Monday, 22 February 2016

mempraktekkan disiplin berbasis karakter



BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan disetiap jenjang, termasuk di sekolah harus diselengggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Dan untuk itu perlu adanya pengembangan pembelajaran berbasis karakter guna menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri.
Untuk itu penulis menulis makalah yang berkaitan dengan mempraktikkan disiplin berbasi karakter.

1.2              Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari disiplin?
2.      Bagaimana cara guru mempratikkan/mengajar disiplin berbasis karakter kepada peserta didik?

1.3              Tujuan
1.      Untu mengetahui apa pengertian dari  disiplin.
2.      Untuk mengetahui bagaimana cara guru mempratikkan/mengajar disiplin berbasis karakter kepada peserta didik.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Pengertian Disiplin
Disiplin adalah sesuatu yang harus dikembangkan dari dalam diri, seperti tulang belakang, tidak berpatokan dari luar diri, seperti sepasang belenggu. (seorang guru) untuk kebanyakan sekolah, disiplin merupakan titik masuk bagi pendidikan karakter. Jika tidak ada rasa hormat terhadap aturan, otoritas, dan hak-hak orang lain, maka tidak ada lingkungan yang baik bagi pengajar dan pembelajaran. Banyak sekolah berpaling kepada pendidikan karakter karena sekolah-sekolah tersebut tertekan oleh penurunan yang dilihatnya dalam rasa hormat dan tanggung jawab para siswa dan berharap pendidikan karakter dapat membelikkan keadaan tersebut.
            Pendidikan karakter menegaskan bahwa disiplin, apabila ingin berhasil, harus mengubah anak-anak dari dalam diri. Disiplin harus mengubah sikap mereka, cara mereka berpikir dan merasa. Disiplin harus mengarahkan mereka untuk ingin berperilaku berbeda. Disiplin harus membantu mereka mengembangkan kabaikan-seringkali berupa rasa hormat, empati, penilaian yang baik, dan control diri-yang, pada pokoknya, ketiadaannya mengarah kepermasalahan disiplin. Apabila kebaikkan yang tidak ada tersebut tidak dikembangkan, bersama-sama dengan komitmen untuk mempratikkannya, maka permasalahan perilaku akan terjadi lagi. Ringkasnya, disiplin yang efektif harus berbasis-karakter, disiplin ini harus memperkuat karakter siswa, semata-mata bukan mengontrol perilaku mereka.
            Disiplin terbagi menjadi dua kategori : pencegahan dan koreksi. Strategi pencegahan yang baik akan sangat mereduksi frekuensi permasalan perilaku. Namun beberapa masalah masih akan muncul, dan strategi pembangunan karakter akan diperlukan untuk mengoreksi permasalahan ini.
                                                                     
2.2       Cara Mempratikkan Disiplin Berbasis Karakter
1.      Berbagi Agenda
Banyak ruang kelas dipenuhi dengan “permasalahan agenda ganda.” Agenda guru adalah memberikan materi ketika mengajar, namun agenda siswa adalah bukan mempelajari materi tersebut. Tantangannnya adalah untuk membuat siswa memahami agenda intruksional yang ada.
Salah satu cara melakukannya adalah menjelaskan kepada siswa tujuan pelajaran yang diberikan, dasar pemikirannya, dan pola pembelajaran yang akan digunakan guru untuk mencapai tujuan. Ann Jackewenko, yang mengajarkan bahasa Ingris di kelas sebelas pada pusat kota New York, mencari cara untuk melibatkan para siswanya di awal kelas dengan mengajukkan tiga pertanyyaan yang telah di tulis di papan :
·         Apa yang akan kita pelajari hari ini ?
·         Mengapa penting bagi kita untuk mengetahuinya ?
·         Begaimana kita akan mempelajarinya ?
“Para siswa suka memperoleh gambaran yang besar”, jelas beliau. “apabila tidak menghabiskan waktu untuk menjelaskan pada para siswa mengapa penting bagi kita untuk mempelajari point atau keahlian tertentu, maka mereka akan sering melawan anda dengan sikap berikut, “mengapa kita harus mempelajarinya?”.
2.      Pertahankan sikap bertanggung jawab siswa
Para guru yang berpegang teguh pada sikap disiplin menentukan ekspektasi yang tinggi baik dalam bidang akademik maupun perilaku dan kemudian yang mempertahankan sikap bertanggung jawab siswa. Para guru ini seringkali terkenal karena bersikap “tegas”.
Deb Halliday, yang mengajar kelas empat di pusat kota New York, merupakan jenis guru semacam ini. Beliau berkata, “saya memiliki kebijakan yang tegas dalam pekerjaan rumah. Para siswa diharapkan untuk melakukan pekerjaan rumah mereka setiap malam dan menyerahkannya setiap pagi. Apabila pkerjaan rumah ini tidak diselesaikan, maka siswa yang bersangkutan harus menyelesaikannya selama waktu istirahat. Tidak ada cara yang lain, dan kelas ini tahu tentang hal tersebut”.
3.      Mengajar prinsip-prinsip tanggung jawab
Ketika Natalie Douglas dipanggil untuk memberikan konsultasi kepada 150 orang remaja di sebuah sekolah alternative Indiana, beliau mengawalinya dengan melatih fakultas tersebut untuk mengajarkan “lima prinsip tanggung jawab” kepada para siswanya. Kelima prinsip ini dipampang pada poster cetak berukuran besar di setiap ruang kelas :
·         Saya bertanggung jawab atas perilaku saya. Apabila saya berperilaku baik, maka saya memperoleh kredit. Apabila saya berprilaku buruk, maka saya harus menanggung akibatnya dan tidak menyalahkan orang lain.
·         Saya bertanggung jawan atas pembelajaran saya. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukannya bagi saya.
·         Saya bertanggung jawab untuk memperlakukan semua orang dengan pertimbangan dan rasa hormat.
·         Saya bertanggung jawab untuk memberikan kontribusi kepada kelas saya dan sekolah saya.
·         Saya bertanggung jawa atas lingkungan saya- untuk memperlakukannya dengan kepeduliannya sehingga orang lain dapat menikmati lingkungan tersebut.
Para siswa menjadi lebih efektif mengenai perilaku mereka. Ketika para guru menangani gangguan dengan cara ini, rujukan displin kepada kantor kepala sekolah menurun dari rata-rata sekitar dua belas hingga lima belas kali sehari selama tahun sekolah sebelumnya menjadi dua atau tiga kali sehari.
Kita hidup dalam masyarakat yang di dalamnya mengambil tanggung jawab atas tindakan seorang menjadi semakin kurang lazim dan menghindari kewajiban menjadi norma yang berlaku.”tampaknya setiap orang seperti ‘korban’, kata seorang kepala sekolah. “saya menjadi seorang teman berusia 50 tahun, yang menyalahkan sebagian besar permasalahannya pada ayahnya yang pemabuk.ayahnya meninggal ketika ia berusia 2 tahun.” Mengajarkan anak-anak tentang prinsip bertanggung jawab merupakan sebuah langkah dalam arah yang tepat, kearah membawa anak-anak untuk mengambil tanggung jawab atas perilaku dan kehidupan mereka.
4.      Melibatkan Siswa didalam Menentukan Aturan
Ketika beliau menjadi pemenang penghargaan guru sejarah dan psikologi di sekolah menengah. Hal urban mengelompokan para siswa menjadi lima atau enam orang dan memberikan lembar kerja untuk dilengkapi sebagai berikut:
Jika Kita Membuat Aturan
Para siswa tidak akan diperoleh untuk:
1)        _____________________________
2)        _____________________________
3)        _____________________________
4)        _____________________________
5)        _____________________________

Para siswa akan didorong untuk:
1)        _____________________________
2)        _____________________________
3)        _____________________________
4)        _____________________________
Kelompok ini kemudian memberikan laporan, pertama-tama hal-hal yang tidak boleh dilakukan para siswa, kemudian hal-hal yang akan didorong bagi para siswa. Bapak urban menyiapkan daftar berjalan diatas papan tulis. Beliau memberikan beberapa tambahan bagi dirinya sendiri (diberi tanda bintang dalam daftar akhir)
Aturan Kelas: Yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan di Kelas
Bapak Urban
(Ditulis oleh guru dan para murid)
Anda diperkenankan dan didorong untuk melakukan hal-hal berikut di dalam kelas:
Anda tidak diperkenankan melakukan hal-hal berikut di dalam kelas:
Mengikuti aturan emas
Mengabaikan/ tidak menganggap siswa lain
Menghormati guru
Mengabaikan/ tidak menganggap guru
Membuat catatan yang baik
Duduk dan tidak melakukan apa-apa
Katakana “tolong” dan “terimakasih”
Bersumpah sarapah/ berkata-kata kotor
Mendengarkan
Menginterupsi/ berbicara sendiri
Memiliki sikap positive
Mengeluh/ berprilaku seperti “keledai”
Menjaga kelas tetap bersih
Membuang sampah sembarangan
Menyatakan pendapat anda
Mendominasi pembicaraan
Berprestasi
Tidur/ menaruh kepala di atas meja
Memiliki prilaku yang baik
Bersikap kasar
Datang tepat waktu
Datang terlambat

5.      Mengajarkan Aturan Emas
Disiplin kelas merupakan kesempatan emas untuk mengajarkan aturan emas.
Gary Robinson mengajarkan para siswa kelas empat dan enam di Skaneateles school district, Skaneateles, New York. Pada hari pertama sekolah, beliau akan betanya demikian kepada para siswanya, “bagaimana anda ingin diperlukan dalam kelas ini—oleh saya, yang menjadi guru di kelas ini, dan oleh setiap orang dalam ruangan ini? Tuliskanlah dua atau tiga cara tantang bagaimana anda ingin diperlakukan.”
Para siswa menuliskan bahwa mereka ingin diperlukan dengan cara yang sama, dengan rasa hormat, bukan dijadikan bahan tertawaan atau dipermalukan, tidak ditinggalkan, dan seterusnya. Bapak Robinson telah meminta mereka membagikan daftar mereka dengan seorang teman dan membahasnya sebagai satu kesatuan kelas.
Kemudian, beliau mengajukan pertanyaan yang kedua, “bagaimana caranya anda harus memperlakukan orang lain di dalam ruangan ini?” para siswa dapat memandangnya secara logis bahwa apabila mereka ingin diperlakukan dengan adil dan dengan rasa hormat, maka sudah jelas mereka harus memperlakukan teman-teman mereka dengan cara yang sama. Bapak Robinson memberikan penekanan pada poin ini bagi kelas tersebut :
Setiap hak membawa tanggung jawab. Apabila anda harus berhak untuk dihormati, maka anda bertanggung jawab untuk memperluas rasa hormat yang sama kepada orang lain. Anda tidak dapat mengklaimnya kecuali kalau anda menerima tanggung jawab tersebut. Kedua hal ini merupakan sisi yang sama dalam sebuah uang logam.
Beliau merangkum demikian, “kami sedang mengatakan kalau anda harus memperlakukan orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan. Apakah ada yang tahu pertanyataan ini disebut apa?” beberapa siswa di dalam kelas itu mengetahuinya sebagai : “Aturan Emas”.
Berikutnya, beliau bertanya demikian, Apa yang akan terjadi apabila sesorang melanggar aturan emas ini?” beliau menjelaskan system konsekuensi yang beliau miliki :
Saat yang pertama anda melanggar aturan emas ini, sya akan berhati mengajar dan hanya memberikan “tatapan jahat” [dengan tersenyum] kepada anda. Saya ingin anda bertanya pada diri anda sendiri, “apa yang aku lakukan sehingga melanggar aturan emas tersebut?”
Saat yang kedua anda melanggar aturan emas di hari yang sama, saya akan menggil nama anda. Sekali lagi, saya ingin anda berfikir, “apa yang aku lakukan sehingga melanggar aturan emas tersebut?’
Saat yang ketiga anda melanggar aturan emas ini, saya akan meminta anda untuk duduk di meja aturan emas di bagian belakang kelas ini dan menuliskan “bagaimana aku melanggar aturan emas ini” kepada saya. Ketika saya memperoleh kesempatan pertama, saya akan kembali, dan kita akan membicarakan tentang apa yang anda tulis.
Apabila masalah ini telah berlangsung selama beberapa hari atau lebih, saya akan meminta anda untuk menulis rencana peningkatan perilaku, “bagaimana saya berencana untuk mematuhi aturan emas di masa mendatang.”
Dengan bertanya, “bagaimana anda ingin diperlakukan?” dan “bagaimana anda seharusnya memperlakukan orang lain? “bapak Robinson membimbing para siswanya kepada aturan emas dan membantu mereka untuk melihat logika moralnya. System konsekuensi beliau membuat mereka bertanggung jawab atas aturan emas ini dan memberikan praktik bersinambung kepada mereka di dalam menggunakan standar tersebut guna mengevaluasi perilaku mereka.
6.      Berbagi Rencana dengan Orang Tua
Ditingkat sekolah dasar dan menengah, salinan rencana displin guru harus diberikan kepada orang tua di awal tahun ajaran. Rencana ini harus membuat para orang tua mengetahui aturan kelas dan konsekuensinya, dan pada titik manakah orang tua akan diminta untuk membantu memecahkan sebuah masalah. Semua ini dapat disampaikan dengan cara yang positif. Misalnya, berikut ini merupakan surat yang dikirim ke rumah oleh Amy Conley, seorang guru kelas tiga di sekolah dasar Burton Street di Cazenovia, New York.
Yang terhormat Bapak/IbuOrang Tua atau Wali Murid
Saya ingin menepatkan nama anda dalam rencana disiplin saya untuk tahun ajaran yang akan dating. Karena saya percaya bahwa keberhasilan dalam kehidupan berkembang melalui disiplin diri, saya ingin memberikan setiap kesempatan untuk mengelola perilaku mereka sendiri kepada semua siswa. Untuk mencapai hal ini saya akan menggunakan rencana disiplin berikut ini.
Harapan
1.        Menghormati diri anda, orang lain, dan kelas kita.
2.        Bertanggung jawab atas diri anda, barang-barang anda, dan materi kelas anda.
3.        Berpartisipasi dalam ruang kelas kita yang aman dan penuh kepedulian.
4.        Lakukan yang terbaik; pantang menyerah !
5.        Patuhilah aturan emas.
Ketika harapan ini tidak dipenuhi (kami jarang bertindak sampai melewati konsekuensi 2)
1.      Pengingat
2.      Zona berpikir-3
3.      Zona berpikir dalam ruangan kelas tiga lainnya-3 menit
4.      Orang tua dipanggil
5.      Konferensi—siswa, orang tua/wali murid, ibu conley, dan ibu Gordon (kepala sekolah)
Saya dan anak-anak telah membahas rencana ini bersama-sama, namun saya mohon Bapak/Ibu berkenan untuk mengeluanya kembali dengan anak anda. Dalam pengalaman saya, rencana ini membantu menciptakan iklim yang sangat positif karena para siswa mengetahui apa yang diharapkan sadi mereka. Terima kasih banyak atas waktu yang anda luangkan.
7.    Mempraktikkan Prosedur
            Menurut mantan guru sejarah sekolah menengah Charline Abourjilie, “karena saya ingin para siswa saya mengetahui prosedur untuk menangani makalah, datang ke kelas dan muali bekerja, menyerahkan surat izin kepada saya ketika mereka tidak datng ke kelas, dan seterusnya, saya menghabiskan waktu sekitar lima belas menit di masing-masing jam pelajaran selama minggu pertama sekolah untuk memperatikkan prosedur ini. Saya mendemonstrasikan prosedur yang saya ingin mereka ikuti ketika mereka datang ke kelas setiap harinya. Kemudian saya membawa mereka ke lorong, beserta dengan tas dan semua bawaan mereka, dan meminta mereka masuk ke kelas dengan mengikuti prosedur tersebut. Kami melakukan kegiatan ini selama tiga tahun atau empat kali sampai semua siswa melakukannya dengan benar. Kegiatan ini menghematbanyak waktu sepanjang jalan”.
8.      Gunakan Bahasa yang Baik
”bahasa membentuk karakter”, tulis linda popov dalam the vitures project educator’s guide (www. Jalmarperss.com). bahasa kebaikan dapat menciptakan sebuah budaya karakter.
            Deb Halliday menggunakan bahasa kebaikkan untuk memuji para siswa kelas empat beliau. Dari pada memberikan pujian unum seperti “kerja bagus” atau “ sempurna”, beliau akan mengatakan hal-hal seperti:
Text Box: Ibu mengagumi usaha yang kalian tempuh dalam proyek itu. Ibu mengapresiasi rasa hormat kalian ketika mengangkat tangan daripada berteriak-teriak memanggil nama ibu di seluruh ruangan.
Terima kasih karena telah bersabar.
 


            Serupa dengan hal tersebut, bahasa kebaikan dapat digunakan untuk mengoreksi atau
mengarahkan kembali perilaku yang baik.Text Box: Adakah cara yang lebih tepat untuk mengatakan hal itu?
Apa yang akan membantu kalian membahas permasalahan ini dengan damai?


            Ray Tuffs menggunakn bahasa kebaikan ini dalam pekerjaan sebagai seorang wakil kepala sekolah di sebuah seklah alternative di Renton, Washington. Banyak dari antara para siswa beliau sebelumnya telah dikeluarkan dari sekolah-sekolah yang lain, dan beberapa di antaranya memiliki catatan criminal.
            Ketika para siswa ini dikirim ke kantornya, beliau mengawali pembicaraan dengn berkata demikian, “Katakan kepada saya apa yang terjadi dari sudut pandang Anda” dan mendengarkan dengan rasa hormat kepada penuturan para siswa ini. Kemudian beliau menunjuk pada poster kebaikan beliau (menuliskan lima puluh dua kebaikan dari buku Linda Popov) dan bertanya demikian, “Manakah dari daftar kebaikan tersebut yang mungkin telah Ana lupakan? Manakah dari antara daftar kebaikan tersebut yang mungkin telah membantu Anda untuk meenghindari permasalahan yang Anda milki?” Kadang-kadang beliiau memberikan sebuah cerita atau artikel ang berhubungan dengan kebikan yang perlu dikembangkan kepada para siswanya.
9.    Membantu para Siswa Belajar dari Kesalahan
            Menurut seorang kepala sekolah menengah, “Filosofi kami adalah bahwa anak-anak akan melakukan kesalahan. Kami mengajarkan kepada mereka bagaimana mereka menanggapi kesalahan mereka, dalam sekolah dan dalam kehidupan, yang membuat semuanya berbeda.”
            Di tempat bapak kepala sekolah ini, ketika para siswa melakukan sesuatu yang salah, mereka biasanya diminta untuk memberikan tanggapan, kadang-kadang dalam bentuk tulisan, terhadap empat pertanyaan berikut ini.
1.      Kesalahan apa yang kau lakukan?
2.      Apa yang kau pelajari dari keslahan tersebut?
3.      Bagaimana kau dapat menhindari kesalahan tersebut di masa mendatang?
4.      Apakah kau perlu membuat rencana?
10.  Membantu para Siswa Membuat Rencana Perubahan Perilaku
            Ketika permasalahan perilaku masih tetap terjadi, para siswa perlu membuat rencana tertulis untuk mengubah perilaku mereka. Setiap sekolah harus memiliki suatu prosedur untuk melakukannya dan suatu proses dimana para siswa mengevaluasi apa yang mereka lakukan dengan rencana mereka. Prosedur ini mengubah tanggung jawab untuk mengelola perilaku dari orang dewas kepada para siswa.
            Di salah satu sekolah dasar di Minneapolis, para siswa yang memiliki permasalahan disiplin berulang kali pergi ke ruangan W/P (Waktu Perencanaan = P/T (Planning Time). Di sana mereka menuliskan “Rencana Kesuksesan” yang mengemukakan pertanyaan berikut ini.
1.      Aturan apakah yang saya langgar?
2.      Kapankah saya akan mengerjakan pekerjaan yang telah saya lewatkan karena saya berada di W/P?
3.      Apakah rencana saya untuk kembali ke pekerjaan saya dan memperbaiki kehidupan sekolah saya?
·Saya akan berhenti:
·Saya akan mulai:   
·Kapan saya akan memulainya?
Ketika para siswa menyajikan rencana mereka yang telahdilengkapi kepada guru, mereka sepakat atas waktu (misalnya, dua hari kemudian, satu minggu kemudian) bagi siswa yang bersangkutan untuk menilai diri sendiri dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai perkembangan rencana mereka berikut ini:
·         Apa yang ingin saya lakukan:
·         Apa yang saya lakukan:
·         Bagaimana saya melakukannya
                   Saya menepati rencana saya dan saya merasa nyaman
                   Saya menyuka sebagian besar dari apa yang saya lakukan namun saya akan membuat rencana saya berjalan lebih baik lain kali.
                    Saya menyukai sedikit dari apa yang saya lakukan. Rencana ini lebih baik dari diri saya sendiri.
                   Saya perlu membuatrencana yang baru. Rencana yang ini tidak berhasil bagi saya.
·           Apa yang dapat saya lakukan untuk melanjutkan atau memperbaiki rencana saya?


 


11.  Bahaslah Mengapa Suatu Perilaku Itu Salah
Menurut Emily, seorang siswi kelas delapan: “Ketika seorang anak melakukan sesuatu yang salah, janganlah hanya menghukum mereka, bicaralah pada mereka juga. Jelaskanlah mengapa perbuatan yang mereka lakuukan itu salah. Itulah yang dilakukan Ibuku terhadapku. Apabila Anda tidak menjelaskan mengapa perbuatan itu salah, mereka hanya akan melakukannya lagi.”
Terlampau sering, para guru tidak mengajak siswa berbicara empat mata dan menjelaskan mengapa perilaku tertentu itu salah. Dengan demikian, saat pengajaran yang penting telah hilang. Penjelasan moral logis yang kami berikan kepada anak-anak kami itu penting untuk mengembangkan hati nurani mereka: suara hati yang dengannya anak-anak memberikan alasan mengapa sesuatu itu benar atau salah.
Mengapa mencuri itu salah? Karena ada seseorang yang memiliki property tertentu, dan mencuri itu melanggar hak pemilik tersebut.
Mengapa berbohong itu salah? Karena berohong itu melanggar kepercayaan, padahal kepercayaan merupakan landasan bagi hubungan manusia.
Mengapa menyontek itu salah? Karena menyontek merupakan suatu bentuk kebohongan. Menyontek itu menipu orang lain.
Seorang guru taman kanak-kanak, Helen Jackson, mendapat panggilan dari ibunya Jonathan, seorang anak keturunan Jamaika. Dia telah bercaerita kepada ibunya bahwa Brian, teman kelas Jonathan, memanggilnya “bocah cokelat.” Hal ini membuat Jonathan sangat kesal sehingga dia tidak ingin kembali ke sekolah.
Ibu Jackson mengajak Brian berbicara empat mata, duduk dengannya, dan berbicara dalam nada yang pelan namun serius:


Text Box: Brian, ada dua jenis rasa sakit: rasa sakit di luar yang dapat kau lihat, seperti luka gores atau luka memar, dan rasa sakit di dalam [menunjuk ke hatinya] yang tidak dapat kau lihat , seperti perasaan sakit hati, rasa sakit semacam ini sangat nyata. Rasa sakit semacam ini lebih menyakitkan dan berlangsung lebih lama daripada rasa sakit di luar.
Ketika kau memanggil Jonathan “bocah cokelat,” kau sedang menyebabkan rasa sakit didalam hatinya. Bahkan, perasaan itu sangat menyakitkan sehingga dia tidak ingin kembali ke kelas kita. Dan kita tidak dapat membiarkan seorang pun menyebabkan rasa sakit itu pada Jonathan. Ruang kela kita harus menjadi sebuah tempat dimana setiap orang merasa aman dan bahagia. Apakah kau memahaminya? Beritahukan pada ibu apa yang baru saja Ibu sampaikan.
 






Para psikolog menyebut metode pemikiran ini sebagai induksi. Metode ini membujuk anak-anak untuk mengapresiasi, pada tingakatan intelektual dan emosional, dampak atas tindakan merka pada orang lain.
12.  Gunakan Waktu Jeda yang Efektif
            Di masa kanak-kanak awal dan sekolah dasar, salah satu knsekuensi disipliner yang paling umum adalah waktu jeda. Namun demiian, sebagian besar guru memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan ketika memberikan waktu jeda bagi para siswa dan menyuruh mereka kembali tidak juga menunjukkan peningkatan, dan yang lebih parahnya lagi, ketika mereka beranjak beristirahat.
            Apakah watu jeda bermanfaat atau tidak sangat bergantung pada bagaimana para siswa memahami makna waktu jeda tersebut. Kita harus menjelaskannya kepada mereka. “Tujuan dari waktu jeda adalah untuk membantu Anda memperoleh kendali atas perilaku anda, sehingga Anda dapat kembali memberikan kontribusi bagi komunitas kelas kita dengan cara yang positif.”
Text Box: Berapa banyak orang yang pernah menonton pertandingan bola basket? Mengapa pelatih tim meminta waktu jeda? Para pemain melakukan kesalahan, melemparan bola begitu saja, dan seterusnya Mereka telah kehilangan kendali aas permainan mereka.
Jadi, apakah hal pertama yang harus dilakukan paara pemain dalam waktu jeda? Mereka harus menenangkan diri dan mendapatkan kendali. Apakah hal kedua yang harus mereka lakukan dalam waktu jeda, sebelum mereka dapat kembali permainan? Mereka harus membuat rencana sehingga mereka tidak melakukan kesalahan yang sama.
Demikian pula halnya ketika kita berada didalam kelas. Ketika Anda kehilangan kendali, Anda harus memberikan waktu jeda dan melakukan dua hal. Pertama, tenangkanlah diri Anda an raihlah kembali atas diri Anda. Kedua,buatlah rencana atas apa yang akan Anda lakukan untuk menghindari kesalahan yang sama. Kemudian, sampaikanlah rencana Anda kepada saya, dan Anda akan kembali ke dalam permainan.”


            Sebuah analogi olahraga dapat membantu para siswa memahami makna waktu jeda ini:








            Beberapa orang anak membutuhkan konsep ini dan konsep ini harus dijelaskan lebih dari sekali. Bahkan dengan penjelasan semacam itu, seorang anak tertentu mungkin kadang-kadang masih meolak untuk meminta waktu jeda. Apabila hal tersebut terjadi, maka akan membantu bagi Anda apabila Anda mengajak anak tersebut ke tempat yang sepi dan bertanya dengan pelan-pelan, “Apakah kau ingat alasan untuk meminta waktu jeda? Apa yang harus kau lakukan di sana sehingga kau dapat kembali kemari dan bergabung bersama kelompokmu?” Apabila hal tersebut tidak terjadi, maka harus ada hier iarki konsekuensi, sehingga guru yang bersangkutan dapat memberikan pilihan nyata bagi siswanya: “Jeff, kau dapat menggunakan waktu jedamu, menenangkan dirimu, dan membuat rencana, atau kau dapat pergi ke kantor kepala sekolah dan menghubungi orang tuamu. Buatlah keputusanmu.”
13.  Rancanglah Detensi yang Membentuk Karakter
Seorang anak laki-laki di sekolah menengah North Carolina mengamati hal ini,”Detensi merupakan salah satu gagasan yang paling bodoh yang pernah aku lihat. Engkau hanya duduk disana. Hal itu tidak menghasilkan apa-apa.”
Bagaimana detensi dapat diubah menjadi suatu pengalaman yang berpotensi untuk memperbaiki sikap daan perilaku seorang siswa? Sekolah Menengah Buck School di Adelphi, Maryland, merupakan sekolah urban yang sangat beraneka ragam dan memperoleh penghargaan National School of Character pada tahun 1998 (301-431-6290). Beberapa tahun lalu, sekolah ini merancang kembali detensi untuk membuatnya menjadi waktu yang bermakna bagi refleksi siswa. Sekarang, ketika para siswa menjalani detensi, mereka diminta untuk mengambil tiga lembar kertas dari buku catatan kemudian:
1.      Menulis sebuah aragraf tentang alasan Anda menjalani detensi;
2.      Menulis sebuah paragraph tentang paling tidak tiga cara dapat menangani situasi ini dengan berbeda dan tidak dengan cara berada dalam detensi;
3.      Ceritakanlah tentang mata pelajaran terbaik Anda di sekolah, Ceritakanlah tentang mata pelajaran terburuk Anda. Bagaimana Anda dapat melakukan peningkatan?
4.      Tuliskanlah lima kualitas positif tentang diri Anda;
5.      Tuliskanlah tiga kualitas yang perlu Anda tingkatkan;
6.      Tuliskanlah tiga paragraph tentang kehidupan Anda. Ceritakanlah ketika Anda berusia lebih muda, kehidupan Anda sekarang, dan rencana apa yang ingin Anda lakukan dalam kehidupan anda selama sepuluh tahun ke depan mulai dari sekarang;
7.      Tuliskanlah sebuah paragraph tentang bagaimana Anda telah membantu orang lain menjadi pribadi yang lebih baik; dan
8.      Apakah Anda akan kembali ke detensi ini lagi? Tuliskanlah sebuah paragraph yang menjelaskan jawaban Anda.


14.  Ajarkanlah Ganti Rugi
Salah satu pelajaran mora yang paling penting bagi anak-anak muda untuk dipelajari adalah,”Ketika Anda melakukan hal yang salah, Anda harus melakukan hal yang benar guna memperbaikinya.” Perilaku yang buruk biasanya menciptakan beberapa jenis kebobrokan-bagi kepemilikan atau property, hubungan, atau kedamaian dan ketertiban kelas atau keluarga. Apabila Anda telah merusak sesuatu, Anda berkewajiban untuk memperbaikinya.
      Oleh karena itu, memohon ma’af  merupakan satu-satunya langkah pertama yang harus diambil seorang anak ketika anak tersebut berbuat suatu kesalahan. Sebagaimana yang dikatakan pepatah lama, “Rasa ma’af untuk mengembalikan rumput kering yang hilang.” Langkah yang kedua adalah bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaikinya?”
            Sekolah dan para guru kadang-kadang menggunakan ganti rugi sebagai konsekuensi disipliner namun melakukan kesalahan dalam mendikte bentuk ganti rugi yang akan diambil (“Kau sudah menulis di dinding, sekarang kau harus menghapusnya”)daripada meminta siswa yang bersangkutan, dengan bantuan orang dewasa apabila diperlukan, menggunakan cara yang tepat untuk memberikan ganti rugi. Masalah yang ada pada pendekatan “Inilah Ganti Ruginya” adalah (1) siswa yang bersangkutan akan merasa sangat marah dengan bentuk ganti rugi yang diberikan dan melakukannya dengan enggan, tanpa merasakan penyesalan atas kesalahan yang dilakukannya; dan (2) siswa yang bersangkutan tidak diwajibkan untuk berpikir tentang kesalahannya, masalah yang diakibatkan bagi orang lain, dan apa yang akan membantu memperbaiki keadaannya dan membuat sang korban merasa lebih baik.
      Tujuan ganti rugi adalah menstimulasi pemikiran siswa dan memaksimalkan perkembanagan karakter yang terjadi sebagai akibat dari pengalaman disipliner. Itulah alasannya mengapa lebih baik bertanya demikian kepada siswa yang bersangkutan,”Menurut Anda adakah cara yang lebih baik untuk memperbaiki kesalahan yang Anda lakukan?”
15.  Membuat Anak-Anak Saling Membantu Satu Sama Lain
      Cheryl Watson, seorang guru kelas tiga di San Ramon, California, membuat suatu cara untuk melibatkan anak-anak di dalam membantu teman sekelasnya berperilaku baik dan melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Beliau menempatkan para siswanya dalam kelompok yang terdiri dari empat orang yang beliau sebut “kelompok teman sebaya”
      Kelompok teman sebaya tipikalnya bertemu satu minggu sekali. Apabila sseorang dalam kelompok tertentu bermasalah dengan guru tertentu dalam minggu tersebut dikarenakan oleh perilaku tertentu, maka teman-teman di dalam kelompoknya memberikan saran untuk menghindari masalah tersebut di masa mendatang (“Jika kau selalu dibentak-bentak ketika duduk disamping Mike, mungkin kau tidak boleh duduk di sebelahnya”). Apabila seorang anggota kelompok sedang bermasalah dengan mata pelajaran akademik tertenttu, maka teman-teman satu kelompoknya dapat memberikan saran yang mungkin bermanfaat bagi siswa yang bersangkutan (Beginilah caranya aku belajar untuk mengahadapi ujian mengeja”).
      Menurut Watson, “Anak-anak muncul dengan hal-hal yang tidak pernah saya pikirkan.”
16.  Bersiaplah Untuk Menerima Seorang “Guru Tamu”
Bahkan kelas-kelas yang berperilaku sangat baik dihadapan guru regulernya seringkali bertindak tidak baik guna meminta guru pengganti. Par guru merasa malu ketika mereka kembali dan memperoleh laporan tentang betapa burunya perilaku anak-anak mereka.
      Untuk menghindari scenario tersebut, Hal Urban, ketika beliau tahu bahwa beliau akan berlaku sebagai seorang “guru tamu” (istilah yang lebih terhormat dibandingkan dengan “ guru pengganti”), meminta para siswa unruk berpikir, dan kadang-kadang menulis tentang, dua pertanyaan berikut ini:
1.      Jika Anda adalah seorang guru pengganti, bagaimana Anda ingin diperlakukan?
2.      Apabila guru ini adalah ibu Anda atau saudara perempuan Anda, bagaimana Anda ingin para siswa memperlakukan mereka?
Berefleksi pada dua pertanyaan membua suatu perbedaan dalam perilaku siswa. Urban berkomentar, “Saya mendapati para pengganti saya meninggalkan catatan-catatan seperti, ‘Kelas ini adalah kelas paling sopan yang pernah aku temui. Saya selalu membacakan catatan tersebut di depan kelas. Para siswa suka mendengarkannya karena usaha mereka dihargai.”
17. Berikanlah Tanggung Jawab Kepada Anak Yang Sulit Diatur


Text Box: Anda harus memandang orang dengan kedua mata Anda. Yang satu melihat orang tersebut sekarang. Yang lain melihat orang tersebut dapat menjadi apa. Anda harus membuka kedua mata Anda sepanjang waktu.
-Miles Horton
 




            Pada hari selasa pagi bulan Oktober tahun 1999, di Sekola Dasar Buell di Michigan, seorang anak laki-laki kelas satu dating ke sekolah diam-diam membawa senapan dan sebuah pisau. Pada pukul 10:00, ketika para siswa bertukar kelas, anak ini menembak dan membunuh Kayla Rolland yang berusia enam tahun.
            Anak laki-laki dan saudara laki-lakinya ini tinggal di sebuah pondik di mana senapan diperjualbelikan demi obat bius. Anak ini selalu ditahan sepulang sekolah hamper setiap hari karena mencubit, memukul, berkelahi, dan mengatakan sumpah serapah. Sekali waktu, pernah ada guru bertanya, “Mengapa kau berkelahi dengan anak lain?” Anak ini menjawab, “Karena Aku membenci mereka.”
            Disinilah anak tersebut sedang meminta pertolongan. Mendisiplinkan dengan menahannya sepulang sekolah sudah jelas tidak menghasilkan apa-apa untuk mengurangi amarah yang dikeluarkannya.
            Apa yang mungkin akan membantu mengubah alur kehidupan anak ini? Kami dapat menemukan petunjuk dalam kisah Billy, yang dideskripsikan oleh Richard Curwin dalam buku beliau yang berjudul Rediscovering Hope Our Greatest Teaching Strategy.
            Billy merupakan seorang anak kelas empat dalam komunitas rural atau pinggiran. Bocah ini selalu tidak menyukai gurunya, gampang berkelahi dan sedikit sekali melakukan pekerjaan sekolah. Ayahnya berada dalam penjara. Ibunya seorang alkoholik. Billy sendiri sudah mulai menggunakan alcohol ketika mengalami stress.
            Di alam workshop, saya bertanya demikian kepada para guru, “Apa yang dapat Anda lakukan untuk membuat Billy berhenti berkelahi dan pada saat yang sama membentuk karakternya, ketika Anda tampaknya tidak mungkin mengubah karakter dunia asalnya?”
            Beberapa orang guru menganjurkan bahwa Billy memerlukan seorang mentor: orang dewasa atau seorang siswa lebih tua yang mampu bekerja dengannya dan memberikannya kasih sayang dan perhatian yang tampaknya kurang di dalam rumahnya. Namun demikian, apa yang dilakukan sekolah Billy jauh lebih efektif: sekolah ini menempatkan Billy dalam posisi mentr. Gurunya, kepala sekolahnya, dan konselornya berkumpul bersama dan menyajikan rencana berikut ini padanya:
1.      Billy dapat menjadi teman khusus dan pelindung anak kelas satu yang duduk di atas kursi roda.
2.      Billy dapat membantu anak yang bersangkutan naik dan turun bus sekolah, duduk dengannya saat makan siang, menjadi pelindungnya di tempat bermain, dan mengunjungi setiap hari di ruang kelasnya.
3.      Apabila Billy terlibat dalam perkelahian apapun di sekolah, maka dia kehilangan hak khususnya atas kontak lebih jauh dengan anak laki-laki yang bersangkutan selama satu hari itu.
18.  Merancang Program “sanksi  yang Tegas” bagi para Siswa yang Sulit Diatur
            Para guru sekolah menengah atas seringkali bertanya demikian, “Bukankah karakter anak-anak lebih dibentuk pada saat mereka sampai dihadapan kita?”
            Untungnya sifat dasar manusia memiliki kekenyalan yang luar biasa, suatu kemampuan untuk berkembang, apabila kita dapat menemukan intervensi yang tepat. Hal ini masih benar bagi para remaja.
Ketika survei menanyakan para remaja tentang disiplin, mereka seringkali mengatakan mereka ingin para orang tua dan guru mereka mendisiplinkan mereka lebih banyak dan meminta lebih banyak dari mereka. Anak-anak menginginkan struktur yang tegas, jujur, dan disiplin yang masuk akal. Mereka berusaha menaatinya.
            Hal ini tidak berarti bahwa disiplin itu mudah. Sebagaimana yang dibuktikan oleh guru veteran manapun, para siswa sekarang ini datang kesekolah dengan lebih banyak masalah, lebih banyak tekanan, lebih banyak amarah, lebih sedikit kontrol diri, lebih sedikit kesadaran akan benar dan salah daripada yang mereka bawa di masa lalu. Bahkan para guru yang paling banyak akal dan berdedikasi seringkali dikalahkan oleh jumlah dan tingkat keparahan permasalahan perilaku yang harus mereka tangani.
            Namun demikian, kita masih harus tekun mencari cara, bahkan dengan anak-anak yang paling menantang sekalipun, untuk mendisiplinkan mereka dengan cara yang membentuk karakter. Dan kita juga harus berinvestasipaling tidak sama banyaknya dengan energi yang dihabiskan di dalam mengoreksi perilaku yang salah. Mendisiplinkan berarti mengajar. Apabila dipahami dengan tepat, disiplin bukanlah merupakan kendali atas gerombolan anak-anak melainkan pendidikan karakter, dengan disiplin diri sebagi tujuan utamanya. Tidak ada aspek dari pendidikan karakter yang lebih mendasar untuk menciptakan sekolah berkarakter.






BAB III
PENUTUP
           
3.1              Kesimpulan
Disiplin adalah sesuatu yang harus dikembangkan dari dalam diri, seperti tulang belakang, tidak berpatokan dari luar diri, seperti sepasang belenggu. Disiplin terbagi menjadi dua kategori : pencegahan dan koreksi. Strategi pencegahan yang baik akan sangat mereduksi frekuensi permasalan perilaku.
Cara mempratikkan disiplin berbasis karakter ada 18, antara lain: berbagi agenda, pertahankan sikap bertanggung jawab siswa, mengajar prinsip-prinsip tanggung jawab, melibatkan siswa didalam menentukan aturan, mengajarkan aturan emas, berbagi rencana dengan orang tua, mempraktikan prosedur, gunakan bahasa yang baik, membangun para siswa membuat rencana perubahan perilaku, gunakan waktu jeda yang efektif, rancanglah detensi yang membentuk karakter, ajarkan ganti rugi, membuat anak-anak saling membantu satu sama lain, bersiaplah untuk menerima seorang guru tamu, berikanlah tanggung jawab kepada anak yang sifat diatur, merancang program sanksi yang tegas bagi para siswa yang sulit diatur.

3.2              Saran
Sebagai calon guru kita harus memahami bagaimana cara  membentuk karakter disiplin dalam diri siswa karena untuk menanamkan kedisiplinan pada diri siswa dibutuhkan kerjasama yang baik  antara guru dan siswa.








DAFTAR PUSTAKA

Lickona, Thomas, 2012. Character Matters, Jakarta: Bumi Aksara.




No comments:

Post a Comment