ASPEK SOSIAL
BUDAYA YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN DALAM MASYARAKAT
Makalah
Di ajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial
Budaya Dasar
Dosen pengampu :
Disusun Oleh :
Nama
: Kemas Virza Rhawansyah
Kelas : 1 A Keperawatan
NIM : 2132614020
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
BHAKTI
HUSADA BENGKULU
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah kesehatan merupakan salah
satu faktor yang berperan penting dalam mewujudkan sumber daya manusia yang
berkualitas. Melalui pembangunan di bidang kesehatan diharapkan akan semakin
meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan dapat
dirasakan oleh semua lapisan masyarakat secara memadai (Dinas Kesehatan, 2007).
Berhasilnya pembangunan kesehatan ditandai dengan lingkungan yang kondusif,
perilaku masyarakat yang proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
serta mencegah terjadinya penyakit, pelayanan kesehatan yang berhasil dan
berdaya guna tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.Akan tetapi pada
kenyataanya, pembangunan kesehatan masih jauh dari yang diharapkan.
Permasalahan-permasalahan kesehatan masih banyak terjadi. Beberapa diantaranya
adalah: penyakit-penyakit seperti DBD, flu burung, dan sebagainya yang semakin
menyebar luas, kasus-kasus gizi buruk yang semakin marak, prioritas kesehatan
rendah, serta tingkat pencemaran lingkungan yang semakin tinggi. sebenarnya
individu yang menjadi faktor penentu dalam menentukan status kesehatan. Dengan
kata lain, merubah pola hidup ataupun kebudayaan tentang kesehatan yang biasa
kita lakukan dan mengikuti perubahan zaman.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apakah yang
dimaksud dengan Masyarakat ?
2. Apakah yang
dimaksud dengan Budaya ?
3. Apakah yang
dimaksud dengan perubahan social budaya ?
4. Apakah yang
dimaksud dengan Budaya yang Mempengaruhi Kesehatan ?
5. Apakah yang
dimaksud dengan Aspek Sosial Budaya yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan dan
Status Kesehatan ?
6. Apakah yang
dimaksud dengan Aspek Budaya yang Mmempengaruhi Perilaku Kesehatan dan Status
Kesehatan ?
7. Apakah yang
dimaksud dengan Perubahan Sosial Budaya ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari
pembuat makalah ini adalah selain untuk memenuhi tugas kuliah juga agar kita
mengetahui apa saja aspek aspek social budaya yang mempengaruhi perilaku
kesehatan masyarakat.
BAB II
ISI
2.1
Mayarakat
Manusia
merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta
alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan,
keinginan dsb manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan
lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan yang
berkesinambungan dalam suatu masyarakat. Adapun pengertian masyarakat menurut
para ahli antara lain :
1. Menurut Selo
Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan
kebudayaan.
2. Menurut Karl
Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan
organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara
kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
3. Menurut
Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi
yang merupakan anggotanya.
4. Menurut Paul
B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif
mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu
wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar
kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.
5. Menurut
Koentjaraningrat (1996): masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang
berinteraksi sesuai dengan sistem adat istiadat tertentu yang sifatnya
berkesinambungan dan terikat oleh rasa identitas bersama
6. Menurut
Gillin (1954): masyarakat adalah kelompok manusia yang besar yang mempunyai
kebiasaan, sikap, tradisi dan perasaan persatuan yang sama
Faktor-Faktor / Unsur-Unsur
Masyarakat . Menurut Soerjono Soekanto alam masyarakat setidaknya memuat unsur
sebagai berikut ini :
1.
Berangotakan minimal dua orang.
2. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.
3. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.
4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.
2. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.
3. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.
4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.
Ciri / Kriteria Masyarakat
Yang Baik. Menurut Marion Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi
agar sekumpolan manusia bisa dikatakan / disebut sebagai masyarakat.
1. Ada
sistem tindakan utama.
2. Saling setia pada sistem tindakan utama.
3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
4. Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia.
2. Saling setia pada sistem tindakan utama.
3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
4. Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia.
2.2 Kebudayaan
Budaya atau
kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah,
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan
disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere,
yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah
atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia.
·
Kebudayaan
sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw
Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat
ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah
untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
·
Herskovits
memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke
generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
·
Menurut
Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma
sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius,
dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang
menjadi ciri khas suatu masyarakat.
·
Menurut Edward
Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya
terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
·
Menurut Selo
Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa,
dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut,
dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan
memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan
adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya,
berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola
perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan
lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan
kehidupan bermasyarakat.
Ada beberapa
pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara
lain sebagai berikut:
- Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
- alat-alat teknologi
- sistem ekonomi
- keluarga
- kekuasaan politik
- Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
- sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
- organisasi ekonomi
- alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
- organisasi kekuatan (politik)
2.3 Perubahan Sosial Budaya
Dalam teori HL blum tentang status ksehatan,maka
dijelaskan tentang beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan, antara
lain:
1.
lingkungan
yang terdiri dari lingkungan fisik,social budaya,ekonomi,prilaku,keturunan,dan
pelayanan kesehatan.
2.
Blum juga
menjelaskan,bahwa lingkungan sosial budaya tersebut tidak saja mempengaruhi
status kesehatan,tetapi juga mempengaruhi perilaku kesehatan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa
masyarakat Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa yang mempunyai latar
budaya yang beraneka ragam.lingkungan budaya tersebut sangat mepegaruhi tingkah
laku manusia yang memiliki budaya tersebut,sehingga dengan beranekaragam
budaya,menimbulkan variasi dalam perilaku manusia dalam segala hal, termasuk
dalam perilaku kesehatan.
Dengan masalah tersebut,maka petugas
kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dangan latar
budaya yang beraneka ragam, perlu sekali mengetahui budaya dan masyarakat yang
dilayaninya,agar pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat akan
memberikan hasil yang optimal,yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat.
Manusai adalah mahluk sosial yang
dalam kehidupannya tidak bisa hidup sendiri sehingga membentuk kesatuan hidup
yang dinamakan masyarakat.dengan definisi tersebut,Ternyata pengertian
masyarakat masih dirasakan luas dan abstrak sehingga untuk lebih konkretnya
maka ada beberapa unsur masyarakat,unsur masyarakat dikelompokan menjadi 2
bagian yaitu:
1.
kesatuan
sosial dan
2.
pranata
sosial.
Kesatuan sosial merupakan bentuk dan
susunan dari kesatuan-kesatuan individu yang berinteraksi dengan kehidupan
masyarakat.sedangkan yang dimaksud , pranata
sosial adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada
suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat. norma-norma tersebut
memberikan petunjuk bagi tingkah laku seseorang yang hidup dalam masyarakat.
Kebudayaan. dalam pengertian yang terbatas,banyak orang yang memberikan
definisi kebudayaan sebagai bangunan yang indah,candi,tari-tarian,seni suara
dan seni rupa.
Taylor memberikan definisi
kebudayaan sebagai keseluruhan yang komleks yang didalamnya terkandung ilmu
pengetahuan,kepercayaan dan kemampuan kesenian.moral hukam adat istiadat dan
kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota
masyarakat.sedangkan menurut Koentjaraningrat mendefinisikan bahwa kebudayaan
adalah seluruh kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata
kelakuan yang haus didapatkannya dengan belajar dan yang semuanya tesusun dalam
kehidupan masyarakat.
2.4 Aspek Sosial Budaya yang
Mempengaruhi Perilaku Kesehatan dan Status Kesehatan
Selanjutnya dijelaskan beberapa
aspek sosial budaya yang mempengaruhi perilaku kesehatan dan status
kesehatan.yang pertama yaitu:
1).umur
2).jenis kelamin
3).pekerjaan.
4).sosial ekonomi
jika dilihat dari aspek umur,maka
ada perbedaan golongan penyakit berdasarkan golongan umur.misalnya dikalangan
balita banyak yang menderita penyakit infeksi, sedangkanpada golongan dewasa
atau usia lanjut lebih banyak menderita penyakit kronis.demikian juga dengan
aspek golongan menurut jenis kelamin,dikalangan wanita lebih banyak menderit
kanker payudara,sedangkan pada pria,lebih
banyak menderita kanker prosat.begitu juga dengan jenis pekerjaan,dikalangan
petani lebih banyak menderita penyakit cacingan,karena aktifiasnya banyak
dilakukan disawah,sedangkan pada buruh tekstil lebih banyak menderita penyakit
salura pernafasan kaena banyak terpapar debu. keadaan sosial ekonomi juga
mempengaruhi pada pola penyakit,bahkan juga berpengaruh pada kematian, misalnya
angka kematian lebih tinggi pada golonga yang status ekonominya rendah
dibandingkan dengan status ekonominya tinggi. demikian juga obesitas lenih
ditemukan pada kalangan masyarakat dengan status ekonoinya tinggi.
Menurut H Ray Elling (1970) ada
beberapa faktor sosial yang berpengaruh pada perilaku kesehatan.antara lain :
1.self concept
2.image kelompok.
G.M foster menambahkan,bahwa identifikasi individu
kepada kelompoknya juga berpengaruh terhadap perilaku kesehatan.
A. Pengaruh
self concept
Kita ditentukan oleh tingkat
kepuasan atau tidak kepuasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri,terutama
bagaimana kita ingin memperlihatkan diri kita kepada orang lain,oleh karena
itu,secara tidak langsung self concept kita cenderung mementukan,apakah kita
akan menerima keadaan diri kita seperti adanya atau berusaha untuk mengubahnya.
Self concept adalah faktor yang
penting dalam kesehatan,karena mempengaruhi perilaku masyarakat dan juga
perilaku petugas kesehatan.
B. Pengaruh
image kelompok.
Image seseorang individu sangat
dipengaruhi oleh image kelompok.sebagai contoh,seorang anak dokter akan terpapar
oleh organisasi kedokteran dan orang-orang dengan pendidikan tinggi,sedangkan
anak petani tidak terpapar dengan lingkungan medis,dan besar kemungkinan juga
tidak becita-cita untuk menjadi dokter.
C. Pengaruh
identifikasi kelompok sosialnya terhadap perilaku kesehata.
Identifikasi kelompok kecilnya
sangat penting untuk memberikan keamanan psikologis dan kepuasan dalam
pekerjaan mereka.
2.5 Aspek budaya yang mempengaruhi status kesehatan
dan perilaku kesehatan
Menurut G.M foster(1973)Aspek budaya
yang dapat mempengaruhi kesehatan seseorang antaa lain adalah:
1.tradisi
2.sikap fatalism
3.nilai
4.ethnocentrisme
5.unsur budaya dipelajari pada
tingkat awal dalam proses sosialisasi.
A. Pengaruh
tradisi terhadap perilau kesehatan dan status kesehatan.
Ada beberapa tradisi dalam
masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan masyarakat,
misalnya di New Guinea, pernah terjadi wabah penyakit kuru.penyakit ini
menyerang susunan saraf otak dan penyebabnya adalah virus.penderita hamya
terbatas pada anak-anak dan wanita.setelah dilakukan penelitaian ternyata
penyakit ini menyebar karena adanya tadisi kanibalisme.
B. Pengaruh
sikap fatalism terhadap perilaku dan status kesehatan.
Hal ini adalah sikap fatalism yang
juga mempengaruhi perilaku kesehatan,beberapa anggota masyarakat di kalangan
kelompok yang beragama Islam percaya bahwa anak adalah ttipan Tuhan,dan sakit
atau mati itu adalah takdir,sehingga masyarakat kurang berusaha untuk mencari
pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit,atau menyelamatkan seseorang
dari kematian.
C. Pengaruh
sikap Ethnosentris terhadap perilaku dan status kesehatan
Sikap ethnosentrime adalah sikap
yang memandang bahwa kebudayaan sendiri yang paling baik jika dibandingkan
dengan kebudayaan pihak lain.misalnya orang-orang barat merasa bangga terhadap
kemajuan ilmu dan teknologi yang dimilikinya,dan selalu beranggapan bahwa
kebudayaannya paling maju,sehingga merasa superior terhadap budaya dari
masyarakat yang sedang berkembang. tetapi dari sisi lain,semua anggota dari
budaya lainnya menganggap bahwa yang dilakukan secar alamiah adalah yang
terbaik. Oleh karena itu,sebagai petugas kesehatan kita harus menghindari sikap
yang menganggap bahwa petugas adalah orang yang paling pandai,paling mengetahui
tentang masalah kesehatan karena pendidikan petugas lebih tinggi dari
pendidikan masyarakat setempat sehingga tidak perlu mengikut sertakan
masyarakat tersebut dalam masalah kesehatan masyarakat.dalam hal ini memang
petugas lebih menguasai tentang masalah kesehatan,tetapi masyarakat dimana
mereka bekerja lebih mengetahui keadaan di masyarakatnya sendiri.
D. Pengaruh
perasaan bangga pada statusya,terhadap perilaku kesehatan.
suatu perasaan bangga terhadap
budayannya berlaku bagi setiap orang.hal tersebut berkaitan dengan sikap
ethnosentrisme.
E. Pengaruh
norma terhadap perilaku kesehatan.
Seperti halnya dengan rasa bangga
terhadap statusnya,norma dimasyarakat sangat mempengaruhi perilaku kesehatan
dari anggota masyarakatnya yang mendukung norma tersebut. sebagai contoh,untuk
menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan karena adanya
norma yang melarang hubungan antara dokter sebagai pemberi layanan dengan ibu
hamil sebagai pengguna layanan
F. Pengaruh
nilai terhadap perilaku kesehatan
Nilai yang berlaku dalam masyarakat berpengaruh
terhadap perilaku kesehatan.nilai-nilai tersebut ada yang menunjang dan ada
yang merugikan kesehata.beberapa nilai yang merugikan kesehatan misalnya adalah
penilaian yang tinggi terhadap beras putih meskipun masyarakat mengetahiu bahwa
beras merah lebih banyak mengandung vitamin B1 jika dibandingkan dengan beras
putih,masyarakat ini memberikan nilai bahwa beras putih lebih enak dan lebih
bersih.
Contoh lain adalah masih banyak
petugas kesehatan yang merokok meskipun mereka mengetahui bagaimana bahaya
merokok terhadap kesehatan.
G. Pengaruh
unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi terhadap
perilaku kesehatan
Pada tingkat awal proses
sosialisasi,seorang anak diajakan antara lain bagaimana cara makan,bahan
makanan apa yang dimakan,cara buang air kecil dan besar,dan lain-lain.
kebiasaan tersebut terus dilakukan sampai anak tersebut dewasa dan bahkan
menjadi tua.kebiasaan tersebut sangat mempngaruhi perilaku kesehatan yang
sangat sulit untuk diubah.
H. Pengaruh
konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku kesehatan
Tidak ada perubahan yang terjadi
dalam isolasi,atau dengan perkataan lain,suatu perubahan akan menghasilkan
perubahan yang kedua dan perubahan yang ketiga.apabila seorang pendidik
kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan masyarakat,maka yang
harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika melakukan
perubahan,menganalisis faktor-faktor yang terlibat/berpengaruh terhadap
perubahan,dan berusaha untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan
perubahan tersebutapabila ia tahu budaya masyarakat setempat dan apabila ia
tahu tentang proses perubahan kebudayaan,maka ia harus dapat mengantisipasi
reaksi yang muncul yang mempengaruhi outcome dari perubahan yang telah
direncanakan.
2.6 PERUBAHAN
SOSIAL BUDAYA
- Karena perilaku dipengaruhi budaya, maka untuk merubah perilaku juga harus dirubah budayanya
- Bentuk perubahan sosial budaya:
- Perubahan yang terjadi secara lambat dan cepat
- Perubahan yang pengaruhnya kecil dan yang pengaruhnya besar
- Perubahan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan
- Perubahan kebudayaan yang terjadi dalam jangka waktu pendek disebut inovasi
- Syarat inovasi:
- Masyarakat merasa membutuhkan perubahan
- Perubahan harus dipahami dan dikuasi masyarakat
- Perubahan dapat diajarkan
- Perubahan memberikan keuntungan di masa yang akan datang
- Perubahan tidak merusak prestise pribadi dan kelompok
Penyebab perubahan tidak meluas:
- Pengguna perubahan baru mendapat suatu hukuman
- Penemuan baru sulit diintegrasikan ke dalam pola kebudayaan yang ada
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Untuk
mencapai status kesehatan yang baik, baik fisik, mental maupun kesejahteraan
sosial, setiap individu atau kelompok harus mampu mengidentifikasi setiap
aspirasi, untuk memenuhi kebutuhan, dan mengubah atau mengantisipasi keadaan
lingkungan agar menjadi lebih baik. Kesehatan, sebagai sumber kehidupan
sehari-hari, bukan sekedar tujuan hidup. Kesehatan merupakan konsep yang
positif yang menekankan pada sumber-sumber social, budaya dan personal. Dengan
teori Blum ini kita dapat memperbaiki kondisi lingkungan yang buruk, dan juga
hal-hal yang dapat mempengaruhi status kesehatan. Seperti dengan cara
memperbaiki 4 aspek utama kesehatan, yaitu genetik, lingkungan, perilaku
dan pelayanan kesehatan.
3.2 Saran
Melihat
kondisi kesehatan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, maka perlu peran
aktif semua pihak dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat,.Penyedia
layanan kesehatan, masyarakat, pemerintah dan perusahaan perlu menjabarkan peta
jalan pengembangan kesehatan masyarakat secara terpadu dan
berkelanjutan.,Dibutuhkan kerjasama dalam merumuskan dan mengembangkan program
kesehatan masyarakat sesuai karakteristik daerah setempat sehingga tahap
perubahan menuju masyarakat sehat dalam pengelolaan kesehatan masyarakat
menjadi bagian kesadaran dan pengetahuan masyarakat dan pada akhirnya memiliki self
belonging bahwa kesehatan merupakan milik dan tanggung jawab bersama.
Selain itu, pola penyegaran, pembinaan, pemberdayaan dan penguatan jaringan
organisasi Puskesmas, Poskesdes, Posyandu, UKS/UKGS dan PMR sangatlah penting
didalam mengembangkan sistem kesehatan masyarakat dengan tujuan menuju
masyarakat sehat dan sejalan dengan melibatkan masyarakat semaksimal mungkin.
Dengan partisipasi semaksimal mungkin dari organisasi aktif yang berada di
masyarakat seperti Kader Posyandu, PKK, Taruna Karya, Pramuka, Sarjana Penggerak
Pedesaan dan organisasi lainnya serta didukung oleh MUSPIDA setempat.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Notoatmodjo,
2005, Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta, Rineka Cipta
2. Fisher,
Augrey, 1986, Theories of Communication (Terjemahan Soejono Trimo), Bandung,
Remaja Karya
3. Green, 1980,
Health Education Planning, A Diagnostic Approach, The John Hopkins University,
Maryland, Mayfield Publishing Company
4. Koentjaraningrat,
1996, Pengantar Anthropologi
5. Elling,
Socio Cultural Influences On Health and Health Care
6. Foster,
1973, Traditional Societes in Technological Change
7.
Elling,Ray,H,socio
cultural influences on health and helth care
8.
Foster,G,M,
traditional societes in technological change,1973.Loentjaraningrat,pengantar
anthropologi,1996
9.
Kresno,sudarti,dkk.pencarian
pertolongan pengobatan bagi anak balita dengan diare di Jakarta
utara,1996
10. Notoatmodjo,Soekidjo,promosi
kesehatan teori dan aplikasi,edisi revisi,rineka cipta,Jakarta,2010
No comments:
Post a Comment