BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Faktor kelurga sangat berperan dalam
membentuk karakter anak. Namun kematangan emosi social ini selanjutnya sangat
dipengaruhi oleh lingkungan sekolah sejak usia dini sampai usia remaja. Bahkan
menurut Daniel Goleman, banyaknya orang tua yang gagal dalam mendidik
anak-anak, kematangan, emosi sosial anak dapat dikoreksi dengan memberikan
latihan pendidikan karakter kepada anak-anak di sekolah terutama sejak usia dini.
Sekolah adalah tempat yang strategis
untuk pendidikan karakter karena anak-anak dari semua lapisan akan mengenyam
pendidikan di sekolah. Selain itu anak-anak menghabiskan sebagian besar
waktunya di sekolah, sehingga apa yang didapatkannya di sekolah akan
mempengaruhi pembentukan karakternya.
Indonesia belum mempunyai pendidikan
karakter yang efektif untuk menjadikan bangsa Indonesia yang berkarakter
(tercermin dari tingkah lakunya). Padahal ada beberapa mata pelajaran
yangberisikan tentang pesan-pesan moral, misalnya pelajaran agama,
kewarganegaraan, dan pancasila. Namun proses pembelajaran yang dilakukan adalah
dengan pendekatan penghafalan (kognitif). Para siswa diharapkan dapat menguasai
materi yang keberhasilannya diukur hanya dengan kemampuan anak menjawab soal
ujian (terutama dengan pilihan berganda). Karena orientasinya hanyalah
semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus, maka bagaimana mata pelajaran
dapat berdampak kepada perubahan perilaku, tidak pernah diperhatikan. Sehingga
apa yang terjadi adalah kesenjangan antara pengetahuan moral (cognition) dan
perilaku (action). Semua orang pasti mengetahui bahwa berbohong dan korupsi itu
salah dan melanggar ketentuan agama, tetapi banyak sekali orang yang tetap
melakukannya. Tujuan akhir dari pendidikan karakter adalah bagaimana manusia
dapat berperilaku sesuai dengan kaidah-kaidah moral.
Pendidikan karakter pada anak usia
sekolah dasar, dewasa ini sangat diperlukan dikarenakan saat ini Bangsa
Indonesia sedang mengalami krisis karakter dalam diri anak bangsa. Karakter di
sini adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk
dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai
landasan untuk cara pandang, bepikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan tersebut
berupa Sejumlah nilai moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat
dipercaya, hormat pada orang lain, disiplin, mandiri, kerja keras, kreatif.
Berbagai permasalahan yang melanda bangsa belakangan ini ditengarai karena
jauhnya kita dari karakter, oleh karena itu pentingnya menciptakan sekolah yang
berkarakter.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
cara membuat sekolah menjadi sekolah yang berkarakter?
2. Bagaimana
cara melibatkan para siswa dalam menciptakan sekolah berkarakter?
C.
Tujuan
Makalah
Makalah
ini bertujuan untuk menjelaskan:
1. Bagaimana
cara membuat sekolah menjadi sekolah yang berkarakter?
2. Bagaimana
cara melibatkan para siswa dalam menciptakan sekolah berkarakter?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Cara
Membuat Sekolah Menjadi Sekolah Yang Berkarakter
Strategi untuk menjadi sekolah yang
berkarakter harus ada keterlibtatan staf, keterlibtan siswa, dan keterlibatan
orang tua. Semua itu merupakan tiga kelompok yang partisipasinya bersifat
krusial bagi keberhasilan inisiatif pendidikan karakter sebuah sekolah. Pada
makalah ini akan menjelaskan mengenai strategi untuk melibatkan siswa dalam
menciptakan sekolah yang berkarakter. Namun sebelum itu kita akan membehas
mengenai tempat dimana penndidikan karakter perlu diawali, dengan staf sekolah.
1.
Menciptakan
Tonggak
Dalam panduan implementasinya, Educating for Character in the Denver Public
School, Charles Elbot, dan beberapa evens menulis demikian, “banaya sekolah
yang telah menciptakan pendidikan karakter yang mendalam dan dipertahankan
telah melaksanakan program tersebut dengan bantuan tonggak di seluruh sekolah”.
Tonggak ini merupakan pernyataan atau cara yang mengekspresikan nilai dan
aspirasi bersama dari seluruh anggota komunis sekolah tersebut. Pentingnya
memiliki tonggak, menurut penulis, telah dimunculkan dalam sejumlah penelitian
dari duania bisnis dan nirlaba.
Menciptakan tonggak sekolah dapat
diawali dengan meneliti pernyataan misi sekolah tersebut (biasanya lebih lama,
lebih kompleks, dan sult untuk diingatdari pada tunggak apa pun). Nilai etika
dan intelektual apakah yang diekspresikan oleh misi tersebut? Nilai apakah yang
hilang atau harus dibuat lebih eksplisit dalam sebuah tonggak? Suatu komite
sekolah kemudian dapat menuliskan empat atau lima pernyataan “kami”,seperti
yang ada dalam cara Slaven untuk dikemukakan sebagai pernyataan atau tonggak
sekolah dan mendengarkan rancangan ini sepada seluruh staf, siswa dan orang
untuk mendapatkan masukan dari mereka.
2.
Memiliki
Motto Berbasis Karakter
Apakah pernyaaan sekolah, hidup
dalam hati dan pikiran para staf dan siswa? Salah satu cara untuk membantu hal
tersebut menjadi kenyataan adalah memilih motto sekolah, salah satu pernyataan
keyakinan dalam tonngak yang dimiliki terhadap tonggak tersebut dan membuat
motto tersebut menjadi bagian penting dalam kebudayaan sekolah. Berikut adalah
contoh motto sekolah:
Bersama,
kita adalah yang terbaik semampu kita.
(Sheridan Hills Elementary School)
Apapun
yang menyakiti saudaraku menyakitiku juga.
(Saint Benedict’sprepatory School, untuk
siswa laki-laki)
Tujuan,
kabanggaan dan performa.
(Montain Pointe High School)
3.
Mencari
Dukungan Kepala Sekolah untuk Membuat Karakter Menjadi Prioritas
Prioritas sekolah biasanya menjadi
prioritas staf. Ketika kepala sekolah atau perwakilan kepala sekolah yang
ditentukan menghadiri paling tidak bagian dari institusi sebagai anggota tim
sekolah, terdapat kesempatan yang lebih baik bahwa pendidikan karakter akan
diimplementasikan dalam sekolah tersebut.
Hal ini tidak berarti bahwa kepala
sekolah harus menjadi pemimpin pelaksana implementasi tersebut. Dapat bekerja
sama dengan sekolah dimana kepala sekolahnya, hampir mendekati masa pensiun,
menunjuk diektur pusat medianya untuk memimpin komite pendidikan karakter. Ibu
direktur itu akan memperoleh perhatian khusus. Beliau menulis dan menyimpan
sedikit dana untuk memberikan serangkain workshop untuk melatih seluruh staf.
Beliau memberikan orientasi terhadap program ini kepada para staf fakultas yang
ikut bergabung dan melakukan pertemuan kelas demonstrasi dengan para siswanya
guna membantu mereka mempelajari bagaimana caranya melaksanakan diskusi semacam
itu. Bliau mengembangkan suatu pusat sumber pendidikan karakter bagi para guru
dan pusat sumber bagi para orang tua.
4.
Membentuk
Kelompok Kepemimpinan
Mengembangakan sekolah berkarakter
memerlukan sebuah tim kepemimpinan untuk merencanakan dan mendukung
implementasinya.
1.
Memanfaatkan
insfratruktur sekolah yang sudah ada
2.
Menciptakan beberapa
komite, kecil masing-masing dengan tugas yang berbeda.
3.
Memperluas undangan
untuk semua orang, termasuk orang-orang yang berpotensi mengatakan “tidak”
terhadap pendidikan karakter.
4.
Memastikan semua
kelompok diwakili
5.
Mengembangkan
Basis Pengetahuan
Tim kepemimpinan perlu berwawasan
tentang pendidkan karakter. Membaca buku-buku mengenai pendidkan karakter agar
memilki gambaran mengenai bidang pendidikan karakter. Selain itu juga dapat
melakukan kunjungan kesekolah lain yang telah melaksanakan pendidikan karakter
sementara ini (idealnya selama lebih dari 2 tahun) untuk melihat pertama kali
program apakah yang tampaknya berhasil.
Jika memungkinkan. Kelompok kepemimpinan juga harus memperoleh beberapa
pelatihan pelatihan pendidikan formal melalui konferensi, workshop, ceramah
atau kesempatan pengembangan professional lainnya.
6.
Memperkenelkan
Konsep Pendidikan Karakter Kepada Seluruh Staf
Mengundang seluruh personel sekolah
untuk menghadiri pertemuan pengantarmengenai pendidikan karakter. Sesi
pengantar ini harus mengemukakan 4 hal pernyataan yang mendasar: (1) apakah
sasaran dari pendidikan karakter? (2) apakah yang akan diperlikan dalam diri
saya, dalam pekerjaan saya? (3) apakah yang akan terjadi apabila kita
melaksanakan di seluruh sekolah? (4) apakah keuntungan yang akan diperoleh jika
kita melaksanakan program ini?.
7.
Mempertimbangkan
“ Tipe Kepribadian Macam Apakah yang Kita Inginkan dari para Siswa?”
Sasaran pendidikan karakter ada
tiga: kepribadian berkarakter, baik, sekolah berkarakter, dan masyarakat
berkarakter. Maka muncul pertanyaan “apakah yang dimaksud dengan karakter yang
baik?”. Para staf hendaknya menyadari kualitas yang dimiliki dirinya dan
kualitas yang akan dihasilkannya. Karakter yang baik memiliki 10 kebijakan esensial
yang dideskripsikan sebelumnya beserta dengan kebijakan yang akan mendukungnya.
1. Kebijaksanaan
2. Keadilan
3. Ketabahan
4. Mengendalikan
diri
5. Saling
mengasihi
6. Sikap
positif
7. Kerja
keras
8. Integritas
9. Terima
kasih
10. Kerendahan
hati
Pendidkan karakter merupakan usaha
sengaja untuk mengembangkan kebijakan yang memampukan kita untuk mengarah pada
kehidupan yang saling memenuhi dan membangun dunia yang lebih baik.
8.
Mempertimbangkan
“Apakah Arti Pendidikan Karakter untuk Saya”
Lankah-langkah yang dapat dilakukan
untuk melaksanakan aktivitas tersebut adalah:
1. Mintaah
para staf membentuk pasangan
2. Bertanyalah
kepada mereka secara pribadi, meluangkan waktu selama 7 menit untuk membaca
dengan diam daftar “100 cara” dengan intruksi sebagai berikut: “lingkarilah
hal-hal yang sudah anda lakukan. Beri tanda bintang pada hal-hal yang belum
anda lakukan namun anda ingin mencobanya”
3. Setelah
satu menit selesai, berikan waktu selama 5 menit setip pasangan tersebut untuk
membagikan satu hal yang mereka lingkari dan satu hal yang merka beri tanda
bintang.
4. Bertanyalah
kepada seluruh kelompok mengenai kesimpulah yang dapat diambil dari latihan
ini.
9.
Mempertimbangkan
“Apakah Pendidikan Karakter Tersebut Akan Dapat Dilaksanakan Di Seluruh
Sekolah?”
Apabila staf sekolah berkomitmen
untuk membuat sekolah mereka menjadi sekolah yang berkarakter maka akan memilih
strategi yang bisa diambil sebagai awal mula rencana pendidikan karakter.
Apabila sebuah program pendidikan karakter sudah ada pada tempatnya, maka
strategi itu dapat digunakan untuk mempertajam usaha yang ada.
Cara tercepat untuk menyampaikan makna pendidikan
karakter bagi sekolah adalah melihat pada studi kasus serta membaca dan
membahas kisah kesuksesan pendidikan karakter dari seluruh negara. Berikut
adalah bagaimana cara menganjurkan pemakaian pendekatan studi kasus :
1. Kumpulkan
staf dalam suatu kelompok yang terdiri dari tiga orang (kelas yang berbeda,
mata pelajaran yang bebrbeda, atau peran kerja yang berbeda). Berikanlah kepada
masing-masing staf satu paket kisah kesuksesan pendidikan karakter yang memuat
paling tidak satu kisah ditingkat sekolah dasar,satu tingkat disekolah
menengah, satu tingkat disekolah tinggi. Campuran kisah ini penting untuk
menunjukan bahwa pendidikan karakter telah dilakukan secara efektif diseluruh
tingkat perkembangan dan membantu orang
banyak melihat bagaimana usaha mereka berkontribusi membangun pekerjaan
ditingkat lainnya. Tiga sumber kesuksesan ini adalah publikasi tahunan Nasional
scholl of character dari character
Education Partnership , buku karangan Philip Vincent yang berjudul Promisisng
Practices in character Education, volume 1 and 2.
2. Instruksikan
para peserta , “silahkan membaca dalam hati kisah sukses pertama selama 6
menit. Berikanlah tanda bintang pada dua atau tiga yang dilakukan oleh sekolah
ini yang menurut andaa dapat memberikan keuntungan. Setelah mendapatkan aba-aba
dari saya, silahkan membagi hal apa yang anda beri tanda bintang, beserta
dengan alasannya kepada setiap kelompok dan yang lainnya.
3. Setelah
memberikan kelompok tersebut waktu lima menit untuk membahas apa yang mereka
pilih sebagai strategi menjanjikan,mintalah seseorang dari masing-masing
kelompok untuk melaporkan secara singkat strategi mana yang dipilih kelompok
mereka dan mengapa. Buatlah daftar atau strategi yang telah dipilih dan
sebutkan berapa kali masing-masing strategi dipilih ketika anggota ini
membagikan laporannya.
4. Ulangi
proses ini dengan kisah kesuksesan yang kedua dan ulangi lagi dengan kesuksesan
yang ketiga,setiap kali anda meminta kelompok tersebut membahas, “ strategi
tambahan apakah yang anda lihat sedang digunakan dalam kisah ini, strategi yang
mungkin anda pertimbangkan untuk pemakaian atau adaptasi yang mungkin dilakukan
dalam sekolah anda.
5. Setelah
mempertimbangkan beberapa studi kasus semacam itu, bertanyalah, “berdasarkan
pada kisah yang sudah anda baca, apakah yang anda lihat sebagai keuntungan dari
suatu program pendidikan karakter yang baik? Tuliskan semuanya. Yang biasanya
disebutkan termasuk pembelajaran siswa yang meningkat, permasalahan disiplin,
moral staf yang lebih tinggi,pengambilan kepemimpinan oleh para siswa, dan
keterlibatan orang tua atau komunitas yang lebih besar.
6. Akhirilah diskusi dengan daftar komposit
strategi yang dihasilkan oleh kelompokmlaporan kecil dan bertanyalah,”strategi
manakah yang paling sering disebutkan?”
Kisah Kennedy Middle
School
Berikut ini adalah bagaimana cara
Kennedy Middle School menjadi sekolah berkarakter :
1. Kennedy
Middle School menghubungkan pendidikan karakter dengan peningkatan sekolah.
Pada
musim gugur tahun 1995, para guru yang tidak bahagia dengan prilaku para siswa
yang kurang ajar disekolah ini nertemu dengan Site Council sekolah tersebut,
yang mengikut sertakan para orang tua, anggota komunitas/masyarakat, staf
pendukung, dan siswa.
2. Kennedy
Middle School melatih para Stafnya. Mehas dan seorang konselor dari sekolah ini
menghadiri institusi “latihlah para pemateri latihan” guna mempelajari
bagaimana cara memberikan pelatihan pada para staf lainnya untuk mengajarkan
kurikulum Second Step.
3. Kennedy
Middle School melibatkan para staf di dalam mengajarkan kurikulum Second
Step. Kennedy Middle School mengundang
setiap anggota staf ,termasuk sekretaris,penjaga sekolah, pekerja kafetaria,
dan pembantu ditaman bermain, untuk mengambil bagian dalam mengajarkan pelajaran Second Step. Seorang sekretaris akan dipasangkan dengan
guru matematika kelas delapan, seorang penjaga sekolah dengan ilmu pengetahuan
alam kelas delapan, dan seterusnya.
4. Kennedy
Middle School menggunakan kurikulum tersebut secara lebih efektif pada tahun
kedua . mehas masih mengingat kejadian ini “ setelah tahun pertama penerapan
Second Step, beberapa orang siswa masih tidak datang kesekolah dengan
ekspektasi umum mengenai prilaku di kelas. Kami ingin mengatakan kepada mereka
sejak dari awal tahun ajaran demikian, “beginilah caranya kita memperlakukan
satu sama lain di Kennedy Middle School”.
Jadi dari pada mengajarkan Second Step selama satu kali seminggu selama
satu tahun ajaran, Kennedy Middle School memutuskan untuk memusatkan : satu pelajaran per hari selama tiga minggu
pertama disekolah. Ujar Mehas ,” sekarang kami mampu menghabiskan lebih
banyak waktu untuk mengajarkan
kurikulumakademika karena kami memiliki lebih sedikit permasalahan perilaku.
5. Kennedy
Middle School memberikan banyak kesempatan untuk peran kepemimpinan bagi para
siswa.
Hal
ini termasuk :
Respect Committee. Kelompok
ini, bertemu setiap hari mengemban misi memastikan bahwa semua siswa merasa
nyaman dan dihormati disekolah.
Leadership Club.
Klub ini bertemu setiap minggu untuk membahas cara-cara untuk meningkatkan mutu
sekolah. Suatu ketika para anggota klub bekerja sama dengan seorang arsitek
lanskap untuk menciptakan suatu desain dan kemudian menanam pepohonan guna
meningkatkan mutu tanah sekolah.
Tenns and Tots. Sebuah kelas pembelajaran pelayanan, program
ini melibatkan para siswa Kennedy Middle School untuk bekerja di Relief
Nursery, sebuah fasilitas perawatan dan pendukung anak bagi anak-anak yang
dilecehkan dan keluarga mereka.
Jump Star Tutors.
Para siswa Kennedy Middle School bekerja dengan teman sebaya mereka yang
meimilih resiko, mengajarkan mereka keahlian belajar dan membantu mereka mengerjakan
tugas-tugas dalam area mata pelajaran yang berbeda.
Student Conveners.
Para perwakilan yang dipilih dari masing-masing kelass yang bertugas sebagai
pemerintahan siswa Kennedy Middle School.
6. Para
siswa mengembangkan sistem untuk menghargai perilaku positif.
Student
Conveners dalam Kennedy Middle School menciptakan sistem yang berlaku diseluruh
sekolah, PRIDE (personal responsibility in daily effortd = tanggung jawab
pribadi dalam usaha sehari-hari) untuk menghargai para siswa karena “melakukan
hal yang benar” dengan basis harian. Setiap enam minggu sekali, para siswa
Kennedy Middle School yang merayakan tuga mereka tepat waktu,tidak pernah absen
satu kalipun, tidak pernah terlambat sekalipun, dan tidak memiliki rujukan
perilaku menjadi anggota PRIDE , para siswa yang berkulifikasi berpartisipasi
dalam aktivitas khusus seperti ice skating,snow skiing, menonton film,dan
berenang. Setiap enam minggu sekali, para siswa memiliki titik awal segar atau
fresh start sehingga mereka memiliki banyak kesempatan untuk melakukan PRIDe.
7. Kennedy
Middle School mengambil langkah untuk meningkatkan hubungan guru-siswa yang
lebih dekat. Dikelas tujuh dan delapn, Kennedy Middle School
mengimplementasikan praktek “looping” , dimana para siswa berada dengan
guru-guru yang sama selama lebih dari satu tahun. Looping membuat fakultas
mengembangkan hubungan yang lebih dekat dengan para guru maupun dengan para
siswa.
8. Kennedy
Middle School meningkatkan keterlibatan orang tua.
Kennedy
Middle School telah memiliki sangat banyak relawan dari orang tua sehingga satu
orang tua sekarang hampir bekrja penuhb waktu sebagai koordinator relawan. Para
relawan orang tua ini mengelolah kantor dan menjalankan fungsi staf yang
esensial ketika staf reguler sedang mengerjakan pelajaran Scond Step selama
tiga minggu pertama tahun ajaran baru. Para relawan orang tua juga mengelola
perpustakaan sekolah dan memberikan bantuan kepada banyak klub.
9. Kennedy
Middle School mengevaluasi dampak yang ada. Kennedy Middle School memerhatikan
indikator akademik dan perilaku guna menilai usaha pendidikan karakter yang
dilakukan. Pada yahun 1997, hanya 59 persen dari para siswa Kennedy Middle
School yang memenuhi standar akademik negara bagian Oregon, dan rujukan
disiplin memiliki jumlah rata-rata 100 kasus per tahun. Pada tahun 1998, 74
persen para siswa Kennedy Middle School memenuhi standar akademik negara bagian
ini, dan rujukan disiplin menurun hungga tiga puluh lima kasus per bulan.
10.
Menganalisis
Kebudayaan Moral dan Intelektual Sekolah
Langkah berikutnya adalah melihat dengan
lebih dekat kekuatan dan area bagi peningkatan dalam kebudayaan moral dan
intelektual sekolah. Langkah ini merupakan langkah yang sangat dibutuhkan dalam
menciptakan sekolah yang berkarakter. Apabila langkah ini tidak diambil maka
suatu sekolah dapat mengabaikan “gajah yang ada di meja” yaitu permasalahan
yang ada tepat dibawah hidung kita, yang tidak dikemukakan akan mengikis usaha
pendidikan karakter.
Suatu cara sistematis untuk merefleksikan
pengalaman ini adalah menggunakan analisis empat bagian berikut ini terhadap
kebudayaan maral dan intelektual sekolah. Analisis ini dapat dilengkapi secara
individual oleh staf sebelum pertemuan staf diadakan, dengan hasil yang
dikumpulkan dan dipresentasikan oleh kelompok kepemiminan pendidikan karakter,
atau dapat dilengkapi dan dibahas dalam kelompok yang terdiri dari tiga atau
empat orang dalam pertemuan staf.
Analisis
kebudayaan moral dan intelektual sekolah
1.
Pengalaman
positif
Pengalaman
positif misalnya mengharuskan para siswa memberikan pekerjaan yang terbaik dan
mendukung mereka dalam memenuhi standar tersebut, mencoba membuat siswa merasa
dihargai, dan pendidikan karakter lainnya, apakah sudah ditanamkan kepada
peserta didik kita?
2.
Penghilangan
Pengalaman
pembentukan karakter penting apakah yang kita tidak berikan secara memadai
sebagai satu sekolah?
3.
Titik
masalah
Apakah prilaku
siswa atau orang dewasa yang tidak diinginkan (misalnya kenakalan antar teman
sebaya, ketidakjujuran akademis, bahasa yang buruk, tidak hormat terhadap
property sekolah dan lain-lain)
4.
Inkonsistensi/
pesan yang tercampur
Praktik institusional apakah yang bertentangan
dengan kualitas karakter yang kita cari untuk dekembangkan sebagai satu
sekolah.
11.
Memilih
Dua Prioritas untuk Meningkatkan Kebudayaan Sekolah
Dari
banyaknya permaslahan sekolah yang ada, maka pilihlah dua masalah yang menurut
kata harus difokuskan atau diprioritaskan, dalam tahun ajaran mendatang.
Sebagai contohnya, yaitu:
a. Meningkatkan
tanggung jawab siswa terhadap pekerjaan akademik mereka
b. Meningkatkan
rasa hormat kepada para guru dan staf sekolah yang lain
c. Meningkatkan
rasa hormat yang ditunjukkan orang dewasa kepada para siswa
d. Meningkatkan
kebaikan di antara teman sebaya dan meningglkan bullying serta kenakalan anak
sebaya lainnya.
e. Meningkatkan
kejujuran kademik
f. Memperbaiki
bahasa ketika berada di sekolah.
12.
Bertanyalah,
“Haruskah Kita Berkomitmen untuk Menjadi Sekolah Yang Berkarakter”
Para staf harusnya berpikir bahwa,
pendidikank karakter pada dasarnya adalah tentang membantu anak-anak menjadi
para siswa dan masyarakat yang baik dengan menjadi sekolah terbaik mungkin dalam
hal apapun.
Tidak peduli berapa lama waktu yang
dihabiskan, komitmen para staf merupakan hal yang esensial. Ketika orang-orang
merasa kalau perubahan sedang dipaksakan kepada mereka, kalau mereka memilki
suara dalam perubahan tersebut, maka mereka lebih mungkin mendukungnya.
13.
Merencanakan
Program Pendidkan Karakter Berkualitas
Tantangan
dalam tahap ini adalah mendesain suatu program yang memiliki segian besar
komponen yang membentuk pendidikan karakter yang berkualitas. Berikut ini
merupakan komponen pendidikan karakter yang berulang kali muncul dalam kisah
kesuksesan pendidikan karakter.
(1) Kepemimpinan/ dukungan administrative
(2)
Keterlibatan staf yang
kuat
(3)
Keterlibatan siswa yang
kuat
(4)
Keterlibatan orang tua
yang kuat
(5)
Tonggak sekolah dan
motto yang menekankan karakter
(6)
Pemakaian bahasa
karakter dalam interaksi setiap hari dan kode prilaku
(7)
Perangkat kebaikan
sasaran yang disetujui
(8)
Perencanaan di seluruh
sekolah untuk secara sengaja mendorong dan mengajar sasaran kebaikan sekolah
(9)
Contoh prilaku yang
dihasilkan oleh staf tentang hal bagaimana “tampak” dan “bunyi” kabaikan ini
pada berbagai usia dan bagian lingkungan sekolah yang berbeda.
(10) Penekanan
pada tanggung jawab seluruh sekolah dan siswa untuk memodelkan kebaikan.
(11) Integrasi
kebaikan ini secara berkesinambungan ke dalam intruksi di seluruh kurikulum
(12) Pemakaian
pendidikan kurikulum pendidikan karakter yang dipublikasukan, dimanapun
pemakaian tepat dilakukan.
(13) Suatu
pendekatan terhadap disiplin yang mengajarkan kebaikan dan meenghargai
karakteryang baik dengan cara menjaga focus pada alasan karakter karena
melakukan apa yang benar.
(14) Usaha
diseluruh sekolah untuk mengembangkan komunitas yang peduli guna mencegah
kenakalan di antara teman sebaya.
(15) Lingkungan
yang kaya karakter visual
(16) Memperkerjakan
staf yang memiliki karakter baik dan berkomitmen untuk memodelkan dan
mengajarkan karakter.
(17) Pengembangan
staf dan keahlian dan strategi pendidikan karakterdan akuntabilitas untuk
menggunakannya.
(18) Waktu
yang dijadwalkan untuk perencanaan, pembagian, dan refleksipara staf atas
program karakter yang bersangkutanserta kebudayaan moral dan intelektual
sekolah.
(19) Adanya
dukungan finansial dengan rendah hati.
(20) Perencanaan
untuk penilaian dampak program yang berkesinambungan.
14.
Memilih
Strategi Organisasi untuk Mendorong Kebaikan
Staf sekolah juaga harus membahas
dan memutuskan bagaimana caranya untuk mengorganisir program pendidikan
karakternya. Berikut ini merupakan terdapat sepuluh strategi organisasi, yang
di antaranya dapat dikombinasikan:
(1)
Satu kebaikan satu
bulan
(2)
Satu kebaikan satu
minggu
(3)
Tiga atau empat tahun
siklus kebaikan
(4)
Tema tahunan
(5)
Penugasan kebaikan yang
tepat menurut perkembangannya kepada masing-masing tingkat kelas.
(6)
Perangkat ekspektasi perangkat
karakter yang lazim
(7)
Kerangka kerja
kurikulum pendidikan karakter
(8)
Kurikulum pendidikan
karakter yang dipublikasikan
(9)
Suatu “model proses”
pendidikan karakter
(10) Pendekatan
kebudayaan sekolah
15.
Membuat
Penilaian sebagai Bagian dari Perencanaan
Ada tiga alasan penting untuk mengadakan
penilain terhadap pendidikan karakter, yaitu: (1) apa yang diukur, misalnya
motivasi dan akuntabilitas staf untuk mengimplementasikan usaha pendidikan
k9arakter akan menjadi jauh lebih besar apabila terdapat perencanaan untuk
menilai hasil; (2) penilain akan memberikan informasi kepada kita samapai
tingkat manakah program pendidkan karakter kita sebenarnya membuat perbedaan;
(3) data penilai dapat digukan untuk
memandu pengambilan keputusan tentang bagaimana caranya meningkatkan
keefektifan program tersebur.
Dalam penilaian harus mencoba menjawab
keempat pertanyaan berikut ini:
(1)
Sampai tingkat manakah
para staf mengimplementasikan program pendidikan karakter sebagaimana yang
diinginkan?
(2)
Sampai tingkat manakah
para siswa memahami kebaikan sasaran yang diajarkan di kelas mereka?
(3)
Sampai tingkat manakah
para siswa berkembang dalam hal mempraktikkan kebaikan tersebut?
(4)
Sampai tingkat manakah
prilaku para siswa mengalami peningkatan atau perbaikan dalam bagian tertentu
di lingkungan sekolah atau di dalam kehidupan sekolah.
16.
Membangun
Komunitas Oaring Dewasa yang Kuat
Memperkuat rasa atau pemahaman komunitas
seorang staf dapat sama sederhananya memastikan orang-orang merasa diapresiasi
atau dihargai. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat amplop yang
besar dari kertas manila, yang diberi tanda “nota apresiasi” di atas pintu
setiap anggota staf/para guru, konselor, penjaga sekolah, dan administrator.
Kemudian setiap saat semangat ini menggerakkan kita, tolong tuliskan sebuah
nota yang mengekspresikan apresiasi bagi suatu yang dilakukan telah dilakukan
oleh seorang staf dan letakkan nota tersebut pada pintu orang yang
bersangkutan, tanpa menuliskan nama kita.
Secara perlahan-lahan amplop itu akan
terisi penuh. Para orang tua akan menuliskan nota untuk mengucapkan terimakasih
kepada para guru atas cara-cara yang telah dilakukan para guru untuk membantu
anak-anak mereka.
17.
Meluangkan
Waktu bagi Karakter
Kurangnya waktu merupakan musuh
nomor satu bagi reformasi pendidikan berkelanjutan. Suatu sekolah perlu
menemukan waktu untuk mengejar sasaran pendidikan karakter dalam kesempurnaan
moral dan intelektual. Menurut Pat Floyd-Echols, Kepala Sekolah K-5 Dr. Martin
Luther King, Jr. Magnet school ditengah kota syracuse, New York, sekarang kami
mencurahkan seluruh pertemuan fakultas kami untuk sharing dan pengembanga
staf. Menggunakan pertemuan antar
fakultas kami lebih produktif dan membuat hubungan dengan staf semakin dekat.
Dalam dua tahun terakhir hal ini juga mampu untuk meningkatkan nilai matematika
siswa dengan menjadi lebih konsisten dalam pendekatan intruksional kami.
Aktivitas pengembangan staf lainnya
yang bagus adalah proyek buku yang lazim. Para staf berkomitmen untuk membaca
dan membahas sebuah buku yang berhubungan dengan pengembangan karakter sebagai
bagian dari pertemuan fakultas. Dukungan untuk jenis pengembangan orang dewasa
ini mutlak penting untuk mencapai sekolah berkarakter. Sebagimana yang
dijelaskan oleh Rick Weissbourd, penulis The Vulnerable Child, “kita tidak akan
pernah meningkatkan secara pesat pengembangan
moral siswa adisekolah tanpa menempuh tugas kelompok untuk mengembangkan
kedewasaan dan kapasitas etika oranag dewasa. “kita tidak dapat memberikan apa
yang tidak kita miliki.
Sebagian besar perubahan pendidikan
berlangsung singkat ; ada disini pada hari ini, besok pagi sudah menghilang.
Itulah alasannya mengapa para guru sering kali bersikap sinis, berfikiran
demikian, “yang ini juga akan berlalu.”
Urusan menjadi sekolah yang berkarakter tidak boleh menjadi tren yang lewat,
karena mengembangkan karakter yang baik berada pada jantung pendidikan sekolah
yang efektif dan itulah yang dimaksud dengan menjadi manusia.
Reformasi pendidikan yang tahan
lama, reformasi dengan kekuatan untuk mengubah atau mentransformasikan
kebudayaan sekolah, reformasi yang masih berada garis depan kesadaran kolektif
sekolah. Dari waktu ke waktu, reformasi ini menjdai bagian dari identitas
sekolah, bagaimana reformasi tersebut mendefinisikan dirinya sendiri. Untuk memiliki jenis kekuatan transformasi
tersebut, pendidikan karakter yang harus dipikirkan dan dibahas secara teratur
oleh sejumlah besar sataf., secara khusus oleh para guru inti yang berkomitmen
yang dapat mempertahankan kebudayaan sekolah ketika kepemimpinan administratif
berubah. Tantangan untuk hal inti yang penting tersebut adalah menjaga
pembicaraan atau pembahasan karakter terus berjalan.
B.
Cara
Pelibatkan para Siswa dalam Menciptakan Sekolah yang Berkarakter
Dalam
kehidupan moral di sekolah, tidak ada kesempatan yang lebih baik bagi para
siswa untuk mengambil kesempatan dalam tanggung jawab otentik selain dari
membantu menciptakan sekolah berkarakter.
Par
siswa harus dilibatkan sebagai rekkanan yang penting dalam tugas tersebut.
Ketika para siswa berada dalam peranan kepemimpinan yang jelas, dan ketika
semua siswa memiliki suara dan patokan dalam usaha pendidikan karakter, orang
dewasa akan menjadi jauh lebih efektif
dalam mendorong karakter baik dari pada yang dapat mereka lakukan sendiri.
1.
Melibatkan
Parasiswa Dalam Merencanakan dan Melaksanakan Program Pendidikan Klarakter
Diseluruh tingkat usia, para sisiwa
dapat memainkan peranan yang bermakna dalam merencanakan dan melaksanakan
program pendidikan karakter sekolah.
Diawal setiap bulan, komite karakter
anak-anak ( kids character committee)
masing-masing kelas memiliki dua kali makan siang waktu bekerja dengan konselor
Sigler. Dalam pertemuan tersebut mereka
.
(1) Membahas
bagai mana dan seperti apa cirri karakter bulan ini, serta bagaimana rasanya
ketika menunjukan cirri tersebut.
(2) Mengembangkan,
dengan bantuan sigler, persentasi dan postes yang akan mengajarkan teman satu
kelas mereka tentang cirri tersebut.
(3) Merencanakan
cara-cara tambahan untuk melibatkan kelas
mereka dalam mempelajari tentang dan mempraktikan sifat ini selama bulan
yang bersangkutan.
2.
Menggunakan
Pertemuan Kelas Untuk Memberikan Anak-Anak Suara Dan Tanggung Jawab .
Pertemuan kelas merupakan suatu diskusi
interaktif dimana para siswa berbagi tanggung jawab untuk membuat kelas menjadi
tempat yang baik untuk berada dan untuk belajar. Dilakukan dalam lingkaran,
yang memampukan setiap anak melihat teman-teman mereka, pertemuan kelas dapat
digunakan untuk mengembangkan kode disiplin, merencanakan acara khusus seperti
field trip, memecahkan permasalahan kelas, atau memberikan konstribusi bagi
solusi permasalahan di tingkat sekolah. Dalam beberapa kelas, para siswa dapat
meminta pertemuan tentang permasalahan yang ingin mereka kemukakan.
3.
Melibatkann
para Siswa dalam Pemerintahan Siswa Partisipatoris Di Tingkat Sekolah
ketika para siswa belajar dan mempraktikan keahlian
diskusi dan pengambilan keputusan dalam pertemuan kelas, mereka dipersiapkan
untuk berpastisipasi dalam proses yang sangat penting di tingkat sekolah :
pemerintahan sisawa yang berbagi tanggung jawab untuk membuat sekolah menjadi
tempat yang sebaik mungkin.
Ketika sekolah tidak memiliki jenis
pemerintahan siswa semacam ini, maka sekolah sudah pasti akan mengalami ketidak
jujuran, vandalism, kenakalan anaksebaya, pelecehan seksual, ketegangan
antaras, bahasa buruk, sikap spoortif yang buruk, dan permaslahan lainnya yang
semacam itu. Karena permasalahan ini terletak dalam kebudayaan anak-anak
remaja, maka permasalahan tersebut sulit atau mustahil untuh dipecahkan oleh
orang dewasa yang bertindak menurut cara mereka sendiri. Anak-anak diperlukan
untuk membantu membentuk norma yang memengaruhi prilaku siswa.
Sekolah
memiliki kesempatan yang jauh lebih baik untuk memecahkan permasalahan yang ada
dalamlingunganya apabila sekolah merancang pemerintahan siswa partisipaoris.
Menurut pendekatan ini, delegasi siswa berpera sebagai perwakilan kelas ( atau
homeroom) mereka dan melapor kembali kepada kelas mereka.
Dewan Siswa Fokus
Khusus ( Special-Focus Studet Council)
Kafetaria(kantin) dalam kebanyakan
seklah merupakan daerah perang. Para pelayan berteriak kepada anak-anak ,
anak-anak berteriak satu sama lain, lempar-melempar makanan merupakan hal yang
lazim, dan tempat ini berantakan ketika para siswa pergi.
Menghubungkan dewan
siswa sekolah dasar dengan menengah
Salah satu tujuan dalam pemerintahan
siswa partisipatoris adalahmemberikan kesemp[atan sebanyak mungikin kepada para
siswa antuk mengambil peran kepemimpinan. Partisipasi ini merupakan senjata bagi pengembangan
karakter mereka.
Penyambungan
dewan siswa tingkat dasar dan dewan siswa tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingkat
menengah , suatus istem yang dirancang oleh mantan kepalah sekolah Negara
bagian New York, merupakan suatu cara untuk memberikan kesempatan menjadi
bagian dari proses ini kepada lebih banyak siswa.
4.
Memberikan
Kesempatan Informal bagi Masukan Siswa
Struktur informal dapat melengkapi
pekerjaan pemerintahan siswa formal dan memberikan suatu kesempatan untuk
berperan dalam meningkatkan sekolah mereka pada siswa tambahan. Misalnya, dua
orang konselor di saint Loouise Middle School membentuk apa yang mereka sebut
“Klub Makan Pagi (“the Breakfast Club’) sebagai satu cara untuk memberikan para
siswa kesempata untukmemberikan masukan mengenai sekolah mereka. Kedua orang
konselor ini menarik duapuluh ama siswa dari dalam topi dan mengundang mereka
untuk bertemu dengan mereka selama dua puluh menit sebelum kelas dimulai pada
hari kamis.
5.
Menantang
Para Siswa untuk Memimpin Kampanye Di Sekolah
Konselor derba hines ialah penasehat dewan
siswa di Carlisle High School di Carsile, Pennsylvania. Dua tahun lalu, beliau
mengatakan,pihak administrasi sekolah beiau berada diambang membatalkan acara
dansa sekolah karena jumlah siswa yang mimum minuman keras sebelum dan selam
acara dansa (dikamar mandi, misalnya ) meningkat. Mminum minuman keras juga berkontribusi bagi sejumlah besar
prilaku yeng tidak tepat diatas dan sekitar lantai dansa.
6.
Membentuk
System Mentoring
System mentoring yang didesain dengan
baik membantu membentuk norma sekolah yang penting : para siswa yang lebih tua
bertanggung jawab untuk menjadi role model yang mendukung bagi para siswa yang
lebih muda.
Beberapa sekolah tinggi telah
melakukan penelitian tindakan guna mengevaluasi dampak program mentoring
senior- siswa baru dan mendapati bahwa para siswa baru yang menerima bimbingan
memperoleh nilai yang lebih baik dan kurang memiliki kemungkinan untuk diberi
rujukan dengan alas an permasalahan disiplin.
7.
Membentuk
Klub Atau Komite Karakter
Para siswa juga dapat membuat perbedaan
dalam karakter sekolah mereka melalui sebuah klub atau komite yang memiliki
tanggung jawab di tingkat sekolah.
8.
Menghargai
Kepemimpinan Siswa
Jika
kita menginginkan para siswa mengambil peran kepemimpinan dalam meningkatkan
sekolah mereka, kita harus member mereka penhargaan ketika mereka melakukannya.
Beberapa distrik, dalam pertemuan
penghargaan musim semi tahunannya, memberikan penghargaan secara individual
maupun berkelompok kepada para siswa yang telah memberikan kontribusi
signifikan terhadap peningkatan sekolah mereka. Distrik lainnya mengatur
liputan media atas hal-hal baik yan sedang dilakukan para siswa.beberapa
konfrensi pndidikan karakter ditingkat regional dan tingkat Negara bagian
sekrang mengikutsertakan upacara pengharagaan khusus yang memberikan
penghargaan kepada para siswa yang telah membuat perbedaan positif dala m
lingkungan sekolah mereka.
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A.
Simpulan
Strategi
untuk menjadi sekolah yang berkarakter harus ada keterlibtatan staf,
keterlibtan siswa, dan keterlibatan orang tua. Semua itu merupakan tiga
kelompok yang partisipasinya bersifat krusial bagi keberhasilan inisiatif
pendidikan karakter sebuah sekolah. Pada makalah ini akan menjelaskan mengenai
strategi untuk melibatkan siswa dalam menciptakan sekolah yang berkarakter.
Cara
untuk membuat sekolah kita menjadi sekolah yang berkarakter yaitu: menciptakan
tonggak, memilki motto berbasis karakter, menari dukungan kepala sekolah untuk
membuat karakter menjadi prioritas, membentuk kelompok kepemimpinan,
mengembangkan basis pengetahuan, memperkenalkan konse pendidikan karakter
kepada seluruh staf, mempertimbangkan “tipe kepribadian macam apakah yang kita
inginkan dari para staf”, mempertimbangkan “apakah arti pendidikan karakter
untuk saya?”, mempertimbangkan “apakah pendidikan karakter tersebut akan dapat
dilaksanaka di seluruh sekolah”, memilih dua prioritas untuk meningkatkan
kebuadayaan sekolah, bertanyalah “haruskah kita berkomitmen untuk menjadi
sekolah berkarakter?”, dan merencanakan program pendidikan berkualitas, memilih
strategi organisasi untuk mendorong kebaikan, membuat penilaian sebagai bagian
dari perencanaan, membangun komunitas orang dewasa yang kuat, meluangkan waktu
bagi karakter.
Dalam
kehidupan moral di sekolah, tidak ada kesempatan yang lebih baik bagi para
siswa untuk mengambil kesempatan dalam tanggung jawab otentik selain dari
membantu menciptakan sekolah berkarakter. Para siswa harus dilibatkan sebagai
rekkanan yang penting dalam tugas tersebut. Ketika para siswa berada dalam
peranan kepemimpinan yang jelas, dan ketika semua siswa memiliki suara dan
patokan dalam usaha pendidikan karakter, orang dewasa akan menjadi jauh lebih efektif dalam
mendorong karakter baik dari pada yang dapat mereka lakukan sendiri.
Beberapa
cara yang dapat dilakukan untuk melibatkan siswa dalam menciptakan sekolah yang
berkarakter yaitu: melibatkan para siswa dalam merencanakan dan melaksanakan
program pendidikan karakter, menggunakan pertemuan kelaas untuk memberikan
anak-anak suara dan tanggung jawab, melibatkan para siswa dalam pemerintahan
siswa partisipatoris di tingkat sekolah, memberikan kesempatan informal bagi
masukan siswa, menantang para siswa untuk memimpin kampanye di sekolah, membentuk
system mentoring, membentuk klub atau komite karakter dan menghargai
kepemimpinan siswa
B. Saran
Diharapkan dengan diterapkannya
pendidikan karakter di SD dapat membentuk pribadi siswa yang unggul dalam
berperilaku dan memiliki kepribadian yang sesuai dengan moral-moral pancasila
dan agama. Untuk itu penerapan pendidikan karakter di SD sangat diperlukan, sehingga
kita dapat menjadi orang yang bermoral dan berpancasila. Kemudian dengan adanya
makalah ini diharapkan pembeca dapat menerapkannya dan mampu membangun sekolah
yang berkarkter.
Dari segi penyusunan makalah ini, penulis juga
meminta maaf apabila ada kata atau kalimat yang kurang berkenan, kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca untuk perbaikan
kedepannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Lickona ,Thomas.
2013. Character Matters. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Chaeles Elbot,
David Fulton, and Barbara Evans. 2013. Educating
for Character in the
Denver Public School:
An Implemnmtion Manual (Denver: Denver Public Scool)
No comments:
Post a Comment