetahui kebenran yang lengkap dan objektif. Di masa
lalu, yaitu bagaimana kesalahan intelektual dan moral kita dikoreksi.
Contohnya yaitu dari
realitas sejarah yang menggarisbawahi pentingnya mencari kebenaran objektif.
Siapa yang bertanggung jawab dalam perdagangan budk mengerikan yang disediakan
budak pra-Perang Saudara Amerika? Dalam penerbitan panduan guru, guru dan siswa
bahwa orang Afrika “diculik”, “ditangkap”, atau diculik tanah air mereka saat
migrasi paksa terbesar dalam sejarah.
Panduan ini tidak
menyebutkan bahwa hanya dari keluarga kerajaan Afrika dan penyedia budak
pribumi bermakna dalam memasok pedagang budak Eropa. Sebaliknya, sebagai contoh
dari sumber yang tidak ada kebenaran
sementara, sejarawwan Sheldon Stern mengutip dari buku yang disertai empat
bagian terakhir seri PBS, “perjalanan Amerika melalui perbudakan”.
“Setiap permintaan maaf
untuk perbudakan”, Sterm mengatakan, “juga harus bergabung dengan Portugal,
Inggris, Prancis < dan terutama Brasil, yang dibeli lebih dari enam kali
budak Afrika dari Amerika Serikat. Amerika yang diterima dibawah 5% dari orang
Afrika dibawa ke Dunia Baru. Selain itu, kaum muslim negara-negaran Arab, yang
diimpor budak Afrika lebih dari belahan bumi barat, bisa menghadapi massa lalu
mereka dengan membantu untuk menghapuskan perbudakan yang berlangsung hari ini
di Mauritania dan Sudan.” Dalam mempelajari seluruh kebenaran tentang
perbudakan siswa tidak hanya belajar tentang sejarah tetapi juga sebuah
pelajaran oenting tentang sifat manusia: Tidak ada bangsa atau ras yang
memiliki monopoli jahat.
12. Mengajar dengan Keseimbangan
Komitmen
Komitmen terhadap
kebenaran sering diterjemahkan ke dalam komitmen untuk keseimbangan. Sarjan
Harvard Petrus Gibbon, penulis A Call to Heroism: menulis tentang kuang
pentingnya keseimbangan dalam pengobatan terbaru dari sejarah Amerika dan tokoh-tokoh
sejarah tertentu.
Yang benar adalah
kurang dilayani jika kita menghiangkan atau menyembunyikan kesalahan bangsa
kita dan kegagalan, seperti perpindahan dan pembunuhan terhadap penduduk assli
Amerika, perbudakan dan segregasi orang kulit hitam, para interniran
Jepang-Amerika selama Perang Dunia II, dan kebijakan luar negeri yang telah
mendukung pemerintahan represif. Tapi sebenarnya juga kurang dilayani jika kita
memberi tekanan negatif dan meremehkan prestasi dan kebijakan negara kita.
Memang, berdasarkan payriotisme, yang didefinisikan sebagai cinta mulia
dinegara seseorang mengharuskan kita mengakui tida hanya kekurangan bangsa kita
tetapi juag cita-cita demoktasi yang tealh mamacu untuk kenajuan
mora-setidaknya di beberapa daerah—dalam mempersempit kesenengan antar apa yang
kita anut dan pa yang kita latih’
Gibbon mengatakan bahwa
ketika ia melakiukan perjalanan di seluruh negeri berbicara dengan siswa
tentang tokoh-tokoh Amerika seperti George Washington, mereka cenderung sinis,
dengan fokus pada kesalahan—pada kenyataannya, misalnya Washington memiliki
budak. (washington tidak seperti Benjamin Franklin, pergi dari menjadi pemilik
budak menjadi perbudakan, tapi dia budak bebas sebelum kematinnya.) dia
mengingatkan para siswa bahwa Washington itu manusia. Ayahnya meninggal saat ia
berusia sebelas tahun. Dia menyaksikan saudaranya Lawrence meninggal karena TBC
dan anak tirinya Pasty menyerah pada epilepsi. Wajahnya sendiri terkena cacar,
tubuhnya lemah karena malaria. Ketika revolusi Amerika datang, ia tidak ingin
menjadi komandan. Prajuritnya sedikit dan tidak terlatih, dan mengalah i tangan
Inggris, negara adidaya abad kedelapan belas, sering tampak tertentu. Tapi dia
tidak berhenti. Dia belajar mengelak dan mundur dan menggunakan padang gurun.
Dia memaksakan diri untuk tampil percaya diri meskipun frustasi dan kelelahan.
“Saya memberitahu
murid-murid” kata Gibbon, “bahwa Washington besar karena ia menunjukkan
keberanian yang luar biasa – tidak hanya keberanian untuk menghadapi peluru,
tapi keberanian untuk tetap berpegang pada penyebab tidak peduli seberapa besar
kemungkinan, untuk melepaskan kegagalan dan melampaui rasa sakit, untuk
mengambil resiko dan untuk tumbuh.”
Ketika
perang usai, Washington ingin pensiun untuk hidup tenang merawat kebunnya di Gunung
Vernon. Tapi negara baru itu rapuh dan ingin dia menjadi presiden pertama. Dia
menempatkan kesejahteraan negaranya sebelum kebahagiaan persural dan menjabat
selama delapan tahun. Sebagai presiden, ia adalah seorang ahli administrator
dan negarawan yang bijaksana, selalu menempatkan kehormatan di atas politik,
Washington tidak cemerlang seperti Hamilton atau fasih seperti Jefferson,
“Gibbon menyimpulkan, “tapi presiden pertama kami memiliki karakter.”
13. Model keseimbangan dan keadilan
dalam berurusan dengan isu – isu kontroversial.
Keseimbangan juga harus
mencirikan penanganan sekolah isu kontroversial, apapun masalahnya seperti
aborsi, hukum hati, homoseksual, aytau perang melawan irak. Untuk menghormati
keragaman pandangan mengenai isu – isu moral seperti yang ada dalam sekolah dan
mayarakat sekitarnya, pendidik sekolah umum harus berhati – hati untuk
mengobati masalah kontroversial dengan cara yang adil untuk perspektif yang
saling bertentangan atau tidak mengobatinya sama sekali.
Kontroversi adalah
kesempatan penting bagi orang dewasa untuk memodelkan bagaimana menyelesaikan
isu – isu moral yang kompleks. Dalam soal perang dan damai, apa yang telah
filsuf moral historis dikemukakan sebagai kriteria untuk “perang adil”? apa
mungkin jangka panjang serta jarak pendek konsekuensi dan intervensi militer
melawan upaya diplomatik? Untuk mengekspos siswa ke argumen beralasan di kedua
sisi masalah ini, satu guru di sekolah menengah atas Albuquerque yang sangat
menantang perang melawan irak menyelenggarakan debat di kelasnya antara
dirirnya dan seorang rekan yang mendukung aksi militer. Dengan demikian ia
tidak hanya membantu siswa mendapatkan pengetahuan lebih untuk menarik dari
dlalm membuat penilaian tentang perang, dia juga mengajarkan mereka sebuah pelajaran
tak terlupakan dalam integrasi intelektual.
14. Ajarkan persoalaan keadilan.
Bahkan anak – anak muda
memiliki dasar rasa keadilan. Salah satu tantangan paling penting dari
pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan pengertian itu menjadi kesadaran
sosial yang kaut, komitmen universal ke pangadilan.
Apa itu keadilan?
Memprlakukan orang lain sebagaimana mereka layak dipeerlakukan. Kita harus
membantu siswa menghargai bahwa setiap orang memilki martabat intrisik dan
nilai – nilai suci, jika seseorang percaya bahwa kita masing – masing
diciptakan menurut gambaran Allah. Tidak ada orang yang memilki nilai lebih
atau krang dari yang lain. Setiap kehidupan manusia adalah unik, berharga, dan
diulang. Setiap manusia memiliki hak asasi manusia yang berasal dari martabat
kita sebagai makhluk hidup.
Anak – anak, tentu
saja, tidak dapat memecahkan masalah dunia. Tapi mereka setidaknya harus tahu
tentang mereka dan ditantang untuk mengambil langkah – langkah kecil, bahkan
saat mereka masih di sekolah, untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih
adil dan peduli.
Terkhir, kita harus
menantang siswa untuk memperluas konsep keadilan mereka untuk memasukkan
makhluk hidup selain manusia. Anak – anak, pada kenyataannya, sering memiliki
sebuah sebuah empati untuk hewan yang dapat memberikan titik awal mengembangkan
arti yang luas soal keadilan.
Harus cukup jelas bahwa
pendidikan untuk kecerdasan dan mendidik untuk karakter moral adalah tujuan
yang sama pentingnya dengan pendidikan karakter. Dua cara utama yang
menunjukkan karakter siswa di sekolah adalah melakukan pekerjaan mereka dengan
tekun dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Dan itu harus jelas mengapa
perkembangan intelektual dan pertumbuhan moral keduanya penting bagi
pembangunan manusia penuh dan kemajuan dunia. Jika kita ingin siswa menjadi
pemecah masalah yang kompeten dan kreatif mampu meningktakan kondisi manusia,
kita lebih baik membantu mereka mengasah kemampuan intelektual. Jika kita ingin
mereka menggunakan otak untuk kepentingan orang lain dan bukan hanya diri
mereka sendiri, kita lebih baik membantu mereka mengembangkan kesadaran moral.
Pendidikan karakter,
dipahami benar, bertujuan untuk mengembangkan kepribadian. Seluruh siswa lebih
baik, masyarakat lebih baik. Ini adalah yayasan yang dibangun di atas segala
sesuatu. Itu sebabnya dalam kata – kata Dr. Jhon Walko, direktur akademi Rusell
sage Colllege untuk pendidikan karakter,”pendidikan karakter bukan sesuatu yang
lain di piring anda. Ini piring anda.”
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan.
Untuk menjadi seorang
yang berkarakter, berarti menjadi orang yang terbaik. Oleh karena itu, tumbuh
dalam karater berarti berkembang dengan potensi etika dan potensi intelektual
kita. Pendidikan karakter dan pendidikan akademik saling berkaitan satu sama
lain karena program pendidikan karakter dari sekolah dapat meningkatkan
kualitas hubungan manusia antara orang dewasa dengan anak – anak dan anak –
anak degan sesamanya, dengan demikian akan memprbaiki lingkungan untuk mengajar
dan belajar, dan upaya pendidikan karakter mencakup program akademik yang kuat
dalam mengajarkan keterampilan siswa dengan kebiasaan bekerja keras akan
meningktkan pendidikan akademiknya.
Strategi praktis agar
mengajarkan akademik dan karakter secara bersamaan antara lain: sebutkan
kebajikan yang dibutuhkan untuk menjadi siswa yang baik, ajarkan pentingnya
tujuan, ajarkan pentingnya keunggulan, ajarkan pentingnya integrasi, ajarkan
seakan siswa bisa bertanggung jawab atas pembelajaran mereka, menggunakan
proses pembelajaran yang menjadikan pengembangan karakter sebagian besar dari
setiap pembelajaran, mengelola ruang kelas supaya karakter menjadi penting,
ajarkan muatan kurikulum seperti persoalan karakter, gunakan kurikulum sekolah
yang luas untuk mengajar kebaikan moral dan intelektual, menyusun diskusi
seperti masalah karakter, mengajarkan perosalan kebenaran, mengajar dengan
keseimbangan komitmen, model keseimbangan dan keadilan dalam berurusan dengan
isu – isu kontroversial, dan ajarkan persoalan keadilan.
3.2 Saran.
Sebagai calon seorang
guru kita harus memahami tentang pendidikan karakter karena hal ini bertujuan
untuk mengembangkan kepribadian siswa kita nantinya. Agar seluruh siswa
nantinya menjadi warga masyarakat dan negara yang lebih baik. Masalah
pendidikan karakter bukan hanya sekedar masalah orang lain tetapi juga masalah
kita, dan kita harus mencari solusinya bersama seperti dalam kata – kata Dr.
Jhon Walko, direktur akademi Rusell sage Colllege untuk pendidikan
karakter,”pendidikan karakter bukan sesuatu yang lain di piring anda. Ini
piring anda.”
DAFTAR
PUSTAKA
Lickona thomas.(2012).Character Matters.Jakarta:Bumi Aksara.
No comments:
Post a Comment