Tuesday, 16 February 2016

materi thomas lickona (menciptakan sekolah berkarakter)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Faktor kelurga sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Namun kematangan emosi social ini selanjutnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah sejak usia dini sampai usia remaja. Bahkan menurut Daniel Goleman, banyaknya orang tua yang gagal dalam mendidik anak-anak, kematangan, emosi sosial anak dapat dikoreksi dengan memberikan latihan pendidikan karakter kepada anak-anak di sekolah terutama sejak usia dini.
Sekolah adalah tempat yang strategis untuk pendidikan karakter karena anak-anak dari semua lapisan akan mengenyam pendidikan di sekolah. Selain itu anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, sehingga apa yang didapatkannya di sekolah akan mempengaruhi pembentukan karakternya.
Indonesia belum mempunyai pendidikan karakter yang efektif untuk menjadikan bangsa Indonesia yang berkarakter (tercermin dari tingkah lakunya). Padahal ada beberapa mata pelajaran yangberisikan tentang pesan-pesan moral, misalnya pelajaran agama, kewarganegaraan, dan pancasila. Namun proses pembelajaran yang dilakukan adalah dengan pendekatan penghafalan (kognitif). Para siswa diharapkan dapat menguasai materi yang keberhasilannya diukur hanya dengan kemampuan anak menjawab soal ujian (terutama dengan pilihan berganda). Karena orientasinya hanyalah semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus, maka bagaimana mata pelajaran dapat berdampak kepada perubahan perilaku, tidak pernah diperhatikan. Sehingga apa yang terjadi adalah kesenjangan antara pengetahuan moral (cognition) dan perilaku (action). Semua orang pasti mengetahui bahwa berbohong dan korupsi itu salah dan melanggar ketentuan agama, tetapi banyak sekali orang yang tetap melakukannya. Tujuan akhir dari pendidikan karakter adalah bagaimana manusia dapat berperilaku sesuai dengan kaidah-kaidah moral.
Pendidikan karakter pada anak usia sekolah dasar, dewasa ini sangat diperlukan dikarenakan saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis karakter dalam diri anak bangsa. Karakter di sini adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, bepikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan tersebut berupa Sejumlah nilai moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, hormat pada orang lain, disiplin, mandiri, kerja keras, kreatif. Berbagai permasalahan yang melanda bangsa belakangan ini ditengarai karena jauhnya kita dari karakter, oleh karena itu pentingnya menciptakan sekolah yang berkarakter.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana cara membuat sekolah menjadi sekolah yang berkarakter?
2.      Bagaimana cara melibatkan para siswa dalam menciptakan sekolah berkarakter?

C.    Tujuan Makalah
Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan:
1.      Bagaimana cara membuat sekolah menjadi sekolah yang berkarakter?
2.      Bagaimana cara melibatkan para siswa dalam menciptakan sekolah berkarakter?















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Cara Membuat Sekolah Menjadi Sekolah Yang Berkarakter
Strategi untuk menjadi sekolah yang berkarakter harus ada keterlibtatan staf, keterlibtan siswa, dan keterlibatan orang tua. Semua itu merupakan tiga kelompok yang partisipasinya bersifat krusial bagi keberhasilan inisiatif pendidikan karakter sebuah sekolah. Pada makalah ini akan menjelaskan mengenai strategi untuk melibatkan siswa dalam menciptakan sekolah yang berkarakter. Namun sebelum itu kita akan membehas mengenai tempat dimana penndidikan karakter perlu diawali, dengan staf sekolah.
1.      Menciptakan Tonggak
Dalam panduan implementasinya, Educating for Character in the Denver Public School, Charles Elbot, dan beberapa evens menulis demikian, “banaya sekolah yang telah menciptakan pendidikan karakter yang mendalam dan dipertahankan telah melaksanakan program tersebut dengan bantuan tonggak di seluruh sekolah”. Tonggak ini merupakan pernyataan atau cara yang mengekspresikan nilai dan aspirasi bersama dari seluruh anggota komunis sekolah tersebut. Pentingnya memiliki tonggak, menurut penulis, telah dimunculkan dalam sejumlah penelitian dari duania bisnis dan nirlaba.
Menciptakan tonggak sekolah dapat diawali dengan meneliti pernyataan misi sekolah tersebut (biasanya lebih lama, lebih kompleks, dan sult untuk diingatdari pada tunggak apa pun). Nilai etika dan intelektual apakah yang diekspresikan oleh misi tersebut? Nilai apakah yang hilang atau harus dibuat lebih eksplisit dalam sebuah tonggak? Suatu komite sekolah kemudian dapat menuliskan empat atau lima pernyataan “kami”,seperti yang ada dalam cara Slaven untuk dikemukakan sebagai pernyataan atau tonggak sekolah dan mendengarkan rancangan ini sepada seluruh staf, siswa dan orang untuk mendapatkan masukan dari mereka.
2.      Memiliki Motto Berbasis Karakter
Apakah pernyaaan sekolah, hidup dalam hati dan pikiran para staf dan siswa? Salah satu cara untuk membantu hal tersebut menjadi kenyataan adalah memilih motto sekolah, salah satu pernyataan keyakinan dalam tonngak yang dimiliki terhadap tonggak tersebut dan membuat motto tersebut menjadi bagian penting dalam kebudayaan sekolah. Berikut adalah contoh motto sekolah:
Bersama, kita adalah yang terbaik semampu kita.
(Sheridan Hills Elementary School)
Apapun yang menyakiti saudaraku menyakitiku juga.
(Saint Benedict’sprepatory School, untuk siswa laki-laki)
Tujuan, kabanggaan dan performa.
(Montain Pointe High School)
3.      Mencari Dukungan Kepala Sekolah untuk Membuat Karakter Menjadi Prioritas
Prioritas sekolah biasanya menjadi prioritas staf. Ketika kepala sekolah atau perwakilan kepala sekolah yang ditentukan menghadiri paling tidak bagian dari institusi sebagai anggota tim sekolah, terdapat kesempatan yang lebih baik bahwa pendidikan karakter akan diimplementasikan dalam sekolah tersebut.
Hal ini tidak berarti bahwa kepala sekolah harus menjadi pemimpin pelaksana implementasi tersebut. Dapat bekerja sama dengan sekolah dimana kepala sekolahnya, hampir mendekati masa pensiun, menunjuk diektur pusat medianya untuk memimpin komite pendidikan karakter. Ibu direktur itu akan memperoleh perhatian khusus. Beliau menulis dan menyimpan sedikit dana untuk memberikan serangkain workshop untuk melatih seluruh staf. Beliau memberikan orientasi terhadap program ini kepada para staf fakultas yang ikut bergabung dan melakukan pertemuan kelas demonstrasi dengan para siswanya guna membantu mereka mempelajari bagaimana caranya melaksanakan diskusi semacam itu. Bliau mengembangkan suatu pusat sumber pendidikan karakter bagi para guru dan pusat sumber bagi para orang tua.
4.      Membentuk Kelompok Kepemimpinan
Mengembangakan sekolah berkarakter memerlukan sebuah tim kepemimpinan untuk merencanakan dan mendukung implementasinya.
1.      Memanfaatkan insfratruktur sekolah yang sudah ada
2.      Menciptakan beberapa komite, kecil masing-masing dengan tugas yang berbeda.
3.      Memperluas undangan untuk semua orang, termasuk orang-orang yang berpotensi mengatakan “tidak” terhadap pendidikan karakter.
4.      Memastikan semua kelompok diwakili
5.      Mengembangkan Basis Pengetahuan
Tim kepemimpinan perlu berwawasan tentang pendidkan karakter. Membaca buku-buku mengenai pendidkan karakter agar memilki gambaran mengenai bidang pendidikan karakter. Selain itu juga dapat melakukan kunjungan kesekolah lain yang telah melaksanakan pendidikan karakter sementara ini (idealnya selama lebih dari 2 tahun) untuk melihat pertama kali program  apakah yang tampaknya berhasil. Jika memungkinkan. Kelompok kepemimpinan juga harus memperoleh beberapa pelatihan pelatihan pendidikan formal melalui konferensi, workshop, ceramah atau kesempatan pengembangan professional lainnya.
6.      Memperkenelkan Konsep Pendidikan Karakter Kepada Seluruh Staf
Mengundang seluruh personel sekolah untuk menghadiri pertemuan pengantarmengenai pendidikan karakter. Sesi pengantar ini harus mengemukakan 4 hal pernyataan yang mendasar: (1) apakah sasaran dari pendidikan karakter? (2) apakah yang akan diperlikan dalam diri saya, dalam pekerjaan saya? (3) apakah yang akan terjadi apabila kita melaksanakan di seluruh sekolah? (4) apakah keuntungan yang akan diperoleh jika kita melaksanakan program ini?.
7.      Mempertimbangkan “ Tipe Kepribadian Macam Apakah yang Kita Inginkan dari para Siswa?”
Sasaran pendidikan karakter ada tiga: kepribadian berkarakter, baik, sekolah berkarakter, dan masyarakat berkarakter. Maka muncul pertanyaan “apakah yang dimaksud dengan karakter yang baik?”. Para staf hendaknya menyadari kualitas yang dimiliki dirinya dan kualitas yang akan dihasilkannya. Karakter yang baik memiliki 10 kebijakan esensial yang dideskripsikan sebelumnya beserta dengan kebijakan yang akan mendukungnya.
1.      Kebijaksanaan
2.      Keadilan
3.      Ketabahan
4.      Mengendalikan diri
5.      Saling mengasihi
6.      Sikap positif
7.      Kerja keras
8.      Integritas
9.      Terima kasih
10.  Kerendahan hati
Pendidkan karakter merupakan usaha sengaja untuk mengembangkan kebijakan yang memampukan kita untuk mengarah pada kehidupan yang saling memenuhi dan membangun dunia yang lebih baik.
8.      Mempertimbangkan “Apakah Arti Pendidikan Karakter untuk Saya”
Lankah-langkah yang dapat dilakukan untuk melaksanakan aktivitas tersebut adalah:
1.      Mintaah para staf membentuk pasangan
2.      Bertanyalah kepada mereka secara pribadi, meluangkan waktu selama 7 menit untuk membaca dengan diam daftar “100 cara” dengan intruksi sebagai berikut: “lingkarilah hal-hal yang sudah anda lakukan. Beri tanda bintang pada hal-hal yang belum anda lakukan namun anda ingin mencobanya”
3.      Setelah satu menit selesai, berikan waktu selama 5 menit setip pasangan tersebut untuk membagikan satu hal yang mereka lingkari dan satu hal yang merka beri tanda bintang.
4.      Bertanyalah kepada seluruh kelompok mengenai kesimpulah yang dapat diambil dari latihan ini.
9.      Mempertimbangkan “Apakah Pendidikan Karakter Tersebut Akan Dapat Dilaksanakan Di Seluruh Sekolah?”
Apabila staf sekolah berkomitmen untuk membuat sekolah mereka menjadi sekolah yang berkarakter maka akan memilih strategi yang bisa diambil sebagai awal mula rencana pendidikan karakter. Apabila sebuah program pendidikan karakter sudah ada pada tempatnya, maka strategi itu dapat digunakan untuk mempertajam usaha yang ada.
Cara tercepat untuk menyampaikan makna pendidikan karakter bagi sekolah adalah melihat pada studi kasus serta membaca dan membahas kisah kesuksesan pendidikan karakter dari seluruh negara. Berikut adalah bagaimana cara menganjurkan pemakaian pendekatan studi kasus :
1.      Kumpulkan staf dalam suatu kelompok yang terdiri dari tiga orang (kelas yang berbeda, mata pelajaran yang bebrbeda, atau peran kerja yang berbeda). Berikanlah kepada masing-masing staf satu paket kisah kesuksesan pendidikan karakter yang memuat paling tidak satu kisah ditingkat sekolah dasar,satu tingkat disekolah menengah, satu tingkat disekolah tinggi. Campuran kisah ini penting untuk menunjukan bahwa pendidikan karakter telah dilakukan secara efektif diseluruh tingkat perkembangan dan membantu  orang banyak melihat bagaimana usaha mereka berkontribusi membangun pekerjaan ditingkat lainnya. Tiga sumber kesuksesan ini adalah publikasi tahunan Nasional scholl of character dari  character Education Partnership , buku karangan Philip Vincent yang berjudul Promisisng Practices in character Education, volume 1 and 2.
2.      Instruksikan para peserta , “silahkan membaca dalam hati kisah sukses pertama selama 6 menit. Berikanlah tanda bintang pada dua atau tiga yang dilakukan oleh sekolah ini yang menurut andaa dapat memberikan keuntungan. Setelah mendapatkan aba-aba dari saya, silahkan membagi hal apa yang anda beri tanda bintang, beserta dengan alasannya kepada setiap kelompok dan yang lainnya.
3.      Setelah memberikan kelompok tersebut waktu lima menit untuk membahas apa yang mereka pilih sebagai strategi menjanjikan,mintalah seseorang dari masing-masing kelompok untuk melaporkan secara singkat strategi mana yang dipilih kelompok mereka dan mengapa. Buatlah daftar atau strategi yang telah dipilih dan sebutkan berapa kali masing-masing strategi dipilih ketika anggota ini membagikan laporannya.
4.      Ulangi proses ini dengan kisah kesuksesan yang kedua dan ulangi lagi dengan kesuksesan yang ketiga,setiap kali anda meminta kelompok tersebut membahas, “ strategi tambahan apakah yang anda lihat sedang digunakan dalam kisah ini, strategi yang mungkin anda pertimbangkan untuk pemakaian atau adaptasi yang mungkin dilakukan dalam sekolah anda.
5.      Setelah mempertimbangkan beberapa studi kasus semacam itu, bertanyalah, “berdasarkan pada kisah yang sudah anda baca, apakah yang anda lihat sebagai keuntungan dari suatu program pendidikan karakter yang baik? Tuliskan semuanya. Yang biasanya disebutkan termasuk pembelajaran siswa yang meningkat, permasalahan disiplin, moral staf yang lebih tinggi,pengambilan kepemimpinan oleh para siswa, dan keterlibatan orang tua atau komunitas yang lebih besar.
6.       Akhirilah diskusi dengan daftar komposit strategi yang dihasilkan oleh kelompokmlaporan kecil dan bertanyalah,”strategi manakah yang paling sering disebutkan?”
Kisah Kennedy Middle School
            Berikut ini adalah bagaimana cara Kennedy Middle School menjadi sekolah berkarakter :
1.      Kennedy Middle School menghubungkan pendidikan karakter dengan peningkatan sekolah.
Pada musim gugur tahun 1995, para guru yang tidak bahagia dengan prilaku para siswa yang kurang ajar disekolah ini nertemu dengan Site Council sekolah tersebut, yang mengikut sertakan para orang tua, anggota komunitas/masyarakat, staf pendukung, dan siswa.
2.      Kennedy Middle School melatih para Stafnya. Mehas dan seorang konselor dari sekolah ini menghadiri institusi “latihlah para pemateri latihan” guna mempelajari bagaimana cara memberikan pelatihan pada para staf lainnya untuk mengajarkan kurikulum Second Step.
3.      Kennedy Middle School melibatkan para staf di dalam mengajarkan kurikulum Second Step.  Kennedy Middle School mengundang setiap anggota staf ,termasuk sekretaris,penjaga sekolah, pekerja kafetaria, dan pembantu ditaman bermain, untuk mengambil bagian dalam  mengajarkan pelajaran Second Step.  Seorang sekretaris akan dipasangkan dengan guru matematika kelas delapan, seorang penjaga sekolah dengan ilmu pengetahuan alam kelas delapan, dan seterusnya. 
4.      Kennedy Middle School menggunakan kurikulum tersebut secara lebih efektif pada tahun kedua . mehas masih mengingat kejadian ini “ setelah tahun pertama penerapan Second Step, beberapa orang siswa masih tidak datang kesekolah dengan ekspektasi umum mengenai prilaku di kelas. Kami ingin mengatakan kepada mereka sejak dari awal tahun ajaran demikian, “beginilah caranya kita memperlakukan satu sama lain di Kennedy Middle School”.  Jadi dari pada mengajarkan Second Step selama satu kali seminggu selama satu tahun ajaran, Kennedy Middle School memutuskan untuk memusatkan :  satu pelajaran per hari selama tiga minggu pertama disekolah. Ujar Mehas ,” sekarang kami mampu menghabiskan lebih banyak  waktu untuk mengajarkan kurikulumakademika karena kami memiliki lebih sedikit permasalahan perilaku.
5.      Kennedy Middle School memberikan banyak kesempatan untuk peran kepemimpinan bagi para siswa.
Hal ini termasuk :
Respect Committee. Kelompok ini, bertemu setiap hari mengemban misi memastikan bahwa semua siswa merasa nyaman dan dihormati disekolah.
Leadership Club. Klub ini bertemu setiap minggu untuk membahas cara-cara untuk meningkatkan mutu sekolah. Suatu ketika para anggota klub bekerja sama dengan seorang arsitek lanskap untuk menciptakan suatu desain dan kemudian menanam pepohonan guna meningkatkan mutu tanah sekolah.
Tenns and Tots.  Sebuah kelas pembelajaran pelayanan, program ini melibatkan para siswa Kennedy Middle School untuk bekerja di Relief Nursery, sebuah fasilitas perawatan dan pendukung anak bagi anak-anak yang dilecehkan dan keluarga mereka.
Jump Star Tutors. Para siswa Kennedy Middle School bekerja dengan teman sebaya mereka yang meimilih resiko, mengajarkan mereka keahlian belajar dan membantu mereka mengerjakan tugas-tugas dalam area mata pelajaran yang berbeda.
Student Conveners. Para perwakilan yang dipilih dari masing-masing kelass yang bertugas sebagai pemerintahan siswa Kennedy Middle School.

6.      Para siswa mengembangkan sistem untuk menghargai perilaku positif.
Student Conveners dalam Kennedy Middle School menciptakan sistem yang berlaku diseluruh sekolah, PRIDE (personal responsibility in daily effortd = tanggung jawab pribadi dalam usaha sehari-hari) untuk menghargai para siswa karena “melakukan hal yang benar” dengan basis harian. Setiap enam minggu sekali, para siswa Kennedy Middle School yang merayakan tuga mereka tepat waktu,tidak pernah absen satu kalipun, tidak pernah terlambat sekalipun, dan tidak memiliki rujukan perilaku menjadi anggota PRIDE , para siswa yang berkulifikasi berpartisipasi dalam aktivitas khusus seperti ice skating,snow skiing, menonton film,dan berenang. Setiap enam minggu sekali, para siswa memiliki titik awal segar atau fresh start sehingga mereka memiliki banyak kesempatan untuk melakukan PRIDe.

7.      Kennedy Middle School mengambil langkah untuk meningkatkan hubungan guru-siswa yang lebih dekat. Dikelas tujuh dan delapn, Kennedy Middle School mengimplementasikan praktek “looping” , dimana para siswa berada dengan guru-guru yang sama selama lebih dari satu tahun. Looping membuat fakultas mengembangkan hubungan yang lebih dekat dengan para guru maupun dengan para siswa.

8.      Kennedy Middle School meningkatkan keterlibatan orang tua.
Kennedy Middle School telah memiliki sangat banyak relawan dari orang tua sehingga satu orang tua sekarang hampir bekrja penuhb waktu sebagai koordinator relawan. Para relawan orang tua ini mengelolah kantor dan menjalankan fungsi staf yang esensial ketika staf reguler sedang mengerjakan pelajaran Scond Step selama tiga minggu pertama tahun ajaran baru. Para relawan orang tua juga mengelola perpustakaan sekolah dan memberikan bantuan kepada banyak klub.

9.      Kennedy Middle School mengevaluasi dampak yang ada. Kennedy Middle School memerhatikan indikator akademik dan perilaku guna menilai usaha pendidikan karakter yang dilakukan. Pada yahun 1997, hanya 59 persen dari para siswa Kennedy Middle School yang memenuhi standar akademik negara bagian Oregon, dan rujukan disiplin memiliki jumlah rata-rata 100 kasus per tahun. Pada tahun 1998, 74 persen para siswa Kennedy Middle School memenuhi standar akademik negara bagian ini, dan rujukan disiplin menurun hungga tiga puluh lima kasus per bulan.

10.  Menganalisis Kebudayaan Moral dan Intelektual Sekolah
Langkah berikutnya adalah melihat dengan lebih dekat kekuatan dan area bagi peningkatan dalam kebudayaan moral dan intelektual sekolah. Langkah ini merupakan langkah yang sangat dibutuhkan dalam menciptakan sekolah yang berkarakter. Apabila langkah ini tidak diambil maka suatu sekolah dapat mengabaikan “gajah yang ada di meja” yaitu permasalahan yang ada tepat dibawah hidung kita, yang tidak dikemukakan akan mengikis usaha pendidikan karakter.
Suatu cara sistematis untuk merefleksikan pengalaman ini adalah menggunakan analisis empat bagian berikut ini terhadap kebudayaan maral dan intelektual sekolah. Analisis ini dapat dilengkapi secara individual oleh staf sebelum pertemuan staf diadakan, dengan hasil yang dikumpulkan dan dipresentasikan oleh kelompok kepemiminan pendidikan karakter, atau dapat dilengkapi dan dibahas dalam kelompok yang terdiri dari tiga atau empat orang dalam pertemuan staf.
Analisis kebudayaan moral dan intelektual sekolah
1.      Pengalaman positif
Pengalaman positif misalnya mengharuskan para siswa memberikan pekerjaan yang terbaik dan mendukung mereka dalam memenuhi standar tersebut, mencoba membuat siswa merasa dihargai, dan pendidikan karakter lainnya, apakah sudah ditanamkan kepada peserta didik kita?
2.      Penghilangan
Pengalaman pembentukan karakter penting apakah yang kita tidak berikan secara memadai sebagai satu sekolah?
3.      Titik masalah
Apakah prilaku siswa atau orang dewasa yang tidak diinginkan (misalnya kenakalan antar teman sebaya, ketidakjujuran akademis, bahasa yang buruk, tidak hormat terhadap property sekolah dan lain-lain)
4.      Inkonsistensi/ pesan yang tercampur
Praktik institusional apakah yang bertentangan dengan kualitas karakter yang kita cari untuk dekembangkan sebagai satu sekolah.
11.  Memilih Dua Prioritas untuk Meningkatkan Kebudayaan Sekolah
Dari banyaknya permaslahan sekolah yang ada, maka pilihlah dua masalah yang menurut kata harus difokuskan atau diprioritaskan, dalam tahun ajaran mendatang. Sebagai contohnya, yaitu:
a.       Meningkatkan tanggung jawab siswa terhadap pekerjaan akademik mereka
b.      Meningkatkan rasa hormat kepada para guru dan staf sekolah yang lain
c.       Meningkatkan rasa hormat yang ditunjukkan orang dewasa kepada para siswa
d.      Meningkatkan kebaikan di antara teman sebaya dan meningglkan bullying serta kenakalan anak sebaya lainnya.
e.       Meningkatkan kejujuran kademik
f.       Memperbaiki bahasa ketika berada di sekolah.
12.  Bertanyalah, “Haruskah Kita Berkomitmen untuk Menjadi Sekolah Yang Berkarakter”
Para staf harusnya berpikir bahwa, pendidikank karakter pada dasarnya adalah tentang membantu anak-anak menjadi para siswa dan masyarakat yang baik dengan menjadi sekolah terbaik mungkin dalam hal apapun.
Tidak peduli berapa lama waktu yang dihabiskan, komitmen para staf merupakan hal yang esensial. Ketika orang-orang merasa kalau perubahan sedang dipaksakan kepada mereka, kalau mereka memilki suara dalam perubahan tersebut, maka mereka lebih mungkin mendukungnya.
13.  Merencanakan Program Pendidkan Karakter Berkualitas
Tantangan dalam tahap ini adalah mendesain suatu program yang memiliki segian besar komponen yang membentuk pendidikan karakter yang berkualitas. Berikut ini merupakan komponen pendidikan karakter yang berulang kali muncul dalam kisah kesuksesan pendidikan karakter.
(1)       Kepemimpinan/ dukungan administrative
(2)         Keterlibatan staf yang kuat
(3)         Keterlibatan siswa yang kuat
(4)         Keterlibatan orang tua yang kuat
(5)         Tonggak sekolah dan motto yang menekankan karakter
(6)         Pemakaian bahasa karakter dalam interaksi setiap hari dan kode prilaku
(7)         Perangkat kebaikan sasaran yang disetujui
(8)         Perencanaan di seluruh sekolah untuk secara sengaja mendorong dan mengajar sasaran kebaikan sekolah
(9)         Contoh prilaku yang dihasilkan oleh staf tentang hal bagaimana “tampak” dan “bunyi” kabaikan ini pada berbagai usia dan bagian lingkungan sekolah yang berbeda.
(10)     Penekanan pada tanggung jawab seluruh sekolah dan siswa untuk memodelkan kebaikan.
(11)     Integrasi kebaikan ini secara berkesinambungan ke dalam intruksi di seluruh kurikulum
(12)     Pemakaian pendidikan kurikulum pendidikan karakter yang dipublikasukan, dimanapun pemakaian tepat dilakukan.
(13)     Suatu pendekatan terhadap disiplin yang mengajarkan kebaikan dan meenghargai karakteryang baik dengan cara menjaga focus pada alasan karakter karena melakukan apa yang benar.
(14)     Usaha diseluruh sekolah untuk mengembangkan komunitas yang peduli guna mencegah kenakalan di antara teman sebaya.
(15)     Lingkungan yang kaya karakter visual
(16)     Memperkerjakan staf yang memiliki karakter baik dan berkomitmen untuk memodelkan dan mengajarkan karakter.
(17)     Pengembangan staf dan keahlian dan strategi pendidikan karakterdan akuntabilitas untuk menggunakannya.
(18)     Waktu yang dijadwalkan untuk perencanaan, pembagian, dan refleksipara staf atas program karakter yang bersangkutanserta kebudayaan moral dan intelektual sekolah.
(19)     Adanya dukungan finansial dengan rendah hati.
(20)     Perencanaan untuk penilaian dampak program yang berkesinambungan.
14.  Memilih Strategi Organisasi untuk Mendorong Kebaikan
Staf sekolah juaga harus membahas dan memutuskan bagaimana caranya untuk mengorganisir program pendidikan karakternya. Berikut ini merupakan terdapat sepuluh strategi organisasi, yang di antaranya dapat dikombinasikan:
(1)         Satu kebaikan satu bulan
(2)         Satu kebaikan satu minggu
(3)         Tiga atau empat tahun siklus kebaikan
(4)         Tema tahunan
(5)         Penugasan kebaikan yang tepat menurut perkembangannya kepada masing-masing tingkat kelas.
(6)         Perangkat ekspektasi perangkat karakter yang lazim
(7)         Kerangka kerja kurikulum pendidikan karakter
(8)         Kurikulum pendidikan karakter yang dipublikasikan
(9)         Suatu “model proses” pendidikan karakter
(10)     Pendekatan kebudayaan sekolah
15.  Membuat Penilaian sebagai Bagian dari Perencanaan
Ada tiga alasan penting untuk mengadakan penilain terhadap pendidikan karakter, yaitu: (1) apa yang diukur, misalnya motivasi dan akuntabilitas staf untuk mengimplementasikan usaha pendidikan k9arakter akan menjadi jauh lebih besar apabila terdapat perencanaan untuk menilai hasil; (2) penilain akan memberikan informasi kepada kita samapai tingkat manakah program pendidkan karakter kita sebenarnya membuat perbedaan; (3) data penilai  dapat digukan untuk memandu pengambilan keputusan tentang bagaimana caranya meningkatkan keefektifan program tersebur.
Dalam penilaian harus mencoba menjawab keempat pertanyaan berikut ini:
(1)            Sampai tingkat manakah para staf mengimplementasikan program pendidikan karakter sebagaimana yang diinginkan?
(2)            Sampai tingkat manakah para siswa memahami kebaikan sasaran yang diajarkan di kelas mereka?
(3)            Sampai tingkat manakah para siswa berkembang dalam hal mempraktikkan kebaikan tersebut?
(4)            Sampai tingkat manakah prilaku para siswa mengalami peningkatan atau perbaikan dalam bagian tertentu di lingkungan sekolah atau di dalam kehidupan sekolah.
16.  Membangun Komunitas Oaring Dewasa yang Kuat
Memperkuat rasa atau pemahaman komunitas seorang staf dapat sama sederhananya memastikan orang-orang merasa diapresiasi atau dihargai. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat amplop yang besar dari kertas manila, yang diberi tanda “nota apresiasi” di atas pintu setiap anggota staf/para guru, konselor, penjaga sekolah, dan administrator. Kemudian setiap saat semangat ini menggerakkan kita, tolong tuliskan sebuah nota yang mengekspresikan apresiasi bagi suatu yang dilakukan telah dilakukan oleh seorang staf dan letakkan nota tersebut pada pintu orang yang bersangkutan, tanpa menuliskan nama kita.
Secara perlahan-lahan amplop itu akan terisi penuh. Para orang tua akan menuliskan nota untuk mengucapkan terimakasih kepada para guru atas cara-cara yang telah dilakukan para guru untuk membantu anak-anak mereka.
17.  Meluangkan Waktu bagi Karakter
Kurangnya waktu merupakan musuh nomor satu bagi reformasi pendidikan berkelanjutan. Suatu sekolah perlu menemukan waktu untuk mengejar sasaran pendidikan karakter dalam kesempurnaan moral dan intelektual. Menurut Pat Floyd-Echols, Kepala Sekolah K-5 Dr. Martin Luther King, Jr. Magnet school ditengah kota syracuse, New York, sekarang kami mencurahkan seluruh pertemuan fakultas kami untuk sharing dan pengembanga staf.  Menggunakan pertemuan antar fakultas kami lebih produktif dan membuat hubungan dengan staf semakin dekat. Dalam dua tahun terakhir hal ini juga mampu untuk meningkatkan nilai matematika siswa dengan menjadi lebih konsisten dalam pendekatan intruksional kami.
Aktivitas pengembangan staf lainnya yang bagus adalah proyek buku yang lazim. Para staf berkomitmen untuk membaca dan membahas sebuah buku yang berhubungan dengan pengembangan karakter sebagai bagian dari pertemuan fakultas. Dukungan untuk jenis pengembangan orang dewasa ini mutlak penting untuk mencapai sekolah berkarakter. Sebagimana yang dijelaskan oleh Rick Weissbourd, penulis The Vulnerable Child, “kita tidak akan pernah meningkatkan secara pesat pengembangan  moral siswa adisekolah tanpa menempuh tugas kelompok untuk mengembangkan kedewasaan dan kapasitas etika oranag dewasa. “kita tidak dapat memberikan apa yang tidak kita miliki.
Sebagian besar perubahan pendidikan berlangsung singkat ; ada disini pada hari ini, besok pagi sudah menghilang. Itulah alasannya mengapa para guru sering kali bersikap sinis, berfikiran demikian, “yang ini  juga akan berlalu.” Urusan menjadi sekolah yang berkarakter tidak boleh menjadi tren yang lewat, karena mengembangkan karakter yang baik berada pada jantung pendidikan sekolah yang efektif dan itulah yang dimaksud dengan menjadi manusia.
Reformasi pendidikan yang tahan lama, reformasi dengan kekuatan untuk mengubah atau mentransformasikan kebudayaan sekolah, reformasi yang masih berada garis depan kesadaran kolektif sekolah. Dari waktu ke waktu, reformasi ini menjdai bagian dari identitas sekolah, bagaimana reformasi tersebut mendefinisikan dirinya sendiri.  Untuk memiliki jenis kekuatan transformasi tersebut, pendidikan karakter yang harus dipikirkan dan dibahas secara teratur oleh sejumlah besar sataf., secara khusus oleh para guru inti yang berkomitmen yang dapat mempertahankan kebudayaan sekolah ketika kepemimpinan administratif berubah. Tantangan untuk hal inti yang penting tersebut adalah menjaga pembicaraan atau pembahasan karakter terus berjalan.

B.     Cara Pelibatkan para Siswa dalam Menciptakan Sekolah yang Berkarakter
Dalam kehidupan moral di sekolah, tidak ada kesempatan yang lebih baik bagi para siswa untuk mengambil kesempatan dalam tanggung jawab otentik selain dari membantu menciptakan sekolah berkarakter.
Par siswa harus dilibatkan sebagai rekkanan yang penting dalam tugas tersebut. Ketika para siswa berada dalam peranan kepemimpinan yang jelas, dan ketika semua siswa memiliki suara dan patokan dalam usaha pendidikan karakter, orang dewasa  akan menjadi jauh lebih efektif dalam mendorong karakter baik dari pada yang dapat mereka lakukan sendiri.
1.      Melibatkan Parasiswa Dalam Merencanakan dan Melaksanakan Program Pendidikan Klarakter
Diseluruh tingkat usia, para sisiwa dapat memainkan peranan yang bermakna dalam merencanakan dan melaksanakan program pendidikan karakter sekolah.
Diawal setiap bulan, komite karakter anak-anak ( kids  character committee) masing-masing kelas memiliki dua kali makan siang waktu bekerja dengan konselor Sigler. Dalam pertemuan tersebut mereka  .
(1)   Membahas bagai mana dan seperti apa cirri karakter bulan ini, serta bagaimana rasanya ketika menunjukan cirri tersebut.
(2)   Mengembangkan, dengan bantuan sigler, persentasi dan postes yang akan mengajarkan teman satu kelas mereka tentang cirri tersebut.
(3)   Merencanakan cara-cara  tambahan untuk melibatkan kelas mereka dalam mempelajari tentang dan mempraktikan sifat ini selama bulan yang  bersangkutan.
2.      Menggunakan Pertemuan Kelas Untuk Memberikan Anak-Anak Suara Dan Tanggung Jawab .
Pertemuan kelas merupakan suatu diskusi interaktif dimana para siswa berbagi tanggung jawab untuk membuat kelas menjadi tempat yang baik untuk berada dan untuk belajar. Dilakukan dalam lingkaran, yang memampukan setiap anak melihat teman-teman mereka, pertemuan kelas dapat digunakan untuk mengembangkan kode disiplin, merencanakan acara khusus seperti field trip, memecahkan permasalahan kelas, atau memberikan konstribusi bagi solusi permasalahan di tingkat sekolah. Dalam beberapa kelas, para siswa dapat meminta pertemuan tentang permasalahan yang ingin mereka kemukakan.
3.      Melibatkann para Siswa dalam Pemerintahan Siswa Partisipatoris Di Tingkat Sekolah 
ketika para   siswa belajar dan mempraktikan keahlian diskusi dan pengambilan keputusan dalam pertemuan kelas, mereka dipersiapkan untuk berpastisipasi dalam proses yang sangat penting di tingkat sekolah : pemerintahan sisawa yang berbagi tanggung jawab untuk membuat sekolah menjadi tempat yang sebaik mungkin.
Ketika sekolah tidak memiliki jenis pemerintahan siswa semacam ini, maka sekolah sudah pasti akan mengalami ketidak jujuran, vandalism, kenakalan anaksebaya, pelecehan seksual, ketegangan antaras, bahasa buruk, sikap spoortif yang buruk, dan permaslahan lainnya yang semacam itu. Karena permasalahan ini terletak dalam kebudayaan anak-anak remaja, maka permasalahan tersebut sulit atau mustahil untuh dipecahkan oleh orang dewasa yang bertindak menurut cara mereka sendiri. Anak-anak diperlukan untuk membantu membentuk norma yang memengaruhi prilaku siswa.
Sekolah memiliki kesempatan yang jauh lebih baik untuk memecahkan permasalahan yang ada dalamlingunganya apabila sekolah merancang pemerintahan siswa partisipaoris. Menurut pendekatan ini, delegasi siswa berpera sebagai perwakilan kelas ( atau homeroom) mereka dan melapor kembali kepada kelas mereka.

Dewan Siswa Fokus Khusus ( Special-Focus Studet Council)
Kafetaria(kantin) dalam kebanyakan seklah merupakan daerah perang. Para pelayan berteriak kepada anak-anak , anak-anak berteriak satu sama lain, lempar-melempar makanan merupakan hal yang lazim, dan tempat ini berantakan ketika para siswa pergi.

Menghubungkan dewan siswa sekolah dasar dengan menengah
Salah satu tujuan dalam pemerintahan siswa partisipatoris adalahmemberikan kesemp[atan sebanyak mungikin kepada para siswa antuk mengambil peran kepemimpinan. Partisipasi  ini merupakan senjata bagi pengembangan karakter mereka.
Penyambungan dewan siswa tingkat dasar dan dewan siswa tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingkat menengah , suatus istem yang dirancang oleh mantan kepalah sekolah Negara bagian New York, merupakan suatu cara untuk memberikan kesempatan menjadi bagian dari proses ini kepada lebih banyak siswa.

4.      Memberikan Kesempatan Informal bagi Masukan Siswa
Struktur informal dapat melengkapi pekerjaan pemerintahan siswa formal dan memberikan suatu kesempatan untuk berperan dalam meningkatkan sekolah mereka pada siswa tambahan. Misalnya, dua orang konselor di saint Loouise Middle School membentuk apa yang mereka sebut “Klub Makan Pagi (“the Breakfast Club’) sebagai satu cara untuk memberikan para siswa kesempata untukmemberikan masukan mengenai sekolah mereka. Kedua orang konselor ini menarik duapuluh ama siswa dari dalam topi dan mengundang mereka untuk bertemu dengan mereka selama dua puluh menit sebelum kelas dimulai pada hari kamis.

5.      Menantang Para Siswa untuk Memimpin Kampanye Di Sekolah
Konselor derba hines ialah penasehat dewan siswa di Carlisle High School di Carsile, Pennsylvania. Dua tahun lalu, beliau mengatakan,pihak administrasi sekolah beiau berada diambang membatalkan acara dansa sekolah karena jumlah siswa yang mimum minuman keras sebelum dan selam acara dansa (dikamar mandi, misalnya ) meningkat. Mminum minuman keras  juga berkontribusi bagi sejumlah besar prilaku yeng tidak tepat diatas dan sekitar lantai dansa.
6.      Membentuk System Mentoring
System mentoring yang didesain dengan baik membantu membentuk norma sekolah yang penting : para siswa yang lebih tua bertanggung jawab untuk menjadi role model yang mendukung bagi para siswa yang lebih muda.
            Beberapa sekolah tinggi telah melakukan penelitian tindakan guna mengevaluasi dampak program mentoring senior- siswa baru dan mendapati bahwa para siswa baru yang menerima bimbingan memperoleh nilai yang lebih baik dan kurang memiliki kemungkinan untuk diberi rujukan dengan alas an permasalahan disiplin.
7.      Membentuk Klub Atau Komite Karakter
Para siswa juga dapat membuat perbedaan dalam karakter sekolah mereka melalui sebuah klub atau komite yang memiliki tanggung jawab di tingkat sekolah.
8.      Menghargai Kepemimpinan Siswa
Jika kita menginginkan para siswa mengambil peran kepemimpinan dalam meningkatkan sekolah mereka, kita harus member mereka penhargaan ketika mereka melakukannya.
            Beberapa distrik, dalam pertemuan penghargaan musim semi tahunannya, memberikan penghargaan secara individual maupun berkelompok kepada para siswa yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan sekolah mereka. Distrik lainnya mengatur liputan media atas hal-hal baik yan sedang dilakukan para siswa.beberapa konfrensi pndidikan karakter ditingkat regional dan tingkat Negara bagian sekrang mengikutsertakan upacara pengharagaan khusus yang memberikan penghargaan kepada para siswa yang telah membuat perbedaan positif dala m lingkungan sekolah mereka.









BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A.    Simpulan
Strategi untuk menjadi sekolah yang berkarakter harus ada keterlibtatan staf, keterlibtan siswa, dan keterlibatan orang tua. Semua itu merupakan tiga kelompok yang partisipasinya bersifat krusial bagi keberhasilan inisiatif pendidikan karakter sebuah sekolah. Pada makalah ini akan menjelaskan mengenai strategi untuk melibatkan siswa dalam menciptakan sekolah yang berkarakter.
Cara untuk membuat sekolah kita menjadi sekolah yang berkarakter yaitu: menciptakan tonggak, memilki motto berbasis karakter, menari dukungan kepala sekolah untuk membuat karakter menjadi prioritas, membentuk kelompok kepemimpinan, mengembangkan basis pengetahuan, memperkenalkan konse pendidikan karakter kepada seluruh staf, mempertimbangkan “tipe kepribadian macam apakah yang kita inginkan dari para staf”, mempertimbangkan “apakah arti pendidikan karakter untuk saya?”, mempertimbangkan “apakah pendidikan karakter tersebut akan dapat dilaksanaka di seluruh sekolah”, memilih dua prioritas untuk meningkatkan kebuadayaan sekolah, bertanyalah “haruskah kita berkomitmen untuk menjadi sekolah berkarakter?”, dan merencanakan program pendidikan berkualitas, memilih strategi organisasi untuk mendorong kebaikan, membuat penilaian sebagai bagian dari perencanaan, membangun komunitas orang dewasa yang kuat, meluangkan waktu bagi karakter.
Dalam kehidupan moral di sekolah, tidak ada kesempatan yang lebih baik bagi para siswa untuk mengambil kesempatan dalam tanggung jawab otentik selain dari membantu menciptakan sekolah berkarakter. Para siswa harus dilibatkan sebagai rekkanan yang penting dalam tugas tersebut. Ketika para siswa berada dalam peranan kepemimpinan yang jelas, dan ketika semua siswa memiliki suara dan patokan dalam usaha pendidikan karakter, orang dewasa  akan menjadi jauh lebih efektif dalam mendorong karakter baik dari pada yang dapat mereka lakukan sendiri.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melibatkan siswa dalam menciptakan sekolah yang berkarakter yaitu: melibatkan para siswa dalam merencanakan dan melaksanakan program pendidikan karakter, menggunakan pertemuan kelaas untuk memberikan anak-anak suara dan tanggung jawab, melibatkan para siswa dalam pemerintahan siswa partisipatoris di tingkat sekolah, memberikan kesempatan informal bagi masukan siswa, menantang para siswa untuk memimpin kampanye di sekolah, membentuk system mentoring, membentuk klub atau komite karakter dan menghargai kepemimpinan siswa
B.     Saran
Diharapkan dengan diterapkannya pendidikan karakter di SD dapat membentuk pribadi siswa yang unggul dalam berperilaku dan memiliki kepribadian yang sesuai dengan moral-moral pancasila dan agama. Untuk itu penerapan pendidikan karakter di SD sangat diperlukan, sehingga kita dapat menjadi orang yang bermoral dan berpancasila. Kemudian dengan adanya makalah ini diharapkan pembeca dapat menerapkannya dan mampu membangun sekolah yang berkarkter.
Dari segi penyusunan makalah ini, penulis juga meminta maaf apabila ada kata atau kalimat yang kurang berkenan, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca untuk perbaikan kedepannya.





















DAFTAR PUSTAKA

Lickona ,Thomas. 2013. Character Matters. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Chaeles Elbot, David Fulton, and Barbara Evans. 2013. Educating for Character in the
Denver Public School: An Implemnmtion Manual (Denver: Denver Public Scool)

No comments:

Post a Comment