BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Indonesia
memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai
pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut,
pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan
Undang-Undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 3,
yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan
nasional, jelas bahwa pendidikan disetiap jenjang, termasuk di sekolah harus
diselengggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut
berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing,
beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Dan untuk
itu perlu adanya pengembangan pembelajaran berbasis karakter guna menjadi alat
untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri.
Untuk
itu penulis menulis makalah yang berkaitan dengan mempraktikkan disiplin
berbasi karakter.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari
disiplin?
2.
Bagaimana cara guru
mempratikkan/mengajar
disiplin berbasis karakter kepada
peserta didik?
1.3
Tujuan
1.
Untu mengetahui apa
pengertian dari disiplin.
2.
Untuk mengetahui bagaimana
cara guru mempratikkan/mengajar disiplin berbasis
karakter kepada peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Disiplin
Disiplin adalah
sesuatu yang harus dikembangkan dari dalam diri, seperti tulang belakang, tidak
berpatokan dari luar diri, seperti sepasang belenggu. (seorang guru) untuk kebanyakan
sekolah, disiplin merupakan titik masuk bagi pendidikan karakter. Jika tidak
ada rasa hormat terhadap aturan, otoritas, dan hak-hak orang lain, maka tidak
ada lingkungan yang baik bagi pengajar dan pembelajaran. Banyak sekolah
berpaling kepada pendidikan karakter karena sekolah-sekolah tersebut tertekan
oleh penurunan yang dilihatnya dalam rasa hormat dan tanggung jawab para siswa
dan berharap pendidikan karakter dapat membelikkan keadaan tersebut.
Pendidikan
karakter menegaskan bahwa disiplin, apabila ingin berhasil, harus mengubah
anak-anak dari dalam diri. Disiplin
harus mengubah sikap mereka, cara mereka berpikir dan merasa. Disiplin harus
mengarahkan mereka untuk ingin berperilaku berbeda. Disiplin harus membantu
mereka mengembangkan kabaikan-seringkali berupa rasa hormat, empati, penilaian
yang baik, dan control diri-yang, pada pokoknya, ketiadaannya mengarah
kepermasalahan disiplin. Apabila kebaikkan yang tidak ada tersebut tidak
dikembangkan, bersama-sama dengan komitmen untuk mempratikkannya, maka
permasalahan perilaku akan terjadi lagi. Ringkasnya, disiplin yang efektif
harus berbasis-karakter, disiplin ini
harus memperkuat karakter siswa, semata-mata bukan mengontrol perilaku mereka.
Disiplin
terbagi menjadi dua kategori : pencegahan dan koreksi. Strategi pencegahan yang
baik akan sangat mereduksi frekuensi permasalan perilaku. Namun beberapa masalah masih
akan muncul, dan strategi pembangunan karakter akan diperlukan untuk mengoreksi
permasalahan ini.
2.2 Cara Mempratikkan Disiplin
Berbasis Karakter
1.
Berbagi
Agenda
Banyak ruang
kelas dipenuhi dengan “permasalahan agenda ganda.” Agenda guru adalah
memberikan materi ketika mengajar, namun agenda siswa adalah bukan mempelajari
materi tersebut. Tantangannnya adalah untuk membuat siswa memahami agenda
intruksional yang ada.
Salah satu cara
melakukannya adalah menjelaskan kepada
siswa tujuan pelajaran yang diberikan, dasar pemikirannya, dan pola
pembelajaran yang akan digunakan guru untuk mencapai tujuan. Ann
Jackewenko, yang mengajarkan bahasa Ingris di kelas sebelas pada pusat kota New
York, mencari cara untuk melibatkan para siswanya di awal kelas dengan
mengajukkan tiga pertanyyaan yang telah di tulis di papan :
·
Apa yang akan kita
pelajari hari ini ?
·
Mengapa penting bagi
kita untuk mengetahuinya ?
·
Begaimana kita akan
mempelajarinya ?
“Para
siswa suka memperoleh gambaran yang besar”, jelas beliau. “apabila tidak
menghabiskan waktu untuk menjelaskan pada para siswa mengapa penting bagi kita
untuk mempelajari point atau keahlian tertentu, maka mereka akan sering melawan
anda dengan sikap berikut, “mengapa kita harus mempelajarinya?”.
2.
Pertahankan
sikap bertanggung jawab siswa
Para guru yang
berpegang teguh pada sikap disiplin menentukan ekspektasi yang tinggi baik
dalam bidang akademik maupun perilaku dan kemudian yang mempertahankan sikap
bertanggung jawab siswa. Para guru ini seringkali terkenal karena bersikap
“tegas”.
Deb Halliday,
yang mengajar kelas empat di pusat kota New York, merupakan jenis guru semacam
ini. Beliau berkata, “saya memiliki kebijakan yang tegas dalam pekerjaan rumah.
Para siswa diharapkan untuk melakukan pekerjaan rumah mereka setiap malam dan
menyerahkannya setiap pagi. Apabila pkerjaan rumah ini tidak diselesaikan, maka
siswa yang bersangkutan harus menyelesaikannya selama waktu istirahat. Tidak
ada cara yang lain, dan kelas ini tahu tentang hal tersebut”.
3.
Mengajar
prinsip-prinsip tanggung jawab
Ketika Natalie
Douglas dipanggil untuk memberikan konsultasi kepada 150 orang remaja di sebuah
sekolah alternative Indiana, beliau mengawalinya dengan melatih fakultas
tersebut untuk mengajarkan “lima prinsip tanggung jawab” kepada para siswanya.
Kelima prinsip ini dipampang pada poster cetak berukuran besar di setiap ruang
kelas :
·
Saya bertanggung jawab
atas perilaku saya. Apabila saya berperilaku baik, maka saya memperoleh kredit.
Apabila saya berprilaku buruk, maka saya harus menanggung akibatnya dan tidak
menyalahkan orang lain.
·
Saya bertanggung jawan
atas pembelajaran saya. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukannya bagi
saya.
·
Saya bertanggung jawab
untuk memperlakukan semua orang dengan pertimbangan dan rasa hormat.
·
Saya bertanggung jawab
untuk memberikan kontribusi kepada kelas saya dan sekolah saya.
·
Saya bertanggung jawa
atas lingkungan saya- untuk memperlakukannya dengan kepeduliannya sehingga
orang lain dapat menikmati lingkungan tersebut.
Para siswa
menjadi lebih efektif mengenai perilaku mereka. Ketika para guru menangani
gangguan dengan cara ini, rujukan displin kepada kantor kepala sekolah menurun
dari rata-rata sekitar dua belas hingga lima belas kali sehari selama tahun
sekolah sebelumnya menjadi dua atau tiga kali sehari.
Kita hidup dalam
masyarakat yang di dalamnya mengambil tanggung jawab atas tindakan seorang menjadi
semakin kurang lazim dan menghindari kewajiban menjadi norma yang
berlaku.”tampaknya setiap orang seperti ‘korban’, kata seorang kepala sekolah.
“saya menjadi seorang teman berusia 50 tahun, yang menyalahkan sebagian besar
permasalahannya pada ayahnya yang pemabuk.ayahnya meninggal ketika ia berusia 2
tahun.” Mengajarkan anak-anak tentang prinsip bertanggung jawab merupakan
sebuah langkah dalam arah yang tepat, kearah membawa anak-anak untuk mengambil
tanggung jawab atas perilaku dan kehidupan mereka.
4.
Melibatkan
Siswa didalam Menentukan Aturan
Ketika beliau
menjadi pemenang penghargaan guru sejarah dan psikologi di sekolah menengah.
Hal urban mengelompokan para siswa menjadi lima atau enam orang dan memberikan
lembar kerja untuk dilengkapi sebagai berikut:
Jika Kita Membuat Aturan
Para siswa tidak
akan diperoleh untuk:
1)
_____________________________
2)
_____________________________
3)
_____________________________
4)
_____________________________
5)
_____________________________
Para
siswa akan didorong untuk:
1)
_____________________________
2)
_____________________________
3)
_____________________________
4)
_____________________________
Kelompok ini kemudian memberikan laporan, pertama-tama
hal-hal yang tidak boleh dilakukan para siswa, kemudian hal-hal yang akan
didorong bagi para siswa. Bapak urban menyiapkan daftar berjalan diatas papan
tulis. Beliau memberikan beberapa tambahan bagi dirinya sendiri (diberi tanda
bintang dalam daftar akhir)
Aturan
Kelas: Yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan di Kelas
Bapak
Urban
(Ditulis
oleh guru dan para murid)
|
Anda
diperkenankan dan didorong untuk melakukan hal-hal berikut di dalam kelas:
|
Anda
tidak diperkenankan melakukan hal-hal berikut di dalam kelas:
|
|
Mengikuti aturan emas
|
Mengabaikan/ tidak
menganggap siswa lain
|
|
Menghormati guru
|
Mengabaikan/ tidak
menganggap guru
|
|
Membuat catatan yang
baik
|
Duduk dan tidak
melakukan apa-apa
|
|
Katakana “tolong” dan
“terimakasih”
|
Bersumpah sarapah/ berkata-kata
kotor
|
|
Mendengarkan
|
Menginterupsi/
berbicara sendiri
|
|
Memiliki sikap
positive
|
Mengeluh/ berprilaku
seperti “keledai”
|
|
Menjaga kelas tetap
bersih
|
Membuang sampah
sembarangan
|
|
Menyatakan pendapat
anda
|
Mendominasi
pembicaraan
|
|
Berprestasi
|
Tidur/ menaruh kepala
di atas meja
|
|
Memiliki prilaku yang
baik
|
Bersikap kasar
|
|
Datang tepat waktu
|
Datang terlambat
|
5.
Mengajarkan
Aturan Emas
Disiplin kelas
merupakan kesempatan emas untuk mengajarkan aturan emas.
Gary Robinson
mengajarkan para siswa kelas empat dan enam di Skaneateles school district,
Skaneateles, New York. Pada hari pertama sekolah, beliau akan betanya demikian
kepada para siswanya, “bagaimana anda ingin diperlukan dalam kelas ini—oleh
saya, yang menjadi guru di kelas ini, dan oleh setiap orang dalam ruangan ini?
Tuliskanlah dua atau tiga cara tantang bagaimana anda ingin diperlakukan.”
Para siswa
menuliskan bahwa mereka ingin diperlukan dengan cara yang sama, dengan rasa
hormat, bukan dijadikan bahan tertawaan atau dipermalukan, tidak ditinggalkan,
dan seterusnya. Bapak Robinson telah meminta mereka membagikan daftar mereka
dengan seorang teman dan membahasnya sebagai satu kesatuan kelas.
Kemudian, beliau
mengajukan pertanyaan yang kedua, “bagaimana caranya anda harus memperlakukan
orang lain di dalam ruangan ini?” para siswa dapat memandangnya secara logis
bahwa apabila mereka ingin diperlakukan dengan adil dan dengan rasa hormat,
maka sudah jelas mereka harus memperlakukan teman-teman mereka dengan cara yang
sama. Bapak Robinson memberikan penekanan pada poin ini bagi kelas tersebut :
Setiap hak membawa tanggung jawab. Apabila anda
harus berhak untuk dihormati, maka anda bertanggung jawab untuk memperluas rasa
hormat yang sama kepada orang lain. Anda tidak dapat mengklaimnya kecuali kalau
anda menerima tanggung jawab tersebut. Kedua hal ini merupakan sisi yang sama
dalam sebuah uang logam.
Beliau merangkum
demikian, “kami sedang mengatakan kalau anda harus memperlakukan orang lain
sebagaimana anda ingin diperlakukan. Apakah ada yang tahu pertanyataan ini
disebut apa?” beberapa siswa di dalam kelas itu mengetahuinya sebagai : “Aturan
Emas”.
Berikutnya,
beliau bertanya demikian, Apa yang akan terjadi apabila sesorang melanggar
aturan emas ini?” beliau menjelaskan system konsekuensi yang beliau miliki :
Saat yang
pertama anda melanggar aturan emas ini, sya akan berhati mengajar dan hanya
memberikan “tatapan jahat” [dengan tersenyum] kepada anda. Saya ingin anda
bertanya pada diri anda sendiri, “apa yang aku lakukan sehingga melanggar
aturan emas tersebut?”
Saat yang kedua anda melanggar aturan emas di hari
yang sama, saya akan menggil nama anda. Sekali lagi, saya ingin anda berfikir,
“apa yang aku lakukan sehingga melanggar aturan emas tersebut?’
Saat yang ketiga anda melanggar aturan emas ini,
saya akan meminta anda untuk duduk di meja aturan emas di bagian belakang kelas
ini dan menuliskan “bagaimana aku melanggar aturan emas ini” kepada saya.
Ketika saya memperoleh kesempatan pertama, saya akan kembali, dan kita akan
membicarakan tentang apa yang anda tulis.
Apabila masalah ini telah berlangsung selama
beberapa hari atau lebih, saya akan meminta anda untuk menulis rencana
peningkatan perilaku, “bagaimana saya berencana untuk mematuhi aturan emas di
masa mendatang.”
Dengan bertanya,
“bagaimana anda ingin diperlakukan?” dan “bagaimana anda seharusnya
memperlakukan orang lain? “bapak Robinson membimbing para siswanya kepada
aturan emas dan membantu mereka untuk melihat logika moralnya. System
konsekuensi beliau membuat mereka bertanggung jawab atas aturan emas ini dan
memberikan praktik bersinambung kepada mereka di dalam menggunakan standar
tersebut guna mengevaluasi perilaku mereka.
6.
Berbagi
Rencana dengan Orang Tua
Ditingkat
sekolah dasar dan menengah, salinan rencana displin guru harus diberikan kepada
orang tua di awal tahun ajaran. Rencana ini harus membuat para orang tua
mengetahui aturan kelas dan konsekuensinya, dan pada titik manakah orang tua
akan diminta untuk membantu memecahkan sebuah masalah. Semua ini dapat
disampaikan dengan cara yang positif. Misalnya, berikut ini merupakan surat
yang dikirim ke rumah oleh Amy Conley, seorang guru kelas tiga di sekolah dasar
Burton Street di Cazenovia, New York.
Yang terhormat Bapak/IbuOrang Tua atau Wali Murid
Saya ingin menepatkan nama anda dalam rencana
disiplin saya untuk tahun ajaran yang akan dating. Karena saya percaya bahwa
keberhasilan dalam kehidupan berkembang melalui disiplin diri, saya ingin
memberikan setiap kesempatan untuk mengelola perilaku mereka sendiri kepada
semua siswa. Untuk mencapai hal ini saya akan menggunakan rencana disiplin
berikut ini.
Harapan
1.
Menghormati
diri anda, orang lain, dan kelas kita.
2.
Bertanggung
jawab atas diri anda, barang-barang anda, dan materi kelas anda.
3.
Berpartisipasi
dalam ruang kelas kita yang aman dan penuh kepedulian.
4.
Lakukan
yang terbaik; pantang menyerah !
5.
Patuhilah
aturan emas.
Ketika harapan ini tidak dipenuhi (kami jarang
bertindak sampai melewati konsekuensi 2)
1.
Pengingat
2.
Zona
berpikir-3
3.
Zona
berpikir dalam ruangan kelas tiga lainnya-3 menit
4.
Orang
tua dipanggil
5.
Konferensi—siswa,
orang tua/wali murid, ibu conley, dan ibu Gordon (kepala sekolah)
Saya dan anak-anak telah membahas rencana ini
bersama-sama, namun saya mohon Bapak/Ibu berkenan untuk mengeluanya kembali
dengan anak anda. Dalam pengalaman saya, rencana ini membantu menciptakan iklim
yang sangat positif karena para siswa mengetahui apa yang diharapkan sadi
mereka. Terima kasih banyak atas waktu yang anda luangkan.
7. Mempraktikkan
Prosedur
Menurut
mantan guru sejarah sekolah menengah Charline Abourjilie, “karena saya ingin
para siswa saya mengetahui prosedur untuk menangani makalah, datang ke kelas
dan muali bekerja, menyerahkan surat izin kepada saya ketika mereka tidak datng
ke kelas, dan seterusnya, saya menghabiskan waktu sekitar lima belas menit di
masing-masing jam pelajaran selama minggu pertama sekolah untuk memperatikkan
prosedur ini. Saya mendemonstrasikan prosedur yang saya ingin mereka ikuti
ketika mereka datang ke kelas setiap harinya. Kemudian saya membawa mereka ke
lorong, beserta dengan tas dan semua bawaan mereka, dan meminta mereka masuk ke
kelas dengan mengikuti prosedur tersebut. Kami melakukan kegiatan ini selama
tiga tahun atau empat kali sampai semua siswa melakukannya dengan benar.
Kegiatan ini menghematbanyak waktu sepanjang jalan”.
8.
Gunakan
Bahasa yang Baik
”bahasa
membentuk karakter”, tulis linda popov dalam the vitures project educator’s guide (www. Jalmarperss.com). bahasa
kebaikan dapat menciptakan sebuah budaya karakter.
Deb
Halliday menggunakan bahasa kebaikkan untuk memuji para siswa kelas empat
beliau. Dari pada memberikan pujian unum seperti “kerja bagus” atau “
sempurna”, beliau akan mengatakan hal-hal seperti:
Serupa
dengan hal tersebut, bahasa kebaikan dapat digunakan untuk mengoreksi atau
mengarahkan kembali perilaku yang
baik.

Ray
Tuffs menggunakn bahasa kebaikan ini dalam pekerjaan sebagai seorang wakil
kepala sekolah di sebuah seklah alternative di Renton, Washington. Banyak dari
antara para siswa beliau sebelumnya telah dikeluarkan dari sekolah-sekolah yang
lain, dan beberapa di antaranya memiliki catatan criminal.
Ketika
para siswa ini dikirim ke kantornya, beliau mengawali pembicaraan dengn berkata
demikian, “Katakan kepada saya apa yang terjadi dari sudut pandang Anda” dan
mendengarkan dengan rasa hormat kepada penuturan para siswa ini. Kemudian
beliau menunjuk pada poster kebaikan beliau (menuliskan lima puluh dua kebaikan
dari buku Linda Popov) dan bertanya demikian, “Manakah dari daftar kebaikan
tersebut yang mungkin telah Ana lupakan? Manakah dari antara daftar kebaikan
tersebut yang mungkin telah membantu Anda untuk meenghindari permasalahan yang
Anda milki?” Kadang-kadang beliiau memberikan sebuah cerita atau artikel ang
berhubungan dengan kebikan yang perlu dikembangkan kepada para siswanya.
9. Membantu para Siswa
Belajar dari Kesalahan
Menurut
seorang kepala sekolah menengah, “Filosofi kami adalah bahwa anak-anak akan
melakukan kesalahan. Kami mengajarkan kepada mereka bagaimana mereka menanggapi kesalahan mereka, dalam
sekolah dan dalam kehidupan, yang membuat semuanya berbeda.”
Di
tempat bapak kepala sekolah ini, ketika para siswa melakukan sesuatu yang
salah, mereka biasanya diminta untuk memberikan tanggapan, kadang-kadang dalam
bentuk tulisan, terhadap empat pertanyaan berikut ini.
1. Kesalahan
apa yang kau lakukan?
2. Apa
yang kau pelajari dari keslahan tersebut?
3. Bagaimana
kau dapat menhindari kesalahan tersebut di masa mendatang?
4. Apakah
kau perlu membuat rencana?
10. Membantu para Siswa
Membuat Rencana Perubahan Perilaku
Ketika permasalahan perilaku masih
tetap terjadi, para siswa perlu membuat rencana tertulis untuk mengubah
perilaku mereka. Setiap sekolah harus memiliki suatu prosedur untuk
melakukannya dan suatu proses dimana para siswa mengevaluasi apa yang mereka
lakukan dengan rencana mereka. Prosedur ini mengubah tanggung jawab untuk
mengelola perilaku dari orang dewas kepada para siswa.
Di
salah satu sekolah dasar di Minneapolis, para siswa yang memiliki permasalahan
disiplin berulang kali pergi ke ruangan W/P (Waktu Perencanaan = P/T (Planning
Time). Di sana mereka menuliskan “Rencana Kesuksesan” yang mengemukakan pertanyaan
berikut ini.
1. Aturan
apakah yang saya langgar?
2. Kapankah
saya akan mengerjakan pekerjaan yang telah saya lewatkan karena saya berada di
W/P?
3. Apakah
rencana saya untuk kembali ke pekerjaan saya dan memperbaiki kehidupan sekolah
saya?
·
Saya akan
berhenti:
·
Saya akan mulai:
·
Kapan saya akan
memulainya?
Ketika para
siswa menyajikan rencana mereka yang telahdilengkapi kepada guru, mereka
sepakat atas waktu (misalnya, dua hari kemudian, satu minggu kemudian) bagi
siswa yang bersangkutan untuk menilai diri sendiri dengan menjawab
pertanyaan-pertanyaan mengenai perkembangan rencana mereka berikut ini:
·
Apa yang ingin
saya lakukan:
·
Apa yang saya
lakukan:
·
Bagaimana saya
melakukannya
·
Apa yang dapat saya
lakukan untuk melanjutkan atau memperbaiki rencana saya?
11. Bahaslah Mengapa Suatu
Perilaku Itu Salah
Menurut Emily,
seorang siswi kelas delapan: “Ketika seorang anak melakukan sesuatu yang salah, janganlah
hanya menghukum mereka, bicaralah pada mereka juga. Jelaskanlah mengapa
perbuatan yang mereka lakuukan itu salah. Itulah yang dilakukan Ibuku
terhadapku. Apabila Anda tidak menjelaskan mengapa perbuatan itu salah, mereka
hanya akan melakukannya lagi.”
Terlampau
sering, para guru tidak mengajak siswa berbicara empat mata dan menjelaskan
mengapa perilaku tertentu itu salah. Dengan demikian, saat pengajaran yang
penting telah hilang. Penjelasan moral logis yang kami berikan kepada anak-anak
kami itu penting untuk mengembangkan hati nurani mereka: suara hati yang
dengannya anak-anak memberikan alasan mengapa sesuatu itu benar atau salah.
Mengapa
mencuri itu salah? Karena ada seseorang yang memiliki property tertentu, dan
mencuri itu melanggar hak pemilik tersebut.
Mengapa
berbohong itu salah? Karena berohong itu melanggar kepercayaan, padahal
kepercayaan merupakan landasan bagi hubungan manusia.
Mengapa
menyontek itu salah? Karena menyontek merupakan suatu bentuk kebohongan.
Menyontek itu menipu orang lain.
Seorang
guru taman kanak-kanak, Helen Jackson, mendapat panggilan dari ibunya Jonathan,
seorang anak keturunan Jamaika. Dia telah bercaerita kepada ibunya bahwa Brian,
teman kelas Jonathan, memanggilnya “bocah cokelat.” Hal ini membuat Jonathan
sangat kesal sehingga dia tidak ingin kembali ke sekolah.
Ibu Jackson
mengajak Brian berbicara empat mata, duduk dengannya, dan berbicara dalam nada
yang pelan namun serius:
![]() |
Para psikolog menyebut metode pemikiran
ini sebagai induksi. Metode ini membujuk anak-anak untuk mengapresiasi, pada
tingakatan intelektual dan emosional, dampak atas tindakan merka pada orang
lain.
12. Gunakan Waktu Jeda yang
Efektif
Di
masa kanak-kanak awal dan sekolah dasar, salah satu knsekuensi disipliner yang
paling umum adalah waktu jeda. Namun demiian, sebagian besar guru memiliki
pengalaman yang tidak menyenangkan ketika memberikan waktu jeda bagi para siswa
dan menyuruh mereka kembali tidak juga menunjukkan peningkatan, dan yang lebih
parahnya lagi, ketika mereka beranjak beristirahat.
Apakah
watu jeda bermanfaat atau tidak sangat bergantung pada bagaimana para siswa
memahami makna waktu jeda tersebut. Kita harus menjelaskannya kepada mereka.
“Tujuan dari waktu
jeda adalah untuk membantu Anda memperoleh kendali atas perilaku anda, sehingga
Anda dapat kembali memberikan kontribusi bagi komunitas kelas kita dengan cara
yang positif.”
Sebuah analogi olahraga dapat
membantu para siswa memahami makna waktu jeda ini:
Beberapa
orang anak membutuhkan konsep ini dan konsep ini harus dijelaskan lebih dari
sekali. Bahkan dengan penjelasan semacam itu, seorang anak tertentu mungkin
kadang-kadang masih meolak untuk meminta waktu jeda. Apabila hal tersebut
terjadi, maka akan membantu bagi Anda apabila Anda mengajak anak tersebut ke
tempat yang sepi dan bertanya dengan pelan-pelan, “Apakah kau ingat alasan
untuk meminta waktu jeda? Apa yang harus kau lakukan di sana sehingga kau dapat
kembali kemari dan bergabung bersama kelompokmu?” Apabila hal tersebut tidak
terjadi, maka harus ada hier iarki konsekuensi, sehingga guru yang bersangkutan
dapat memberikan pilihan nyata bagi siswanya: “Jeff, kau dapat menggunakan
waktu jedamu, menenangkan dirimu, dan membuat rencana, atau kau dapat pergi ke
kantor kepala sekolah dan menghubungi orang tuamu. Buatlah keputusanmu.”
13. Rancanglah Detensi yang
Membentuk Karakter
Seorang anak
laki-laki di sekolah menengah North Carolina mengamati hal ini,”Detensi
merupakan salah satu gagasan yang paling bodoh yang pernah aku lihat. Engkau
hanya duduk disana. Hal itu tidak menghasilkan apa-apa.”
Bagaimana
detensi dapat diubah menjadi suatu pengalaman yang berpotensi untuk memperbaiki
sikap daan perilaku seorang siswa? Sekolah Menengah Buck School di Adelphi,
Maryland, merupakan sekolah urban yang sangat beraneka ragam dan memperoleh
penghargaan National School of Character pada tahun 1998 (301-431-6290).
Beberapa tahun lalu, sekolah ini merancang kembali detensi untuk membuatnya
menjadi waktu yang bermakna bagi refleksi siswa. Sekarang, ketika para siswa
menjalani detensi, mereka diminta untuk mengambil tiga lembar kertas dari buku
catatan kemudian:
1. Menulis
sebuah aragraf tentang alasan Anda menjalani detensi;
2. Menulis
sebuah paragraph tentang paling tidak tiga cara dapat menangani situasi ini
dengan berbeda dan tidak dengan cara berada dalam detensi;
3. Ceritakanlah
tentang mata pelajaran terbaik Anda di sekolah, Ceritakanlah tentang mata
pelajaran terburuk Anda. Bagaimana Anda dapat melakukan peningkatan?
4. Tuliskanlah
lima kualitas positif tentang diri Anda;
5. Tuliskanlah
tiga kualitas yang perlu Anda tingkatkan;
6. Tuliskanlah
tiga paragraph tentang kehidupan Anda. Ceritakanlah ketika Anda berusia lebih
muda, kehidupan Anda sekarang, dan rencana apa yang ingin Anda lakukan dalam
kehidupan anda selama sepuluh tahun ke depan mulai dari sekarang;
7. Tuliskanlah
sebuah paragraph tentang bagaimana Anda telah membantu orang lain menjadi
pribadi yang lebih baik; dan
8. Apakah
Anda akan kembali ke detensi ini lagi? Tuliskanlah sebuah paragraph yang
menjelaskan jawaban Anda.
14. Ajarkanlah Ganti Rugi
Salah satu
pelajaran mora yang paling penting bagi anak-anak muda untuk dipelajari adalah,”Ketika
Anda melakukan hal yang salah, Anda harus melakukan hal yang benar guna
memperbaikinya.” Perilaku yang buruk biasanya menciptakan beberapa jenis
kebobrokan-bagi kepemilikan atau property, hubungan, atau kedamaian dan
ketertiban kelas atau keluarga. Apabila Anda telah merusak sesuatu, Anda
berkewajiban untuk memperbaikinya.
Oleh
karena itu, memohon ma’af merupakan
satu-satunya langkah pertama yang harus diambil seorang anak ketika anak
tersebut berbuat suatu kesalahan. Sebagaimana yang dikatakan pepatah lama,
“Rasa ma’af untuk mengembalikan rumput kering yang hilang.” Langkah yang kedua
adalah bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaikinya?”
Sekolah
dan para guru kadang-kadang menggunakan ganti rugi sebagai konsekuensi
disipliner namun melakukan kesalahan dalam mendikte bentuk ganti rugi yang akan
diambil (“Kau sudah menulis di dinding, sekarang kau harus
menghapusnya”)daripada meminta siswa yang bersangkutan, dengan bantuan orang
dewasa apabila diperlukan, menggunakan cara yang tepat untuk memberikan ganti
rugi. Masalah yang ada pada pendekatan “Inilah Ganti Ruginya” adalah (1) siswa
yang bersangkutan akan merasa sangat marah dengan bentuk ganti rugi yang
diberikan dan melakukannya dengan enggan, tanpa merasakan penyesalan atas kesalahan
yang dilakukannya; dan (2) siswa yang bersangkutan tidak diwajibkan untuk
berpikir tentang kesalahannya, masalah yang diakibatkan bagi orang lain, dan
apa yang akan membantu memperbaiki keadaannya dan membuat sang korban merasa
lebih baik.
Tujuan ganti rugi adalah menstimulasi
pemikiran siswa dan memaksimalkan perkembanagan karakter yang terjadi sebagai
akibat dari pengalaman disipliner. Itulah alasannya mengapa lebih baik bertanya
demikian kepada siswa yang bersangkutan,”Menurut Anda adakah cara yang lebih
baik untuk memperbaiki kesalahan yang Anda lakukan?”
15. Membuat Anak-Anak
Saling Membantu Satu Sama Lain
Cheryl Watson, seorang guru kelas tiga di
San Ramon, California, membuat suatu cara untuk melibatkan anak-anak di dalam
membantu teman sekelasnya berperilaku baik dan melakukan pekerjaan mereka
dengan baik. Beliau menempatkan para siswanya dalam kelompok yang terdiri dari
empat orang yang beliau sebut “kelompok teman sebaya”
Kelompok teman sebaya tipikalnya bertemu
satu minggu sekali. Apabila sseorang dalam kelompok tertentu bermasalah dengan
guru tertentu dalam minggu tersebut dikarenakan oleh perilaku tertentu, maka
teman-teman di dalam kelompoknya memberikan saran untuk menghindari masalah
tersebut di masa mendatang (“Jika kau selalu dibentak-bentak ketika duduk
disamping Mike, mungkin kau tidak boleh duduk di sebelahnya”). Apabila seorang
anggota kelompok sedang bermasalah dengan mata pelajaran akademik tertenttu,
maka teman-teman satu kelompoknya dapat memberikan saran yang mungkin bermanfaat
bagi siswa yang bersangkutan (Beginilah caranya aku belajar untuk mengahadapi
ujian mengeja”).
Menurut Watson, “Anak-anak muncul dengan
hal-hal yang tidak pernah saya pikirkan.”
16. Bersiaplah
Untuk Menerima Seorang “Guru Tamu”
Bahkan
kelas-kelas yang berperilaku sangat baik dihadapan guru regulernya seringkali
bertindak tidak baik guna meminta guru pengganti. Par guru merasa malu ketika
mereka kembali dan memperoleh laporan tentang betapa burunya perilaku anak-anak
mereka.
Untuk menghindari scenario tersebut, Hal
Urban, ketika beliau tahu bahwa beliau akan berlaku sebagai seorang “guru tamu”
(istilah yang lebih terhormat dibandingkan dengan “ guru pengganti”), meminta
para siswa unruk berpikir, dan kadang-kadang menulis tentang, dua pertanyaan
berikut ini:
1. Jika
Anda adalah seorang guru pengganti, bagaimana Anda ingin diperlakukan?
2. Apabila
guru ini adalah ibu Anda atau saudara perempuan Anda, bagaimana Anda ingin para
siswa memperlakukan mereka?
Berefleksi pada
dua pertanyaan membua suatu perbedaan dalam perilaku siswa. Urban berkomentar,
“Saya mendapati para pengganti saya meninggalkan catatan-catatan seperti,
‘Kelas ini adalah kelas paling sopan yang pernah aku temui. Saya selalu
membacakan catatan tersebut di depan kelas. Para siswa suka mendengarkannya
karena usaha mereka dihargai.”
17.
Berikanlah Tanggung Jawab Kepada Anak
Yang Sulit Diatur
![]() |
Pada
hari selasa pagi bulan Oktober tahun 1999, di Sekola Dasar Buell di Michigan,
seorang anak laki-laki kelas satu dating ke sekolah diam-diam membawa senapan
dan sebuah pisau. Pada pukul 10:00, ketika para siswa bertukar kelas, anak ini
menembak dan membunuh Kayla Rolland yang berusia enam tahun.
Anak laki-laki dan saudara
laki-lakinya ini tinggal di sebuah pondik di mana senapan diperjualbelikan demi
obat bius. Anak ini selalu ditahan sepulang sekolah hamper setiap hari karena
mencubit, memukul, berkelahi, dan mengatakan sumpah serapah. Sekali waktu,
pernah ada guru bertanya, “Mengapa kau berkelahi dengan anak lain?” Anak ini
menjawab, “Karena Aku membenci mereka.”
Disinilah anak tersebut sedang
meminta pertolongan. Mendisiplinkan dengan menahannya sepulang sekolah sudah
jelas tidak menghasilkan apa-apa untuk mengurangi amarah yang dikeluarkannya.
Apa yang mungkin akan membantu
mengubah alur kehidupan anak ini? Kami dapat menemukan petunjuk dalam kisah
Billy, yang dideskripsikan oleh Richard Curwin dalam buku beliau yang berjudul Rediscovering Hope Our Greatest Teaching
Strategy.
Billy
merupakan seorang anak kelas empat dalam komunitas rural atau pinggiran. Bocah
ini selalu tidak menyukai gurunya, gampang berkelahi dan sedikit sekali
melakukan pekerjaan sekolah. Ayahnya berada dalam penjara. Ibunya seorang
alkoholik. Billy sendiri sudah mulai menggunakan alcohol ketika mengalami
stress.
Di alam workshop, saya bertanya
demikian kepada para guru, “Apa yang dapat Anda lakukan untuk membuat Billy
berhenti berkelahi dan pada saat yang sama membentuk karakternya, ketika Anda
tampaknya tidak mungkin mengubah karakter dunia asalnya?”
Beberapa orang guru menganjurkan
bahwa Billy memerlukan seorang mentor: orang dewasa atau seorang siswa lebih
tua yang mampu bekerja dengannya dan memberikannya kasih sayang dan perhatian
yang tampaknya kurang di dalam rumahnya. Namun demikian, apa yang dilakukan
sekolah Billy jauh lebih efektif: sekolah ini menempatkan Billy dalam posisi
mentr. Gurunya, kepala sekolahnya, dan konselornya berkumpul bersama dan
menyajikan rencana berikut ini padanya:
1.
Billy dapat menjadi
teman khusus dan pelindung anak kelas satu yang duduk di atas kursi roda.
2.
Billy dapat membantu
anak yang bersangkutan naik dan turun bus sekolah, duduk dengannya saat makan
siang, menjadi pelindungnya di tempat bermain, dan mengunjungi setiap hari di
ruang kelasnya.
3.
Apabila Billy terlibat
dalam perkelahian apapun di sekolah, maka dia kehilangan hak khususnya atas
kontak lebih jauh dengan anak laki-laki yang bersangkutan selama satu hari itu.
18.
Merancang Program “sanksi yang Tegas” bagi para Siswa yang Sulit Diatur
Para
guru sekolah menengah atas seringkali bertanya demikian, “Bukankah karakter
anak-anak lebih dibentuk pada saat mereka sampai dihadapan kita?”
Untungnya
sifat dasar manusia memiliki kekenyalan yang luar biasa, suatu kemampuan untuk
berkembang, apabila kita dapat menemukan intervensi yang tepat. Hal ini masih
benar bagi para remaja.
Ketika survei
menanyakan para remaja tentang disiplin, mereka seringkali mengatakan mereka
ingin para orang tua dan guru mereka mendisiplinkan mereka lebih banyak dan
meminta lebih banyak dari mereka. Anak-anak menginginkan struktur yang tegas, jujur,
dan disiplin yang masuk akal. Mereka berusaha menaatinya.
Hal
ini tidak berarti bahwa disiplin itu mudah. Sebagaimana yang dibuktikan oleh
guru veteran manapun, para siswa sekarang ini datang kesekolah dengan lebih
banyak masalah, lebih banyak tekanan, lebih banyak amarah, lebih sedikit
kontrol diri, lebih sedikit kesadaran akan benar dan salah daripada yang mereka
bawa di masa lalu. Bahkan para guru yang paling banyak akal dan berdedikasi
seringkali dikalahkan oleh jumlah dan tingkat keparahan permasalahan perilaku
yang harus mereka tangani.
Namun
demikian, kita masih harus tekun mencari cara, bahkan dengan anak-anak yang
paling menantang sekalipun, untuk mendisiplinkan mereka dengan cara yang
membentuk karakter. Dan kita juga harus berinvestasipaling tidak sama banyaknya
dengan energi yang dihabiskan di dalam mengoreksi perilaku yang salah.
Mendisiplinkan berarti mengajar. Apabila dipahami dengan tepat, disiplin
bukanlah merupakan kendali atas gerombolan anak-anak melainkan pendidikan
karakter, dengan disiplin diri sebagi tujuan utamanya. Tidak ada aspek dari
pendidikan karakter yang lebih mendasar untuk menciptakan sekolah berkarakter.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Disiplin
adalah sesuatu yang harus dikembangkan dari dalam diri, seperti tulang
belakang, tidak berpatokan dari luar diri, seperti sepasang belenggu. Disiplin terbagi
menjadi dua kategori : pencegahan dan koreksi. Strategi pencegahan yang baik
akan sangat mereduksi frekuensi permasalan perilaku.
Cara
mempratikkan disiplin
berbasis karakter ada 18, antara lain: berbagi agenda, pertahankan sikap
bertanggung jawab siswa, mengajar prinsip-prinsip tanggung jawab, melibatkan
siswa didalam menentukan aturan, mengajarkan aturan emas, berbagi rencana
dengan orang tua, mempraktikan prosedur, gunakan bahasa yang baik, membangun
para siswa membuat rencana perubahan perilaku, gunakan waktu jeda yang efektif,
rancanglah detensi yang membentuk karakter, ajarkan ganti rugi, membuat
anak-anak saling membantu satu sama lain, bersiaplah untuk menerima seorang
guru tamu, berikanlah tanggung jawab kepada anak yang sifat diatur, merancang
program sanksi yang tegas bagi para siswa yang sulit diatur.
3.2
Saran
Sebagai calon
guru kita harus memahami bagaimana cara
membentuk karakter disiplin dalam diri siswa karena untuk menanamkan
kedisiplinan pada diri siswa dibutuhkan kerjasama yang baik antara guru dan siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Lickona, Thomas, 2012. Character Matters, Jakarta: Bumi Aksara.
![Text Box: Brian, ada dua jenis rasa sakit: rasa sakit di luar yang dapat kau lihat, seperti luka gores atau luka memar, dan rasa sakit di dalam [menunjuk ke hatinya] yang tidak dapat kau lihat , seperti perasaan sakit hati, rasa sakit semacam ini sangat nyata. Rasa sakit semacam ini lebih menyakitkan dan berlangsung lebih lama daripada rasa sakit di luar.
Ketika kau memanggil Jonathan “bocah cokelat,” kau sedang menyebabkan rasa sakit didalam hatinya. Bahkan, perasaan itu sangat menyakitkan sehingga dia tidak ingin kembali ke kelas kita. Dan kita tidak dapat membiarkan seorang pun menyebabkan rasa sakit itu pada Jonathan. Ruang kela kita harus menjadi sebuah tempat dimana setiap orang merasa aman dan bahagia. Apakah kau memahaminya? Beritahukan pada ibu apa yang baru saja Ibu sampaikan.](file:///C:\Users\kemas\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image008.png)

No comments:
Post a Comment